Another New Record For IHSG, What Next?

Wall Street menutup perdagangan akhir pekan dengan koreksi tajam. Data laporan tenaga kerja yang solid menunjukkan adanya perbaikan di ekonomi AS, membuat investor khawatir bisa menjadi sinyal untuk mempercepat rencana naiknya tingkat suku bunga AS. Kuatnya pertumbuhan Non Farm Payroll bulan Januari sebesar 295.000, jauh diatas perkiraan dan turunnya tingkat pengangguran AS bulan Februari ke level 5,5% membuat pelaku pasar semakin yakin bahwa The Fed akan segera menaikan Fed Rate, membuat Dow Jones anjlok 278,94 poin (-1,54%) ke level 17.856,78, S&P 500 turun 29,78 poin (-1,42%) ke level 2.071,26 dan Nasdaq melemah 55,44 poin (-1,11%) ke level 4.927,37. Dengan terjadinya koreksi di akhir pekan, maka sepanjang pekan kemaren Dow Jones mengalami penurunan sebesar -1,52%, S&P 500 melemah -1,58% dan Nasdaq merosot -0,73%.

Dari dalam negeri, IHSG berhasil menguat dan mencetak rekor tertinggi baru di akhir pekan. IHSG ditutup melonjak dengan menembus level psikologis 5.500 berkat aksi borong investor asing di masa preclosing. IHSG langsung melesat ke titik tertingginya ke level 5.514,787, menguat 63,840 poin (+1,17%), dengan pemodal asing melakukan net buy sebesar Rp. 310 Milyar dipasar regular. Dengan penguatan tersebut, maka sepanjang pekan kemaren IHSG berhasil naik +1,18% dengan aliran modal asing yang masuk hampir sebesar Rp. 900 milyar dalam sepekan.

Kenaikan IHSG pada pekan kemaren adalah penguatan dalam 5 pekan secara berturut-turut. Kenaikan tersebut didorong oleh membaiknya data ekonomi domestik yang menunjukkan hasil yang positif. Data neraca perdagangan yang mencatatkan surplus, terjadinya deflasi dan naiknya cadangan devisa di Februari 2015 menjadi US$ 115,2 miliar menjadi katalis positif bagi IHSG, ditengah bayang-bayang pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS (USD). Sentimen lainnya datang dari laporan keuangan FY 2014 para emiten yang rata-rata merilis hasil yang positif.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD bahkan sempat menembus Rp 13.000 pada pekan lalu, tak menjadi pemberat bagi laju IHSG. Investor tahu bahwa penguatan USD terjadi karena faktor membaiknya perekonomian AS. Hampir seluruh mata uang mengalami trend pelemahan terhadap USD, jadi bukan hanya terjadi pada rupiah saja. Apalagi ada beberapa negara yang sengaja secara sukarela melemahkan mata uangnya guna meningkatkan daya saing dalam negerinya, seperti Yen Jepang, Yuan China, dollar Australia, dan Euro. Yang perlu dicatat, rupiah juga menguat terhadap beberapa mata uang lain. Selain itu, Rupiah masih bisa menguat jika defisit transaksi berjalan (CAD) dapat diturunkan di bawah 3% dari PDB, sesuai target untuk tahun ini.

Untuk pekan depan, IHSG masih akan diwarnai aksi profit taking, ditengah minimnya data penting domestik. IHSG akan lebih dipengaruhi dari sentimen luar, terutama sepekan jelang FOMC meeting yang akan dilakukan pada tanggal 17-18 Maret 2015. Spekulasi akan dipercepatnya kenaikan Fed Fund Rate (FFR), walaupun berulang kali dinyatakan bahwa The Fed tidak akan menaikan FFR hingga pertengahan tahun ini, akan kembali dijadikan alasan bagi investor untuk melakukan profit taking. Ditengah isu dari AS tersebut, pergerakan IHSG juga akan diwarnai oleh aliran dana asing yang diperkirakan masih akan masuk ke bursa kita. Seperti diketahui bahwa ECB akan mulai melaksanakan program QE berupa pembelian obligasi sebesar EUR € 60 miliar/bulan pada awal pekan besok 9 Maret 2015 hingga September 2016. Sebagai salah satu negara tujuan investasi, Indonesia dinilai cukup menarik, karena pertumbuhan ekonomi yang stabil diatas 5%/tahun, maka Bursa Indonesia diperkirakan juga akan “kecipratan” sebagian dana QE dari Eropa tersebut.

Dari aspek teknikal, setelah pada awal pekan kemaren IHSG berkonsolidasi cenderung terkena profit taking, namun akhirnya pada akhir pekan indeks lagi-lagi menguat dan ditutup di atas level 5500 untuk pertama kalinya dalam sejarah. Penguatan tersebut berkat aliran dana asing yang terus masuk dengan membukukan pembelian bersih di bursa saham. Technically, indikator Stochastic yang kembali golden cross dan MACD yang masih bergerak naik, mengindikasikan bahwa IHSG masih dalam trend positif. Perkiraan saya untuk pekan depan, IHSG masih cenderung bergerak naik walaupun di bayang-bayangi oleh aksi profit taking trader short term. Sentimen penurunan pasar saham global mungkin dapat menekan IHSG di awal pekan, tapi diperkirakan masih dalam batas koreksi wajar. Untuk range trading IHSG sepekan kedepan akan berada di kisaran 5420-5560. Sedangkan untuk besok senin, IHSG diperkirakan akan bergerak dengan support di 5465, sedangkan resistennya berada di 5530.

08Mar15-IHSG

Dari saham-saham yang saya amati, rata-rata saham unggulan di tutup dengan sentimen positif. Saham-saham seperti UNVR, BBCA dan BBRI berhasil mencetak rekor harga penutupan tertinggi sepanjang sejarahnya. Sedangkan saham ASII, TLKM dan BMRI bersiap menguji level tertingginya. Walaupun saham-saham unggulan tersebut masih uptrend, tapi tetap waspada profit taking. Sehingga bagi yang hendak masuk, disarankan untuk trading jangka pendek. Saham lainnya yang saya lihat cukup menarik adalah BBNI. Keberhasilan bertahan di support 6650, membuka peluang bagi BBNI untuk kembali menguat ke level 7000-7075. Saham konstruksi masih cenderung melemah dan belum ada signal yang kuat untuk rebound, jadi sebaiknya menunggu perkembangan lebih lanjut.

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis untuk pekan ini. Mengenai detail support dan resisten, serta target dari saham-saham yang menarik untuk diakumulasi akan diulas khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ide trading dan ingin mengkonsultasikan portfolio anda, maka segera bergabunglah ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com. Untuk info selengkapnya dapat melihatnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Save Trading, Good Luck & GBU Always

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*