USD Mulai Melemah, IHSG Bersiap Menguat Akhiri Konsolidasinya

Bursa saham AS di tutup menguat pada perdagangan akhir pekan kemaren, menyambut pelemahan nilai tukar dolar AS dan mendorong saham-saham emiten AS yang berorientasi eksport melonjak. Dolar AS mulai menjinak setelah The Fed dalam FOMC yang berakhir hari rabu lalu, menyatakan masih akan menunda kenaikan suku bunga acuannya. Dow Jones naik 168,62 poin (+0,94%) ke level 18.127,65, S&P 500 bertambah 18,83 poin (+0,9%) ke level 2.108,10 dan Nasdaq menguat 34,04 poin (+0,68%) ke level 5.026,42, yang merupakan posisi tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Berkat kenaikan di akhir pekan, maka sepanjang pekan kemaren Wall Street berhasil rebound dan mengakhiri koreksi dalam 3 pekan sebelumnya, dengan Dow Jones mencatatkan penguatan sebesar +2,13%, S&P 500 naik +2,66% dan Nasdaq melonjak +3,17% dalam sepekan.

Sementara itu dari dalam negeri, IHSG ditutup turun 10,789 poin (-0,20%) ke level 5.443,065 pada akhir pekan, dengan investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp 553 milyar dipasar reguler. Penguatan IHSG dan masuknya dana asing ke bursa pasca pengumuman The Fed ternyata tidak bertahan lama. IHSG kembali terkena aksi profit taking, setelah investor melihat nilai tukar Rupiah yang tertahan di level 13.000/USD kembali bergerak melemah ke atas Rp13.100/USD. Walaupun terkoreksi, namun sepanjang pekan kemaren IHSG masih mampu membukukan penguatan sebesar +0,3%, dengan pemodal asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 1,338 triliun dalam sepekan.

Setelah sentimen dari pernyataan The Fed yang memberikan sinyal untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunganya, pasar saham global mulai bergerak naik pada akhir pekan kemaren. Sinyal dari The Fed tersebut juga membuat keperkasaan USD mulai melemah. Pelemahan USD membuat harga-harga komoditas mulai rebound, dipimpin oleh minyak dunia yang mengalami kenaikan sebesar +4% ke US$ 45,72/barel. Walaupun demikian, masih terlalu dini untuk menilai kenaikan komoditas akan berlangsung dalam jangka panjang, mengingat masih lemahnya demand global ditengah supply cadangan yang meningkat.

Pelemahan USD pada akhir pekan kemaren diperkirakan akan membawa angin segar pada nilai tukar Rupiah di awal perdagangan pekan besok. Rupiah diperkirakan akan cenderung menguat menguji level psikologis 13.000/USD kembali. Jika Rupiah sanggup menguat dibawah level 13.000/USD, maka tentu akan berdampak positif bagi IHSG.

Secara teknikal IHSG terlihat berkonsolidasi, bergerak dalam kisaran sempit di 5405-5465. Jika IHSG mampu keluar dari area konsolidasi jangka pendeknya tersebut dengan break out resistennya di 5465, maka IHSG berpotensi besar membentuk trend naik kembali menuju level all time high di 5514. Nantinya jika IHSG mampu melewati level all time highnya, maka IHSG berpotensi melanjutkan trend bullishnya dengan target menuju kisaran level 5540-5585.

Melihat perkembangan di pasar saham global, menurut saya kemungkinan IHSG untuk keluar dari area konsolidasi jangka pendeknya cenderung lebih besar. Dengan berkurangnya sentimen negatif dari The Fed hingga FOMC schedule selanjutnya di 27-28 April 2015, maka hingga akhir bulan maret, pelaku pasar sepertinya akan cenderung melakukan akumulasi buy kembali untuk mengantisipasi keluarnya sisa laporan keuangan emiten Full Year 2014 serta laporan keuangan kuartal I/2015 yang akan segera dirilis pada pekan depan. Selain itu, dengan mulai masuknya musim pembagian deviden pada pekan depan, maka IHSG diperkirakan akan bergerak positif pada pekan depan.

Technically, untuk pekan depan IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang 5385-5514. Sedangkan untuk besok senin, IHSG diperkirakan akan bergerak dengan support di 5417, sementara resistennya diperkirakan berada di 5474. Dari indikator teknikal Stochastic dan MACD terlihat bergerak mendatar, mengindikasikan bahwa indeks masih berkonsolidasi. Diharapkan IHSG mampu keluar dari area konsolidasi jangka pendeknya, sehingga indikator teknikal dapat mulai bergerak positif kembali.

22Mar15-IHSG

Dari saham-saham yang saya amati, tekanan jual terlihat terjadi pada saham2 semen yang menembus support2nya. Penembusan support yang disertai dengan volume transaksi yang meningkat mengindikasikan pelemahannya masih cukup kuat, jadi tetap waspada akan adanya potensi pelemahan lebih lanjut. Sementara itu penguatan saham2 perbankan (BMRI, BBRI, BBNI) dan saham ASII saat ini masih tertahan di area resistennya. Ada peluang bahwa resisten tersebut dapat ditembus, sehingga layak dicermati jika terjadi penembusan resisten2nya. Yang menarik adalah saham2 konstruksi mulai terlihat perlahan-lahan menguat. Dari indikator terlihat masih cukup bagus, sehingga ada potensi rebound dapat berlanjut. Sementara beberapa saham properti pergerakannya terlihat bagus, seperti saham PWON yang telah direkomendasikan bagi member kami. Selain itu saham-saham rekomendasi lainnya seperti CTRP mengindikasikan bahwa rebound masih mampu berlanjut, demikian juga dengan saham KIJA.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis untuk pekan ini. Mengenai detail support dan resisten, serta target dari saham-saham yang menarik untuk diakumulasi akan diulas khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ide trading dan ingin mengkonsultasikan portfolio anda, maka segera bergabunglah ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com. Untuk info selengkapnya dapat melihatnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Save Trading, Good Luck & GBU Always

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*