Pelemahan Rupiah Mulai Menyeret IHSG Turun, What Next??

Saham-saham di Bursa AS berakhir turun pada akhir pekan kemaren, dipicu oleh kecemasan atas penurunan harga minyak dunia dan kenaikan dolar AS. Harga minyak turun di bawah level US$45/barel, setelah Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan bahwa peningkatan persediaan minyak mentah AS sudah mendekati batas kapasitas penyimpanan di tengah kelebihan pasokan minyak global. Pelaku pasar juga takut dolar AS yang terlalu menguat akan merugikan ekspor AS dan negara-negara emerging market. Dow Jones turun 145,91 poin (-0,82%) menjadi 17.749,31, S&P 500 melemah 12,55 poin (-0,61%) berakhir di 2.053,40 dan Nasdaq berkurang 21,53 poin (-0,44%) menjadi 4.871,76. Dengan koreksi tersebut, maka sepanjang pekan kemaren Dow Jones terkoreksi -0,60%, S&P 500 turun -0,86% dan Nasdaq merosot -1,13%.

Sementara itu dari dalam negeri, IHSG menutup perdagangan akhir pekan dengan melemah 13,366 poin (-0,25%) ke level 5.426,466, dengan pemodal asing mencatatkan net sell sebesar Rp 472 miliar di pasar regular. Faktor melemahnya Rupiah terhadap USD yang sempat menembus keatas level Rp. 13.200/USD akhir-akhir ini cukup membuat pelaku pasar khawatir. IHSG pun tersungkur turun -1,6% sepanjang pekan lalu (mengakhiri kenaikan 5 pekan berturut-turut), dengan disertai keluarnya modal asing dari IHSG dipasar regular sebesar Rp. 2,25 triliun dalam sepekan.

Pelemahan rupiah dan juga mata uang negara lain disebabkan oleh faktor membaiknya ekonomi AS jelang FOMC The Fed pada tanggal 17-18 Maret 2015. Spekulasi makin dekatnya kenaikan suku bunga AS, semakin menguatkan otot dollar AS, ditengah perlambatan ekonomi yang saat ini melanda Eropa dan Asia membuat negara-negara tersebut mengeluarkan kebijakan moneter yang justru makin melemahkan mata uangnya. Jadi ketika Eropa menambah stimulusnya, China menurunkan suku bunganya dan Jepang yang melemahkan yen guna mendongkrak ekspornya, AS malah menunggu saat yang tepat menaikan suku bunganya, sehingga menjadikan penguatan USD semakin kontras. Faktor inilah yang makin membebani dan melemahkan rupiah dan menjadi sentimen negatif bagi IHSG pada saat ini.

Untuk pekan depan pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh hasil FOMC yang akan membahas kepastian waktu kenaikan suku bunga AS. Di dalam negeri, investor tengah menantikan paket kebijakan ekonomi oleh pemerintah untuk menahan pelemahan nilai tukar rupiah, disamping pengumuman BI rate dalam RDG BI tanggal 17 Maret 2015 yang diperkirakan akan stagnan di level 7,5%. Ditengah penantian dan ketidakpastian tersebut, IHSG diperkirakan masih akan tertekan pada awal pekan. IHSG kami perkirakan baru dapat rebound pada pertengahan pekan jika The Fed dalam rapatnya pekan depan masih bersabar untuk tidak segera menaikkan suku bunga acuannya. Jika hal tersebut yang terjadi, maka kami memprediksi rupiah bisa bergerak stabil dan kembali menguat pada pertengahan pekan depan.

Technically, untuk pekan depan IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang kisaran 5365-5475. Terlihat dari chart dibawah ini bahwa dalam jangka menengah, IHSG masih bergerak naik didalam uptrend channelnya. Namun demikian, untuk jangka pendek IHSG masih terlihat berkonsolidasi dengan kecenderungan melemah. Indikator teknikal Stochastic dan MACD yang bergerak turun, mengindikasikan kecenderungan indeks untuk bergerak negatif. Untuk besok senin, IHSG diperkirakan akan bergerak dengan support di 5400, sedangkan resisten berada di 5450.

15Mar15-IHSG

Maraknya sentimen negatif yang memicu aksi jual beberapa saham unggulan, membuat laju IHSG cenderung meninggalkan peluang untuk kembali menguat pada awal pekan besok. Potensi pelemahan lebih lanjut berpontensi terjadi pada saham2 sektor semen dan konstruksi. Saham-saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI dan BBNI tampak bergerak sideways menguji support area konsolidasinya. Waspadai apabila support saham2 tersebut sampai ditembus, ada potensi support psikologis IHSG di 5400 akan gagal bertahan, karena mengingat saham perbankan tersebut memiliki bobot dan efek cukup besar pada market. Saham TLKM juga terlihat masih berkonsolidasi dalam kisaran range 2900-3000. Sementara saham nggulan yang terlihat bergerak positif adalah ICBP yang mencoba menembus resisten area konsolidasinya di level 15.000, sedangkan UNVR walaupun terlihat bergerak positif, namun pola spinning tops yang terjadi mengindikasikan melambatnya aksi beli sehingga berpeluang terkena profit taking dalam jangka pendek.

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis untuk pekan ini. Mengenai detail support dan resisten, serta target dari saham-saham yang menarik untuk diakumulasi akan diulas khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ide trading dan ingin mengkonsultasikan portfolio anda, maka segera bergabunglah ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com. Untuk info selengkapnya dapat melihatnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Save Trading, Good Luck & GBU Always

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*