Konsolidasi IHSG Masih Berlanjut Di Area 6167-6394

Bursa Wall Street bergerak mixed cenderung tertekan pada perdagangan akhir pekan, setelah The Fed menyampaikan tidak akan memperpanjang relaksasi permodalan bagi bank-bank yang terdampak pandemi Covid-19 yang memicu aksi jual saham-saham dari sektor keuangan dan meningkatnya imbal hasil obligasi AS. Saham bank dijual serentak dan imbal hasil obligasi 10-tahun memantul dari posisi terendahnya sebelum bergerak mendatar di level 1,73% menyusul keputusan The Fed tersebut. Dow Jones turun 234,33 poin (-0,71%) ke level 32.627,97 dan S&P 500 melemah tipis 2,36 poin (-0,06%) menjadi 3.913,10. Sedangkan Nasdaq berhasil naik 99,07 poin (+0,76%) ke posisi 13.215,24 didorong oleh kenaikan saham Facebook, Amazon dan Netflix. Dalam sepekan ketiga indeks bursa saham utama AS berakhir turun dengan Dow Jones kehilangan -0,46%, S&P 500 melemah -0,77% dan Nasdaq berkurang -0,79% untuk minggu ini.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup menguat tipis 8,331 poin (+0,13%) ke level 6.356,16 pada akhir pekan. Investor asing membukukan net buy sebesar Rp 479 miliar di pasar reguler. Dalam sepekan, IHSG turun tipis -0,03% meski investor asing melakukan aksi beli bersih senilai Rp 978 miliar di pasar reguler.

Sepanjang pekan lalu, IHSG cenderung mengalami tekanan walaupun pada akhirnya hanya melemah tipis. Pergerakan IHSG sejalan dengan memerahnya mayoritas bursa saham utama regional dan global, meski The Fed dalam FOMC mengatakan tidak melihat kenaikan suku bunga hingga tahun 2023, sebelum memastikan pemulihan ekonomi AS secara penuh. Pelaku pasar masih terlihat berhati-hati dengan kenaikan yield US Treasury bertenor 10 tahun yang sempat melonjak di atas 1,75% pada sesi tertingginya kamis lalu, yang merupakan level tertinggi sejak Januari 2020. Lonjakan  yield  obligasi terjadi setelah The Fed menyatakan kerelaannya dengan memberikan toleransi untuk membiarkan peningkatan inflasi AS mencapai level 2% untuk beberapa waktu. Kondisi ini membuat investor melihat adanya ketidakpastian mengenai dampak dari kerangka kerja The Fed sehingga memicu aksi jual pada asset-aset beresiko tinggi seperti saham. 

Secara teknikal IHSG masih terlihat bergerak dalam pola konsolidasi yang lebar seperti ulasan pekan sebelumnya. IHSG masih bergerak sideways dengan support di level 6.167 dan resistance di level 6.394 pada pekan ini. Indikator teknikal MACD yang bergerak mendatar mengindikasikan bahwa IHSG masih dalam pola konsolidasi. Penembusan ke bawah level support atau ke atas level resistance akan mengakhiri pola konsolidasinya dan menentukan arah pergerakan IHSG selanjutmya.

Untuk minggu ini tidak ada data ekonomi penting dari dalam negeri yang akan dirilis. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar di pekan ini antara lain adalah :

  • Senin 22 Maret 2021 : Pernyataan Ketua The Fed Powell
  • Selasa 23 Maret 2021 : Rilis data pekerjaan Inggris, Pernyataan Gubernur BOE Bailey, Pernyataan Ketua The Fed Powell
  • Rabu 24 Maret 2021 : Rilis data inflasi Inggris, Rilis data manufaktur dan sektor jasa zona euro, Rilis data durable goods orders AS, Pernyataan Ketua The Fed Powell, Pernyataan Presiden ECB Lagarde
  • Kamis 25 Maret 2021 : Pernyataan Gubernur BOJ Kuroda, Pernyataan Presiden ECB Lagarde, Pernyataan Gubernur BOE Bailey, Rilis data GDP AS, Pernyataan para petinggi The Fed
  • Jum’at 26 Maret 2021 : KTT Ekonomi Uni Eropa

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG diperkirakan masih akan berkonsolidasi dalam pola sideways yang lebar dengan bergerak volatile. Pelaku pasar masih memonitor pergerakan yield US treasury dan pernyataan dari para petinggi bank sentral yang akan berbicara pada pekan ini terkait kenaikan imbal hasil obligasi global dan situasi serta kondisi perekonomiannya saat ini. Selain itu, rilis data-data makroekonomi dari beberapa negara, serta pembicaraan China-AS dan implikasinya pada hubungan kedua negara tersebut di masa depan turut akan mewarnai volatilitas pergerakan pasar di pekan ini.

Ditengah ketidakpastian kondisi pasar saat ini akibat mulai meningkatnya imbal hasil obligasi global, untuk itu disarankan safe trading dan selalu waspada, serta kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca berakhirnya pandemi Covid-19 nanti. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/