Sentimen Positif Regional Menjadi Katalis Kenaikan IHSG

Wall Street AS kembali bergerak menguat dan mencetak rekor baru setelah China secara mengejutkan menurunkan suku bunganya untuk pertama kalinya sejak Juli 2012 guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang kendur. Dow Jones menguat 91,06 poin (+0,51%) ke level 17.810,06, S&P 500 naik 10,75 poin (+0,52%) ditutup di 2.063,50, dan Nasdaq naik 11,10 (+0,24%) menjadi 4.712,97. Kenaikan ini membuat Bursa Saham AS mencatatkan kenaikan selama 5 pekan berturut-turut. Dalam sepekan, Dow Jones tercatat menguat +1%, sedangkan S&P 500 naik +1,2%.

Sementara itu dari dalam negeri, sentimen positif regional menjadi pemicu kenaikan IHSG sebesar 18,479 poin (+0,36%) ke level 5.112,045 pada hari jum’at lalu. Pemodal asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp. 163 milyar di pasar reguler. Sepanjang pekan kemaren pergerakan IHSG diwarnai oleh kenaikan BBM subsidi dan naiknya BI Rate serta sentimen regional. IHSG tercatat mengalami kenaikan +1,24% disertai dengan aliran dana asing yang masuk sebesar Rp. 82 milyar sepanjang pekan kemaren.

Setelah selama 1,5 bulan terakhir IHSG hanya bergerak di kisaran 4.900-5.100, akibat ketidakjelasan kenaikan BBM subsidi.. IHSG akhirnya dapat keluar dari konsolidasinya pasca Presiden Jokowi memastikan kenaikan BBM subsidi sebesar Rp 2000/liter yang dimulai sejak tanggal 18 November lalu. Kenaikan BBM subsidi yang langsung diikuti oleh kenaikan BI Rate sehari setelahnya sebesar 25 bps ternyata direspon positif oleh pelaku pasar dan sempat membuat IHSG naik ke level 5140. Padahal dari history-nya kenaikan BBM dan BI Rate biasanya selalu membuat market turun. Namun hal itu tidak terjadi kali ini… sepertinya pelaku pasar telah menyadari bahwa subsidi BBM sebagai salah satu faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia terganggu karena membuat neraca perdagangan Indonesia defisit.

“Dalam jangka panjang naiknya BBM subsidi akan sangat positif bagi perekonomian Indonesia”

Langkah ini dapat menghemat sekitar Rp 100-140 triliun, yang bisa dipergunakan untuk anggaran belanja ke sektor yang lebih produktif seperti infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dll guna menghasilkan anggaran belanja yang lebih bermanfaat bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.. yang ujung-ujungnya akan membuat ekonomi tumbuh lebih baik dalam jangka panjang.

Namun satu hal yang harus diterima.. kenaikan harga BBM dan BI Rate memiliki dampak negatif karena akan membuat inflasi melesat, sehingga akan memukul perekonomian dari sisi biaya yang meningkat, serta daya beli masyarakat akan turun dan mempengaruhi kinerja perusahaan hingga menyebabkan turunnya laba bersih. Akan tetapi efek tersebut diperkirakan hanya temporary/jangka pendek saja.

 

Lalu bagaimana dengan IHSG? Apakah IHSG akan turun dulu baru kemudian akan naik lagi untuk mengalami rally-nya?

Well… saat ini ada 2 pendapat yang berbeda di market. Yang pertama mengatakan bahwa IHSG berpotensi untuk turun dulu ke 4800-4600 baru kemudian akan bergerak naik untuk rally hingga tahun depan menuju 6000. Sedangkan pendapat kedua adalah IHSG akan naik terus karena efek sentimen window dressing, dengan menembus level all time high di 5262 dan mencetak rekor baru dengan target di 5350 pada akhir tahun ini. Baru setelah itu akan mengalami profit taking di awal tahun depan ketika emiten mengeluarkan kinerja laporan keuangan Q4-2014 yang melambat akibat efek kenaikan BBM subsidi.

Saya sendiri berpikir kemungkinan yang kedua akan lebih besar terjadi. Alasannya ya itu tadi.. window dressing. Selama 10 tahun kebelakang, 2 bulan terakhir menjelang akhir tahun selalu terjadi kenaikan pada IHSG. Alasan kuat lainnya adalah Faktor Global yang masih mendukung. Bank sentral negara-negara besar masih mempertahankan suku bunga di level rendah dan menambah stimulus untuk menjaga target pertumbuhannya. Setelah 3 pekan lalu Jepang menambah stimulus dan kemudian diikuti oleh ECB yang memperluas langkah-langkah stimulusnya, akhir pekan kemaren giliran China mengeluarkan stimulus dengan memangkas suku bunga. Hal ini tentu menjadi faktor positif bagi market global, ditengah berkurangnya ancaman kenaikan suku bunga Fed Fund Rate yang belum ada kepastiannya.

Diluar perkiraan itu semua dan sebagai pelaku pasar modal, terutama seorang trader kita menganalisa dari sisi teknikal. Seperti saya katakan pada pekan lalu, jika mampu menembus keatas MA 50 nya maka IHSG akan mengakhiri konsolidasinya dengan bergerak naik. Untuk pekan depan, ada kemungkinan besar IHSG akan bergerak positif dengan menutup gap atas di 5165-5180. Namun syaratnya IHSG tidak boleh turun di bawah MA 50 nya kembali yang saat ini berada dilevel 5.067.

Technically, untuk besok senin IHSG diperkirakan akan bergerak dengan level support di 5082, sedangkan untuk resistennya berada di level 5157. Indikator MACD yang masih bergerak naik, menunjukan bahwa IHSG masih akan bergerak positif.

 23Nov14-IHSG

 

Kebijakan mengalihkan BBM Subsidi untuk menggenjot pembangunan infrastruktur membuat saham-saham sektor konstruksi, infrastruktur, semen dan properti menjadi menarik dan prospektif sehingga bergerak naik. Sedangkan saham-saham CPO terapresiasi naik berkat ekspektasi dari kenaikan harga komoditi CPO kedepan setelah Australia Berau Of Metrology mengatakan kemungkinan besar akan terjadinya El Nino dalam waktu dekat. Sedangkan untuk pekan depan, sentimen positif dari pemengkasan suku bunga di China berpotensi untuk mendorong naik saham-saham sector mining dan coal.

Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ide trading atau trading plans dari saham-saham yang berpotensi memberikan profit, serta ingin mengkonsultasikan portfolio anda, maka segera bergabunglah ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com. Bagi yang berminat untuk bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Save Trading, Good Luck & GBU Always (Nov 23, 2014 @ 16:17)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*