Aksi Jual Investor Asing, Membuat IHSG Bergerak Lesu

Pasar saham AS di tutup turun tajam pada akhir pekan kemaren. Penurunan ini dipicu oleh sentimen yang datang dari Eropa mengenai kecemasan utang Yunani yang dikhawatirkan akan kehabisan uang, dan penerapan regulasi perdagangan baru di China yang mengizinkan untuk melakukan short selling karena posisi Bursa China yang menyentuh titik tertinggi dalam 7 tahun, serta kinerja perusahaan AS yang diprediksi lesu akibat penguatan USD. Banyaknya sentimen negatif yang datang membuat Dow Jones anjlok 279,47 poin (-1,54%) ke level 17.826,3, S&P 500 turun 23,81 poin (-1,13%) ke level 2.081,18, dan Nasdaq jatuh 75,98 poin (-1,52%) ke level 4.931,81. Dengan koreksi tersebut, maka sepanjang pekan kemaren Dow Jones melemah -1,28%, S&P 500 turun -0,99% dan Nasdaq merosot -1,28%.

Sementara itu dari dalam negeri, IHSG menutup perdagangan akhir pekan kemaren dengan melemah tipis 10,089 poin (-0,19%) ke level 5.410,64. Pemodal asing tercatat melakukan net sell sekitar Rp 415 miliar di pasar regular. Konsistensi investor asing dalam melakukan aksi net sell selama sepekan penuh menjadi penekan IHSG sehingga sulit untuk bangkit. Dengan begitu, dalam sepekan terakhir IHSG melemah -1,47%, dengan aliran modal asing yang keluar dari bursa sekitar Rp. 1,9 triliun di pasar reguler.

Berlanjutnya net sell asing yang terjadi ditengah positifnya sentimen dari dalam negeri bisa dibilang cukup mengkhawatirkan. Ditahannya BI rate di level 7,5% dan data neraca perdagangan yang surplus, serta menguatnya nilai tukar rupiah, seharusnya dapat menjadi pendorong IHSG untuk menguat. Namun sentimen positif tersebut masih kalah dengan asing yang terus melakukan net sell. Ada kemungkinan net sell asing yang terus terjadi itu dikarenakan oleh ekspetasi laporan keuangan para emiten di kuartal satu tahun ini kurang memuaskan.

Pelemahan nilai tukar Rupiah dan perlambatan ekonomi yang sedang terjadi, menjadi faktor pemicu ekspektasi laporan keuangan emiten di kuartal l 2015 cenderung menurun. Seperti diketahui, BI telah memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I dan II 2015 hanya akan mencapai level sedikit di atas 5%. Lemahnya pertumbuhan ekonomi tersebut dikarenakan akibat perlambatan ekonomi dunia dan penurunan harga serta permintaan komoditas.

Untuk pekan depan, kami memperkirakan IHSG masih akan cenderung bergerak lesu. Sentimen dari regional masih menjadi perhatian dari para pelaku pasar. Kecemasan baru mengenai Yunani, serta penerapan trading rules di China, ditambah jelang pertemuan The Fed yang dijadwalkan tanggal 28-29 April biasanya akan membuat spekulasi kenaikan suku bunga AS akan kembali mengemuka, sehingga akan mengganjal penguatan IHSG. Dari dalam negeri, fokus para investor masih tertuju dengan laporan keuangan para emiten di kuartal I-2015.

Secara teknikal, kondisi IHSG mulai menunjukkan gejala kurang kondusif. IHSG mulai masuk fase konsolidasi cenderung turun dalam jangka pendek, ketika IHSG gagal bertahan di support 5436. IHSG telah mengkonfirmasikan pembentukan pola double tops, dengan target penurunan sesuai pola tersebut ada dikisaran 5350. Selain itu dari sisi indikator teknikal, masih dimungkinkan untuk terjadinya pelemahan lanjutan. Indikator teknikal Stochastic bergerak turun, sedangkan MACD mulai mendekati area negatif dengan histogram bergerak negatif di bawah signal. Untuk besok senin, IHSG diperkirakan akan bergerak dengan support di 5372, sedangkan untuk resistennya berada di level 5436.

19Apr15-IHSG

Berlanjutnya aksi jual asing pada beberapa saham unggulan dan maraknya sentimen negatif dari ekternal, membuat laju IHSG cenderung lesu dan rawan terkoreksi pada awal pekan besok. Walaupun saham2 unggulan terlihat masih cenderung bergerak sideways dan mengalami konsolidasi, namun dari indikator teknikal beberapa saham telah menunjukan tanda-tanda pelemahan. Untuk itu perlu di pantau apakah saham2 tersebut mampu bertahan di area support konsolidasinya atau tidak.

Dari saham perbankan, BBCA terlihat masih mencoba bertahan disupport 14.650, BMRI mencoba bertahan di support 11,750, dan BBRI masih berkonsolidasi jangka pendek di kisaran 12.950-13.275, sedangkan BBNI mencoba bertahan di support psikologis 7000. Sementara itu untuk saham2 konstruksi (ADHI, WIKA, WSKT dan PTPP) walaupun cenderung menguat, namun terlihat kurang solid karena tidak didukung oleh volume transaksi. Saham sektor semen terlihat masih berjuang mencoba untuk menguat dengan menembus area resistennya. Sedangkan saham PGAS walaupun menguat, namun untuk dikatakan rebound masih terlalu awal dan butuh konfirmasi lebih lanjut. Untuk sementara target rebound terdekat PGAS di 4600, dengan target selanjutnya menutup gap di 4700-4725.

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis untuk pekan ini. Mengenai detail support dan resisten, serta target dari saham-saham yang menarik untuk diakumulasi akan diulas khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook dan ide trading, serta ingin mengkonsultasikan portfolio anda, maka segera bergabunglah ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com. Untuk info selengkapnya dapat melihatnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Save Trading, Good Luck & GBU Always

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*