IHSG Record High.. Akankah Berlanjut?

Bursa Wall Street mengakhiri perdagangan akhir pekan kemaren dengan pelemahan. Dow Jones turun 60,59 poin (-0,34%) ke level 17.824,29, S&P 500 melemah 7,05 poin (-0,34%) ke level 2.055,47 dan Nasdaq berkurang 20,70 poin (-0,43%) ke level 4.744,40. Kenaikan jumlah tenaga kerja baru di AS yang melampaui perkiraan pasar dan menunjukkan pertumbuhan yang tinggi, dikhawatirkan akan memicu naiknya suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat. Sentimen negatif lainnya juga datang dari Yunani yang masih mengenai alotnya kesepakatan soal pembayaran utang dengan ECB. Walaupun melemah diakhir pekan, namun sepanjang pekan kemaren Dow Jones masih tercatat mengalami penguatan sebesar +3,84%, S&P 500 bertambah +3,03% dan Nasdaq naik +2,35%, berkat rebound kenaikan harga minyak mentah dunia dan rilis data ekonomi AS serta laporan kinerja emiten yang positif.

Dari dalam negeri, IHSG berhasil mencetak rekor penutupan harga baru, dengan menguat 62,62 poin (+1,19%) ke level 5.342,515. Investor asing tercatat melakukan posisi net buy sebesar Rp 296 milyar di pasar regular. Naiknya cadangan devisa di akhir Januari 2015 sebesar US$ 2,3 Milyar menjadi US$ 114,2 miliar (meningkat dari posisi akhir Desember 2014 sebesar US$ 111,9 miliar) yang dirilis oleh BI jelang penutupan perdagangan akhir pekan, turut mengangkat indeks. Dengan kenaikan kemaren, maka sepanjang pekan lalu, IHSG berhasil menguat sebesar +1%, dengan investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp. 1,687 triliun di pasar regular.

Pelaku pasar sepertinya sudah merasa yakin bahwa pada RDG BI yang akan digelar pada tanggal 17 Februari 2015 nanti, BI akan menurunkan suku bunganya. Makanya IHSG kembali bergerak menguat dan bertengger di atas level psikologis 5300 lagi. Alasannya masuk akal, ditengah perlambatan ekonomi yang hampir terjadi di berbagai kawasan dunia dan trend pemberian stimulus baik fiskal ataupun moneter berupa penurunan suku bunga yang dilakukan oleh beberapa negara, akan segera diikuti oleh BI. Hal ini merujuk pada rilis data GDP 2014 pada pekan lalu yang hanya tumbuh sebesar 5,02%, meleset dari target pemerintah di APBN-P 2014, sehingga ada indikasi BI akan menurunkan BI rate guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi di kwartal I-2015 ini.

Untuk pekan depan, pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh Rapat Banggar DPR yang akan memutuskan RAPBN-P 2015, yang akan menjadi salah satu agenda penting bagi market dalam mempengaruhi fluktuasi pergerakan IHSG. Selain itu, investor juga menanti rilis kinerja keuangan emiten full year 2014. Dari luar negeri, perhatian pelaku pasar terarah pada negeri para dewa (Yunani), dimana pada rabu pekan depan (11 Februari 2015), para menkeu dari 19 negara Eropa bertemu kembali untuk menggelar diskusi tentang penyelesaian hutang Yunani.

Dari aspek teknikal, IHSG terlihat masih bergerak positif di dalam up trend channelnya. Diperkirakan IHSG masih akan mencoba menembus level intraday tertingginya di 5348,841 guna menciptakan level harga baru. Untuk besok senin, IHSG diperkirakan akan bergerak dengan level support di 5290, sedangkan untuk level resisten berada di 5353. Indikator teknikal Stochastic dan MACD yang masih bergerak naik, mengindikasikan kecenderungan indeks untuk masih bergerak positif. Adapun untuk pekan depan, IHSG diperkirakan akan bergerak dengan rentang yang berkisar antara 5250-5396.

 08Feb15-IHSG

Kenaikan IHSG akhir pekan kemaren, dipimpin oleh sektor saham CPO, seperti AALI, LSIP, SGRO dan BWPT. Ini merupakan hari ke dua saham CPO menguat cukup signifikan, setelah Komisi VII DPR-RI yang membawahi bidang energi menyetujui kenaikan subsidi biodiesel menjadi sebesar Rp 4.000/liter dari Rp 1.500 dan subsidi bioethanol menjadi sebesar Rp 3.000/liter dari Rp 2.000. Selain itu saham konsumsi turut berkontribusi bagi kenaikan indeks, dipimpin oleh UNVR dan GGRM yang menguat cukup signifikan.

Untuk saham perbankan, signal rebound cukup kuat terlihat pada saham BBTN yang berhasil naik dengan volume sangat besar. Saham BJBR juga terlihat bullish dan masih dapat melanjutkan trend naiknya. Sedangkan saham perbankan besar, seperti BBCA, BMRI dan BBNI masih konsolidasi cenderung menguat dan bisa dimanfaatkan untuk BOW.

Semetara itu saham konstruksi secara overall masih condong melemah, dengan potensi berlanjutnya profit taking dalam jangka pendek. Namun demikian seperti saham perbankan, saham sektor konstruksi masih cukup menarik untuk dilakukan BOW, terutama jika nanti BI Rate jadi diturunkan. Sedangkan untuk saham sektor properti, kami hanya tertarik dengan SMRA, SSIA, ASRI dan KIJA yang kami perkirakan dapat melanjutkan penguatannya.

Kami juga masih menantikan rebound pada saham sektor batu bara, terkait reboundnya harga minyak mentah dunia dalam 2 pekan terakhir. Untuk sektor ini, kami hanya tertarik pada ADRO dan PTBA yang biasanya menjadi leader bila saham sektor ini bergerak naik.

Diluar saham-saham sektor diatas, kami tertarik dengan UNTR yang telah berhasil menembus resistennya di 18.200. Penembusan ini akan membawa UNTR menuju target terdekat di 18.700, sebelum menuju target selanjutnya di 19.300. Selain itu KLBF juga menarik untuk terus diperhatikan. Trend naik saham ini masih terjaga dan berpotensi untuk terus melanjutkan penguatannya mencetak rekor harga baru lagi.

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis untuk pekan ini, semoga dapat membantu. Mengenai support dan resisten, serta target-target dari saham-saham yang saya sebutkan diatas akan diulas khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ide trading dan ingin mengkonsultasikan portfolio anda, maka segera bergabunglah ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com. Untuk info selengkapnya dapat melihatnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Save Trading, Good Luck & GBU Always

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*