Turun 7 Hari Beruntun, IHSG How Low Can You Go?

Bursa saham AS melemah tajam pada penutupan perdagangan akhir pekan, setelah investor mencermati hasil uji coba vaksin virus COVID-19 dari Johnson & Johnson yang tingkat efektivitasnya secara global hanya 66%. Di sisi lain, terjadi perseteruannya antara hedge fund dan investor ritel, setelah sejumlah investor ritel kembali memperdagangkan saham seperti GameStop Corp dan Koss Corp, yang melonjak lebih tinggi dan mengakibatkan volatilitas Wall Street. Pelaku pasar telah berspekulasi bahwa volatilitas yang disebabkan oleh tekanan jangka pendek menyebabkan saham favorit investor termasuk Apple Inc berada di bawah tekanan karena hedge fund memilih untuk menjual guna menutupi kerugian miliaran dolar. Komisi Sekuritas dan Bursa AS mengatakan sedang memantau dengan cermat setiap potensi kesalahan, baik untuk pialang maupun investor yang digerakkan media sosial. Dow Jones ditutup anjlok 620,74 poin (-2,03%) ke level 29.982,62, S&P 500 merosot 73,14 poin (-1,93%) menjadi 3.714,24 dan Nasdaq melorot 266,46 poin (-2%) ke posisi 13.070,69 Sepanjang minggu lalu ketiga indeks bursa saham utama AS tertekan, dengan Dow Jones turun -3,27%, S&P 500 melorot -3,31% dan Nasdaq anjlok -3,49%. Dan untuk sepanjang bulan Januari Dow Jones tercatat turun -2,04%, S&P 500 melemah -1,12% dan Nasdaq menguat +1,42%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup turun -117,035 poin (-1,96%) ke level 5.862,352 di akhir pekan. Investor asing membukukan net sell sebesar Rp 812 miliar di pasar reguler. Dalam sepekan IHSG anjlok parah -7,05% setelah terus menerus bergerak di zona merah tanpa sekalipun naik, ditengah investor asing yang membukukan penjualan bersih di pasar reguler senilai Rp 347 miliar.

Banyaknya sentimen negatif mulai dari perpanjangan PPKM di kota-kota utama di Jawa dan Bali hingga 8 Februari 2021 mendatang, kasus positif virus COVID-19 di Indonesia yang menembus angka 1 juta lebih kasus, dan pelemahan bursa saham global menjadi pemberat IHSG terus mengalami takanan sepanjang pekan lalu. Kondisi ini ditambah dengan kepanikan pelaku pasar sendiri, khususnya investor ritel setelah banyak saham dengan nilai perdagangan tinggi yang anjlok ke batas level terendah harian atau auto rejection bawah (ARB). Hal ini terjadi akibat aturan ARB asimetris yang diterapkan oleh bursa, di mana batasan kenaikan maksimal (ARA) bisa mencapai 35%, namun koreksi hanya dibatasi 7% sehingga apabila saham sudah melesat kencang maka akan terkoreksi di level ARB selama beberapa hari. Kondisi ini diperparah oleh faktor psikologis yang juga memicu aksi jual trader dimana jika saham sudah anjlok 5%-6%, para trader buru-buru melakukan aksi jual di level ARB agar dana tidak menyangkut karena kekhawatiran potensi terjadinya koreksi di keesokan hari sangatlah tinggi, sehingga anjloknya saham hingga titik terendah lebih cepat terjadi. Belum lagi apabila investor melakukan pembelian menggunakan fasilitas margin, jika tidak dapat menutupi rasio kecukupan asetnya akan terkena margin call, yang membuat sekuritas terpaksa melakukan jual paksa alias forced sell. Hal ini menyebabkan efek domino berkelanjutan yang membuat IHSG terus turun dan kesulitan untuk bangkit.

Pasca mengkonfirmasi terbentuknya pola bearish double top, IHSG terjun bebas setelah turun selama 7 hari berturut-turut. Jika dihitung dari level puncaknya di 6.504, koreksi yang dialami oleh IHSG sudah hampir mencapai penurunan sebesar -10% dalam 7 hari terakhir. Secara teknikal, penurunan IHSG saat ini untuk sementara tertahan dikisaran support yang dulunya merupakan area resistance sebelum di break out (garis uptrend warna hitam). Penurunan IHSG akhir pekan lalu juga telah berhasil menutup gap dikisaran 5.823-5.854. Terdapat support di 5.853 yang untuk sementara ini menahan koreksi IHSG. Kita lihat apakah support ini berhasil menahan koreksi IHSG ataukah akan dilanjutkan penurunannya.

Apabila lanjut turun dan breakdown dari support 5.853, maka IHSG berpotensi menguji support berikutnya di level 5.563 yang juga merupakan area kisaran dari garis MA 100 hariannya. Sedangkan jika mampu rebound dari 5.853, ada potensi bagi IHSG untuk menguat terbatas ke level 6.166.  

Minggu ini seperti biasa di awal bulan, pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi dan manufaktur bulan Januari di hari senin. Sedangkan pada hari jum’at data yang ditunggu adalah rilis pertumbuhan ekonomi kuartal ke-4 tahun lalu atau GDP keseluruhan tahun 2020. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di pekan ini antara lain adalah :   

  • Senin 1 Februari 2021 : Rilis data Caixin manufaktur China, Rilis data manufaktur AS
  • Selasa 2 Februari 2021 : Kebijakan suku bunga Australia
  • Kamis 4 Februari 2021 : Rilis data perdagangan Australia, Kebijakan moneter dan suku bunga Inggris
  • Jum’at 5 Februari 2021 : Pernyataan Gubernur RBA Lowe, Pernyataan Gubernur BOE Bailey, Rilis data perdagangan dan pekerjaan AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG masih bergerak dalam tren turun dan belum terlihat ada tanda-tanda pembalikan arah. Meski demikian, jika dilihat dari penurunan selama 7 hari kerja berturut-turut dan sudah hampir mencapai -10% dari level tertingginya 6.505 tanpa ada jeda sehari pun, maka pelemahan ini seharusnya sudah mulai terbatas dalam jangka pendek dan ada potensi untuk terjadinya teknikal rebound sesaat. Kita lihat saja nanti, ada di level berapa penurunan ini akan berhenti dan IHSG mulai mengalami teknikal rebound.

Tetap disarankan untuk safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi terus-menerus dan massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah setelah pandemi COVID-19 nanti berakhir. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/