Menunggu Keputusan BI Rate, Bagaimana IHSG Akan Bergerak?

Bursa Wall Street ditutup bervariasi pada penutupan perdagangan akhir pekan. Dua indeks utama di bursa saham utama AS berhasil rebound dengan ditutup menguat. Indeks S&P 500 berhasil naik tipis 8,07 poin (+0,22%) ke level 3.674,84 dan Nasdaq bertambah 152,25 poin (+1,43%) menjadi 10.798,35. Sedangkan Dow Jones ditutup melemah 38,29 poin (-0,13%) menjadi 29.888,78. Dalam sepekan, ketiga indeks saham utama tersebut mencatatkan penurunan kinerja mingguan. Dow Jones ambles -4,79%, merupakan persentase penurunan mingguan terbesar sejak Oktober 2020. S&P 500 merosot -5,79% dan mengalami penurunan persentase mingguan terbesar sejak Maret 2020, yang merupakan puncak pertama pandemi Covid-19. Sedangkan Nasdaq mengalami kejatuhan -4,78% pada pekan lalu. Inflasi yang sangat tinggi menjadi sentimen negatif bagi pasar, setelah The Fed dan sebagian besar bank sentral utama telah mulai beralih dari kebijakan moneter yang longgar ke langkah-langkah pengetatan yang akan memperlambat ekonomi, dan mungkin menyebabkan resesi yang akhirnya berpotensi mengurangi pendapatan perusahaan.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup turun 113,359 poin (-1,61%) ke level 6.936,967 pada akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell senilai senilai Rp 1,29 triliun di pasar reguler.  Sepanjang pekan lalu IHSG bergerak melemah -2,11% dengan disertai keluarnya dana asing di pasar reguler sebesar Rp 2,03 triliun.

Penurunan IHSG pada pekan lalu searah dengan pelemahan pasar saham global, yang dipicu oleh keputusan The Fed mengerek suku bunga acuan sebesar 0,75% untuk meredam tingginya inflasi. Langkah The Fed tersebut memicu bank sentral besar global lainnya yang seakan berlomba menaikkan suku bunga. Seperti efek berantai, Bank Sentral Swiss dan Bank Sentral Inggris (BoE) turut menaikan suku bunga acuan sehingga menyalakan kekhawatiran bahwa upaya bank sentral untuk mengekang inflasi dapat menyebabkan pertumbuhan yang lebih lambat di seluruh dunia, sehingga dapat berakibat terjadinya resesi global.

Secara teknikal seperti ulasan pada pekan sebelumnya, IHSG mulai terlihat bergerak melemah dalam jangka pendek. Kegagalan IHSG bertahan diatas 7.056 telah mengkonfirmasi terbentuknya pola bearish reversal double top, sehingga berpeluang turun menuju kisaran area support 6.802-6.858 (kotak merah). Indikator teknikal MACD yang telah death cross, mengindikasikan bahwa IHSG mulai cenderung bergerak dalam momentum pergerakan yang negatif.

Technically, bullish scenario akan terjadi apabila IHSG mampu bertahan diatas support 6.802-6.858 dan mampu rebound bergerak menguat menutup gap atas terdekat dikisaran 6.999-7.025, dengan area resistance pekan ini berada di level 7.134. Sedangkan bearish scenario terjadi jika tekanan jual berlanjut, maka terbuka ruang bagi pelemahan IHSG menguji area support 6.509 kembali, dengan minor support di area garis MA 200 day di level 6.692.

Untuk minggu ini pelaku pasar akan mencermati RDG BI pada hari kamis. Seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang semakin mendekati level psikologis 15.000/US$, maka BI diperkirakan akan menaikan suku bunga sebesar 25 bps mengikuti kenaikan fed rate pada pekan lalu. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di minggu ini antara lain adalah :

  • Selasa 21 Juni 2022 : Pertemuan Bank Sentral RBA Australia dan pernyataan Gubernur RBA Lowe
  • Rabu 22 Juni 2022 : Kebijakan moneter BOJ Jepang, Rilis data inflasi Inggris, Komentar Ketua The Fed Powell
  • Kamis 23 Juni 2022 : Rilis data PMI manunfaktur Jerman, Rilis data PMI manufaktur Inggris, Komentar Ketua The Fed Powell
  • Jum’at 24 Mei 2022 : Rilis data inflasi Jepang, Rilis data penjualan ritel Inggris

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Pasar saham Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatile cenderung melemah, terkena sentimen risk off global akibat kekhawatiran akan terjadinya resesi dunia, di tengah tren kenaikan suku bunga acuan global. BI diperkirakan akan bersikap hawkish mengikuti langkah bank sentral global dengan menaikan BI rate sebesar 25 bps pada pertemuan tengah pekan nanti. Kenaikan 50 bps akan membuat IHSG tertekan dan bergerak turun.

Untuk itu disarankan safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya dengan baik.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/