Tertahan di Resistance dan Gagal Tembus MA 200, IHSG Mulai Bergerak Turun. What Next?

Bursa Wall Street melanjutkan penurunan pada penutupan perdagangan akhir pekan, setelah investor kembali melepas saham-saham teknologi papan atas seperti Microsoft, Amazon, Alphabet dan Facebook. Aksi jual terhadap sejumlah saham teknologi terus terjadi karena kekhawatiran investor tentang valuasinya yang tinggi serta pemulihan ekonomi yang tidak merata. Laporan ketenagakerjaan AS yang membaik gagal menahan penurunan Wall Street. Departemen Tenaga Kerja AS menyebutkan data tingkat pengangguran bulan Agustus berhasil turun menjadi 8,4% dari 10,2% di bulan sebelumnya. Sementara data upah non pertanian juga meningkat, namun angkanya kurang dari yang diharapkan bulan lalu. Dow Jones ditutup turun 159,42 poin (-0,56%) ke level 28.133,31, S&P 500 kehilangan 28,1 poin (-0,81%) menjadi 3.426,96 dan Nasdaq melemah 144,97 poin (-1,27%) menjadi 11.313,13. Dalam sepekan ketiga indeks utama saham AS mengalami penurunan, dengan Dow Jones melemah -1,82%, S&P 500 anjlok -2,31% dan Nasdaq merosot -3,27%.

Dari dalam negeri, IHSG ditutup melemah 40,962 poin (-0.78%) ke level 5,239,851 pada akhir pekan. Investor asing masih membukukan net sell di pasar reguler sebesar Rp 959 miliar. Sepanjang minggu lalu, kinerja IHSG berakhir turun -2% dengan diikuti keluarnya dana asing sebesar Rp 4,66 triliun di pasar reguler.

Setelah menguat dalam 3 pekan berturut-turut, pada pekan lalu IHSG akhirnya berakhir turun. Penurunan IHSG disebabkan oleh beberapa faktor baik dari dalam maupun luar negeri. Dari dalam negeri, isu resesi pada kuartal III-2020 akibat lambatnya pemulihan ekonomi nasional, serta jumlah kasus baru Covid-19 yang masih meningkat tinggi dan mencetak rekor karena lambatnya penanganan Korona di Indonesia, menjadi sentimen negatif yang menekan laju IHSG. Selain itu capital outflow yang cukup besar dan melemahnya nilai tukar rupiah turut membebani IHSG. Sementara dari luar negeri, turunnya bursa saham global dan adanya rebalancing pada indeks MSCI, menjadi faktor penyebab IHSG berakhir melemah pada pekan lalu.

Sesuai ulasan pada pekan sebelumnya, laju IHSG tertahan di resistance uptrend channel dan juga resistance garis MA 200 harian. Meski IHSG terkoreksi pada minggu lalu, namun secara teknikal masih berada dalam trend naik seperti yang terlihat pada chart dibawah ini. Penurunan IHSG tertahan tepat di garis support uptrend yang terbentuk sejak rebound dan mengalami reli naik pada akhir maret lalu. Indikator teknikal Stochastic yang bergerak turun, mengindikasikan kecenderungan IHSG masih ada potensi bergerak melemah. Untuk minggu ini IHSG diperkirakan akan bergerak di rentang kisaran support 5.188 dan resistance di level 5.337. Apabila support 5.188 gagal dipertahankan, maka IHSG akan membentuk pola lower low dan berpeluang melanjutkan pelemahan dalam jangka pendek menguji support psikologis 5000.

Untuk minggu ini, pelaku pasar akan mencermati rilis data cadangan devisa akhir Agustus pada awal pekan besok. Sedangkan pada hari selasa akan dirilis indeks keyakinan konsumen (IKK) bulan Agustus, serta penjualan retail bulan Juli 2020 pada hari rabu. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pekan ini antara lain :

  • Selasa 8 September 2020 : Rilis data GDP Jepang, Rilis data NAB Keyakinan Bisnis Australia, Rilis data GDP Zona euro
  • Rabu 9 September 2020 : Rilis data inflasi China
  • Kamis 10 September 2020 : Kebijakan moneter dan suku bunga Eropa (ECB), Konferensi pers ECB
  • Jum’at 11 September 2020 : Rilis data perdagangan Inggris, Eurogroup meetings, Rilis data inflasi AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Kemungkinan minggu ini IHSG berpeluang bergerak variatif dalam pola konsolidasi dengan kecenderungan melemah terbatas. Perhatikan level support 5.118, waspada jika tembus ke bawah maka IHSG akan membentuk pola lower low dan berpeluang melanjutkan pelemahannya dalam jangka pendek.

Untuk itu disarankan tetap safe trading dan selalu waspada, apabila kondisi pasar kembali menjadi tidak kondusif dan market mengalami ketidakpastian lagi. Selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca pandemi Covid-19. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*