Belum Mampu Bangkit, IHSG Masih Menunggu Sentimen Positif

Bursa Wall Street di tutup negatif pada perdagangan akhir pekan kemaren. Adapun sentimen negatif yang menyebabkan adalah buntunya pembicaraan penyelesaian utang Yunani setelah IMF menghentikan negosiasi perundingan bailout Yunani yang hampir habis tenggat waktunya. Kondisi ini bisa menyebabkan Yunani mengalami gagal bayar alias default. Faktor lainnya masih terkait dengan rencana kenaikkan suku bunga The Fed, yang menyebabkan Dow Jones turun 140,53 poin (-0,78%) ke 17.898,84, S&P 500 melemah 14,75 poin (-0,7%) ke 2.094,11 dan Nasdaq jatuh 31,41 poin (-0,62%) ke 5.051,10. Dengan demikian, sepanjang pekan kemaren indeks acuan bursa AS berakhir mixed, dengan Dow Jones menguat +0,28%, S&P 500 naik tipis +0,06%, namun Nasdaq melemah -0,34%.

Sementara itu dari dalam negeri, setelah bergerak volatile di akhir pekan, IHSG berakhir datar dengan di tutup hanya naik tipis 7,005 poin (+0,14%) ke level 4.935,817. Aksi jual asing sebesar Rp. 241 milyar dipasar reguler, membuat penguatan IHSG terhambat. Sepanjang pekan kemaren, IHSG rontok -3,23% dengan dana asing yang keluar dari bursa mencapai sekitar Rp. 2,4 Triliun dalam sepekan.

Anjloknya IHSG pekan kemaren tertekan oleh pelemahan saham2 emiten sektor perbankan, terkait rencana pemerintah yang akan menurunkan suku bunga kredit usaha rakyat (KUR). Rencana tersebut dikhawatirkan dapat menekan margin keuntungan perbankan, di tengah kinerja emiten yang melambat dan tidak sesuai harapan pasar. Seperti kita ketahui, sektor perbankan merupakan sektor yang memiliki bobot terbesar terhadap IHSG, sehingga penurunan di sektor tersebut tentu berpengaruh besar terhadap IHSG.

Selain itu, IHSG juga terimbas fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, jelang FOMC meeting pada pekan depan. Tidak ada data ekonomi domestik yang bisa menopang penguatan rupiah. Sebaliknya data ekonomi AS seperti pertumbuhan tenaga kerja dan penjualan ritel yang membaik, makin meningkatkan ekspektasi akan kenaikan suku bunga AS pada tahun ini, sehingga menekan Rupiah hampir menyentuh Rp 13.400/USD.

Saat ini kondisi pasar masih minim sentimen positif. Sebaliknya sentimen negatif dari dalam dan luar negeri masih terus membayangi pelaku pasar. Dari luar negeri, masalahnya masih klasik yaitu penyelesaian utang Yunani dan rencana kenaikan suku bunga The Fed. Sementara itu dari dalam negeri, persoalannya masih tentang perlambatan ekonomi domestik, tingginya inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah dan terus keluarnya dana asing dari bursa.

Untuk pekan depan, diharapkan perkembangan negosiasi utang Yunani sudah ada kesepakatan di awal pekan. Skenario terburuk adalah Yunani default dan keluar dari Zona Eropa. Selain itu, hasil Fed meeting tanggal 16-17 Juni 2015 juga dinantikan investor dan diharapkan The Fed masih menunda kenaikan Fed Rate.

IHSG bisa saja rebound jika masalah utang Yunani dengan pihak krediturnya dapat terselesaikan, serta The Fed tidak mempercepat kenaikan suku bunganya di tahun ini. Kans rebound makin bertambah jika data neraca perdagangan domestik bulan Mei yang dirilis bagus, dimana diperkirakan surplus neraca perdagangan akan meningkat menjadi US$ 800 juta, dari bulan sebelumnya senilai US$ 454 juta.

Dari aspek teknikal, kondisi IHSG masih terlihat menurun. Indikator teknikal Stochastic mencoba bangkit keluar dari area over sold, sedangkan MACD masih bergerak turun di area negatif. Dari kondisi ini, saya menyimpulkan IHSG masih berkonsolidasi cenderung downtrend. Pasar saham sepertinya masih menunggu kejelasan penyelesaian utang Yunani dan kejelasan kapan Fed Fund Rate dinaikan.

Untuk sementara pertahanan IHSG berada di level 4850. Kalau breakdown kebawah level tersebut IHSG berpotensi menuju target terdekat di 4790, dengan target selanjutnya di 4736. Sebaliknya jika mampu rebound, IHSG akan mencoba kembali ke level 5015-5040. Penembusan keatas level tersebut membuka kans IHSG untuk rebound lebih lanjut menuju area MA 200 nya.

 14Juni15-IHSG

Minggu depan kita akan memasuki bulan puasa. Seperti biasa, awal puasa dalam beberapa tahun terakhir itu identik dengan turunnya volume transaksi perdagangan. Kemungkinan aktivitas transaksi di bursa saham pada Ramadhan tahun ini juga akan sepi, mengingat kondisi market yang belum kondusif. Untuk itu pelaku pasar disarankan tetap berhati-hati dalam menetapkan strategi trading jangka pendek atau menunggu sampai kondisi membaik.

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis untuk pekan ini. Mengenai detail support dan resisten, serta target dari saham-saham yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek, akan diulas khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook dan ide trading, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Save Trading, Good Luck & GBU Always

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*