IHSG Menunggu Keputusan The Fed, What Next?

Bursa Wall Street ditutup ke zona merah pada perdagangan akhir pekan karena pendapatan mengecewakan dari Snap Inc. membuat harga saham media sosial dan perusahaan teknologi lainnya turun. Snapchat Inc. membukukan pertumbuhan penjualan kuartalan terlemahnya sebagai perusahaan publik dan menyebabkan harga sahamnya jatuh sekitar -39,1%. Perusahaan online lain yang sangat bergantung pada iklan, seperti raksasa teknologi Meta Platforms Inc dan Alphabet Inc ikut-ikutan turun dan masing-masing merosot -7,6% dan -5,6%, sehingga membebani indeks Nasdaq. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi AS juga membebani sentimen setelah rilis data ekonomi yang lebih suram. Pembacaan awal pada indeks output Komposit PMI AS, yang melacak aktivitas di seluruh sektor jasa dan manufaktur turun ke level terendah dalam lebih dari 2 tahun menjadi 47,5, sehingga menunjukkan output ekonomi yang berkontraksi.

Dow Jones ditutup melemah 137,61 poin (-0,43%) menjadi 31.899,29, S&P 500 turun 37,32 poin (-0,93%) menjadi 3.961,63 dan Nasdaq anjlok 225,50 poin (-1,87%) ke level 11.834,11. Meski menutup perdagangan akhir pekan dengan pelemahan, namun ketiga indeks bursa saham utama AS berhasil membukukan kenaikan mingguan. Dow Jones ditutup naik +1,95%, S&P 500 menguat +2,55% dan Nasdaq melonjak +3,33% dalam sepekan.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup naik 22,831 poin (+0,33%) ke posisi 6.886,962 pada akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell di pasar reguler senilai Rp. 470 milyar. Dalam sepekan terakhir, IHSG berhasil melesat +3,53%, dengan diikuti oleh masuknya dana asing sebesar Rp. 702 milyar di pasar reguler.

Setelah turun 3 pekan berturut-turut, pasar saham Indonesia akhirnya berhasil rebound dan ditutup menguat cukup signifikan pada minggu lalu. Penguatan IHSG sejalan dengan bursa saham di dunia ditopang oleh laporan keuangan emiten di AS yang lebih baik dari perkiraan dan melandainya indeks dolar AS. Di sisi lain, keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuannya di level terendah 3,5% sesuai perkiraan pasar, dan sudah bertahan selama 18 bulan berturut-turut, menjadi katalis positif untuk IHSG. BI menilai belum ada urgensi untuk menaikkan suku bunga acuannya karena inflasi inti yang berada di level 2,63% masih berada di kisaran target BI di 2%-4%.

Secara teknikal IHSG telah keluar dari fase konsolidasi jangka pendeknya setelah berhasil naik dan menembus keatas garis psikologis MA 200 hariannya, sehingga berpeluang menguat dalam jangka pendek. Namun sayang kenaikan IHSG pada tengah pekan lalu meninggalkan gap dikisaran 6.740-6.778, sehingga ada potensi gap tersebut akan ditutup apabila terjadi koreksi. Indikator teknikal MACD yang mulai bergerak naik mengindikasikan bahwa pergerakan IHSG berada dalam momentum positif dalam jangka pendek. 

Untuk pekan ini IHSG diproyeksikan akan mencoba bertahan di atas support gap 6.740-6.778. Apabila bertahan dan mampu naik menembus ke atas level psikologis 6.900, maka IHSG akan melanjutkan reboundnya dengan bergerak naik menuju kisaran resistance di level psikologis 7.000 hingga 7.060. Namun jika support gap 6.740 gagal dipertahankan, maka IHSG berpeluang kembali turun menuju area support dikisaran 6.600-6.640.

Minggu ini tidak ada data ekonomi penting dari dalam negeri yang dirilis. Pelaku pasar mulai mencermati rilis laporan keuangan emiten kuartal kedua yang akan segera dirilis dan diperkirakan dapat mempengaruhi pergerakan saham emiten yang bersangkutan. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di minggu ini antara lain adalah :

  • Selasa 26 Juli 2022 : Rilis data penjualan rumah dan keyakinan konsumen AS
  • Rabu 27 Juli 2022 : Rilis data inflasi Australia, Rilis data durable goods orders AS, Kebijakan suku bunga The Fed
  • Kamis 28 Juli 2022 : Rilis data inflasi Jerman, rilis data GDP AS
  • Jum’at 29 Juli 2022 : Rilis data GDP negara euro zone, Rilis data PCE Price Index AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Pergerakan pasar saham global untuk pekan ini akan ditentukan oleh hasil keputusan kebijakan moneter The Fed yang akan dirilis pada  tanggal 27 Juli 2022 waktu setempat. Pasar memprediksikan bahwa The Fed akan kembali agresif untuk menaikkan suku bunga acuannya hingga 75-100 bps untuk meredam angka inflasi AS yang kembali melonjak. Inflasi per Juni 2022 melesat ke angka 9,1% dan menjadi angka inflasi terbesar sejak 4 dekade lalu. Apabila The Fed menaikan suku bunga diatas 75 bps maka peluang terjadinya koreksi bursa saham global akan kembali terbuka. Selain itu pergerakan IHSG juga akan ditentukan oleh pergerakan harga komoditas dan nilai tukar rupiah pasca ditahannya suku bunga oleh BI.

Mengingat market yang masih belum terlalu stabil, maka tetap disarankan untuk selalu safe trading. Tetap kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya dengan baik.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/