Masih Uptrend, IHSG Berpotensi Alami Konsolidasi Sehat

Consolidate Word Combining Companies Consolidation Organization

Bursa Wall Street berakhir di zona merah pada perdagangan akhir pekan. Pasar mendapat sentimen negatif dari rilis data penjualan ritel Desember yang turun 0,7%, lebih jauh dari yang diharapkan meskipun ada belanja liburan. Kondisi ini disebabkan karena konsumen dan bisnis masih berjuang di tengah pandemi corona. Saham sektor energi turun tajam karena penyelidikan terhadap Exxon Mobil Corp, setelah adanya laporan yang menyebutkan bahwa Komisi Sekuritas dan Bursa AS meluncurkan penyelidikan terhadap perusahaan minyak tersebut, menyusul keluhan pelapor bahwa mereka menilai terlalu tinggi aset utama di cekungan minyak serpih Permian yang produktif. Disisi lain penurunan saham bank-bank besar AS meski melaporkan kenaikan pendapatan, turut membebani pasar. Dow Jones turun 177,26 poin (-0,57%) menjadi 30.814,26, S&P 500 kehilangan 27,29 poin (-0,72%) menjadi 3.768,25 dan Nasdaq melemah 114,14 poin (-0,87%) menjadi 12.998,50. Dalam sepekan ketiga indeks bursa saham utama AS melemah dengan Dow Jones kehilangan -0,91%, S&P 500 turun -1,48% dan Nasdaq melemah -1,54%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup turun 54,903 poin (-0,85%) ke posisi 6.373,412 pada perdagangan akhir pekan. Investor asing membukukan net sell sebesar Rp 128 miliar di pasar reguler. Meski melemah, namun sepanjang pekan lalu IHSG berhasil menguat +1,85% dengan diikuti oleh net buy asing di pasar reguler sebesar Rp 4,89 triliun.

IHSG melanjutkan kenaikannya untuk pekan ke-2 berturut-turut di awal perdagangan tahun 2021 ini. Pasar saham Indonesia mendapatkan dorongan dari sentimen positif dimulainya program vaksinasi Covid-19 secara nasional, setelah Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang menerima vaksin Sinovac produk buatan China. Pelaku pasar juga mengapresiasi komitmen pemerintah dalam mengimplementasikan Omnibus Law termasuk pembentukan Indonesia Investment Authority. IHSG juga mendapatkan dorongan dari kenaikan harga komoditas. Sementara kabar dari stimulus fiskal bernilai jumbo di AS turut menjadi katalis positif yang mengerek harga aset-aset ekuitas emerging market termasuk IHSG. Kondisi ini memicu investor asing masuk ke pasar saham Indonesia.

Secara teknikal IHSG masih bergerak naik didalam uptrend channelnya, meski dalam dua hari terakhir bergerak turun. Pelemahan ini adalah koreksi wajar setelah IHSG terus mengalami reli kenaikan dan selama masih bertahan di dalam uptrend channelnya. Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan akan berkonsolidasi dengan kecenderungan melemah terbatas. Diproyeksikan koreksi ini akan tertahan diarea support gap bawah dikisaran 6158-6190. Ini merupakan area support kuat IHSG bagi saat ini, karena ada garis rata-rata harian MA 20 dikisaran 6170 dan juga support dari uptrend channelnya. Sementara untuk resistance terdekat IHSG berada di 6472, dengan resistance selanjutnya di level 6.581.

Untuk minggu ini pelaku pasar akan mencermati pertemuan Dewan Gubernur BI yang diperkirakan akan menahan suku bunga acuan tetap di level 3,75% pada hari kamis. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di pekan ini antara lain adalah :

  • Senin 18 Januari 2021 : Rilis data GDP China
  • Rabu 20 Januari 2021 : Rilis indeks keyakinan konsumen Australia, Rilis data inflasi Inggris, Pidato Presiden terpilih AS Biden
  • Kamis 21 Januari 2021 : Rilis data perdagangan Jepang, Rilis data pekerjaan Australia, Kebijakan moneter Jepang, Kebijakan Moneter dan Pernyataan ECB, Pernyataan Gubernur BOE Bailey
  • Jum’at 22 Januari 2021 : Rilis data inflasi Jepang, Rilis data manufaktur zona eropa

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Walaupun IHSG masih bergerak dalam trend naik, tetapi ada potensi untuk mengalami konsolidasi dengan kecenderungan melemah terbatas dalam jangka pendek. IHSG berpeluang turun menuju area kisaran gap bawah yang terbentuk saat indeks breakout sebelumnya di 6158-6190. Selama masih bergerak di dalam uptrend channelnya dan berada di atas garis MA 20 hariannya, maka koreksi yang dialami oleh IHSG masih tergolong koreksi wajar dan sehat.

Tetap disarankan untuk safe trading dan selalu waspada, serta kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca berakhirnya pandemi Covid-19 nanti. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/