IHSG Melanjutkan Rebound Ditengah Berlanjutnya Capital Outflow, What Next?

Akhir pekan kemaren, Bursa saham AS ditutup mixed dan cenderung bergerak flat, setelah sepanjang perdagangan bergerak berfluktuasi menyusul mengecewakannya data ekonomi yang dirilis, yaitu turunnya produksi industri dan indeks kepercayaan konsumen AS. Dow Jones naik 20,32 poin (+0,11%) ke level 18.272,56, S&P 500 menguat tipis 1,63 poin (+0,08%) berhasil mencetak rekor baru menjadi 2.122,73, sedangkan Nasdaq di tutup turun tipis 2,50 poin (-0,05%) menjadi 5.048,29. Sepanjang pekan kemaren, Dow Jones mengalami kenaikan +0,45%, S&P 500 menguat +0,31%, dan Nasdaq bertambah +0,89%, karena investor berspekulasi The Fed masih akan terus mendukung pertumbuhan ekonomi, setelah data ekonomi AS yang dirilis sepanjang pekan tidak sesuai harapan.

Dari dalam negeri, IHSG ditutup berkurang 19,037 poin (-0,36%) ke level 5.227,096 di akhir pekan, dengan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp. 228 milyar di pasar regular. Walaupun turun di akhir pekan, namun dalam sepekan IHSG masih mencatatkan kenaikan sebesar +0,87%, terdorong oleh kenaikan saham2 pertambangan dan CPO, serta beberapa data yang dirilis cukup positif. Meskipun mencatatkan kenaikan, namun dalam sepekan dana asing yang keluar dari dari bursa hampir mencapai Rp 1 triliun dipasar regular.

IHSG masih mampu melanjutkan reboundnya pasca koreksi tajam -6,4% yang terjadi pada 2 pekan lalu. Kali ini kenaikan IHSG masih terdorong oleh kinerja positif dari Bursa Regional. Selain itu, rebound yang terjadi pada saham-saham pertambangan dan CPO turut berkontribusi pada kenaikan indeks pada pekan kemaren. Menguatnya harga minyak dunia yang sempat menembus keatas level US$ 60/barel dan peringatan Australia yang sudah memasuki iklim El Nino sehingga dapat menyebabkan suplai CPO menurun, menjadi faktor pendorong bagi pelaku pasar untuk mengakumulasi saham-saham tersebut.

Faktor positif lainnya datang dari rilis data neraca perdagangan Indonesia bulan April yang cukup positif, yakni surplus US$ 454 juta, diatas ekspektasi yang cuma surplus US$ 120 juta. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Januari-April 2015 sebesar US$ 2,27 miliar, dimana ekspornya US$ 52,14 miliar sedangkan impornya US$ 49,36 miliar. Selain itu, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2015 tercatat surplus sebesar US$ 1,3 miliar. Surplus NPI ini didukung oleh defisit transaksi berjalan yang lebih rendah US$ 3,8 miliar atau -1,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Hal ini sejalan dengan ekspektasi pemerintah yang menetapkan defisit transaksi berjalan di bawah 2% dari PDB untuk kwartal l-2015.

Problemnya adalah… walaupun data yang dirilis cukup positif, namun pemodal asing masih belum berhenti melakukan net sell. Kemungkinannya, investor asing masih belum melihat adanya perbaikan pada ekonomi Indonesia saat ini. Pemerintah sendiri juga terkesan “mulai” agak kacau dan sedikit galau… Melalui pernyataan Menkeu, pemerintah sudah mulai menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini menjadi hanya sebesar 5,4% dari sebelumnya di 5,8%. Belum lagi soal kenaikan harga BBM, yang sempat akan diumumkan naik, tapi dibatalkan beberapa jam sebelum pelaksanaanya. Sepertinya pemerintah mulai melakukan subsidi BBM lagi dengan mengambil keputusan yang terkesan berkebalikan dengan kebijakannya menghapus subsidi. Ada kemungkinan, koalisi pendukung Jokowi menilai bahwa kenaikan harga BBM merupakan langkah yang berisiko, ditengah tingkat popularitas Presiden yang mulai menurun dalam beberapa bulan belakangan.

Selain issue diatas, salah satu issue yang ditunggu oleh pelaku pasar adalah reshuffle kabinet. Presiden Jokowi diharapkan melakukan reshuffle kabinet untuk meningkatkan kinerja pemerintahan terutama di bidang ekonomi dengan mengganti atau mereposisi menteri-menteri yang kinerjanya kurang maksimal. Pemilihan tim ekonomi yang kompeten, bersih dan professional pada posisi yang tepat, serta berjiwa negarawan dapat membantu jalannya pemerintahan di kabinet kerja dan memulihkan harapan2 yang tengah merosot dari pelaku pasar, terutama masyarakat pada umumnya.

Untuk pekan depan, pelaku pasar menantikan RDG BI yang akan dilaksanakan pada hari Selasa 19 Mei 2015 nanti. Investor menantikan apakah BI berani menurunkan BI Rate sebesar 25 bps, ditengah pelemahan nilai tukar Rupiah, guna merangsang pertumbuhan ekonomi yang melemah. Secara teknikal, IHSG diperkirakan sedang mencoba melanjutkan tren naik secara bertahap pada pekan depan. Sampai akhir pekan kemaren, trend jangka pendek IHSG masih terlihat bergerak naik. Namun kenaikan saat ini masih merupakan fase konsolidasi setelah penurunan tajam sebelumnya. IHSG masih berpotensi membentuk pola bearish flag pattern, terutama jika IHSG kembali turun dan gagal bertahan dikisaran support 5170-5140.

Technically untuk besok senin, IHSG diperkirakan akan berkonsolidasi dengan bergerak di support 5205, dan resistennya berada di 5270. Indikator teknikal mengindikasikan penguatan, dimana Stochastic bergerak naik, sedangkan MACD telah golden cross dengan histogram bar diatas signal. Sementara itu untuk sepekan kedepan, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang kisaran 5140-5300.

 17May15-IHSG

Dari kondisi teknikal saat ini, saya melihat IHSG masih dalam fase konsolidasi dalam upaya pemulihan pasca koreksi tajam beberapa waktu lalu. Disarankan tetap hanya dalam posisi trading jangka pendek hingga IHSG kembali dalam kondisi bullish lagi, yaitu menembus keatas level 5350. Tidak perlu terlalu agresif dan selalu kontrol resiko dengan tetap disiplin pada trading plans yang telah dibuat.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis untuk pekan ini. Mengenai detail support dan resisten, serta target dari saham-saham yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek, akan diulas khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Save Trading, Good Luck & GBU Always

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*