Meningkatnya Peluang Kenaikan Fed Rate, IHSG Cenderung Melemah

Bursa saham AS berakhir mixed pada akhir pekan kemaren, setelah rilis laporan data pekerjaan AS yang kuat. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 271.000 pekerjaan pada Oktober, jauh lebih besar dari konsensus pasar sebesar 185.000 dan terbaik sejak Desember 2014. Sementara tingkat pengangguran turun menjadi 5% dari 5,1%, terendah sejak April 2008. Laporan tersebut membuka peluang akan kenaikan suku bunga The Fed pada Desember. Dow Jones di tutup naik 46,9 poin (+0,26%) menjadi 17.910,33 dan Nasdaq menguat 19,38 poin (+0,38%) ke level 5.147,12, namun S&P 500 melemah tipis 0,73 poin (-0,03%) ke 2.099,2. Sepanjang pekan kemaren, Dow Jones berhasil menguat +1,4%, S&P 500 naik +0,95% dan Nasdaq meningkat +1,85%, sehingga Wall Street membukukan kinerja mingguan lebih tinggi untuk minggu keenam secara berturut-turut.

Sementara dari dalam negeri, IHSG mengakhiri perdagangan akhir pekan dengan ditutup turun 10,681 poin (-0,23%) ke level 4.566,552. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp. 52 Milyar dipasar reguler. Setelah sempat rebound dengan menguat di 3 hari pertama pekan kemaren, IHSG kembali tertekan dalam 2 hari terakhir. Meningkatnya spekulasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya pada Desember membuat IHSG berbalik arah. Namun demikian, sepanjang pekan kemaren IHSG masih berhasil di tutup naik sebesar +2,5%, dengan investor asing membukukan net buy sebesar Rp. 133 Milyar dalam sepekan.

Setelah sempat rebound oleh harapan dari paket kebijakan ekonomi jilid VI dan membaiknya data-data ekonomi yang akan dirilis, namun harapan tersebut sepertinya mulai pupus. Hal ini terjadi karena realisasi pertumbuhan ekonomi di kuartal III hanya sebesar 4,73%, dibawah ekspektasi pasar sebesar 4,8%. Turunnya cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2015 menjadi US$ 100,7 miliar, dari posisi bulan sebelumnya sebesar US$ 101,7 miliar dan rendahnya penerimaan pajak yang baru mencapai Rp 774,4 triliun hingga 4 november 2015 atau sekitar 60% dari target Rp 1.295 triliun, membuat pelaku pasar tersadar bahwa ekonomi Indonesia masih belum membaik.

Sementara dari luar negeri, membaiknya ekonomi AS semakin memperbesar peluang dinaikannya Fed rate pada bulan depan. Membaiknya data tenaga kerja pada akhir pekan kemaren, melambungkan ekspektasi kenaikan Fed rate pada bulan Desember, meningkat menjadi 70% menurut pooling yang ada di CME Group FedWatch tool seperti yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

polling kenaikan fed rate di bulan desember 2015

Sentimen-sentimen tersebut diperkirakan akan mempengaruhi laju IHSG pada awal pekan, disamping data-data ekonomi yang akan dirilis seperti business confidence, penjualan mobil dan retail sales. Sedangkan data penting lainnya yang ditunggu oleh pelaku pasar adalah Laporan Neraca Perdagangan kwartal III 2015 yang akan dirilis pada Jum’at pekan depan. Sementara dari AS, investor mencermati pidato para petinggi The Fed pada pertengahan pekan, yang akan menjadi arahan mengenai kenaikan suku bunga The Fed pada bulan depan. Selain itu data penting retail sales AS yang akan dirilis pada akhir pekan depan juga menjadi perhatian pasar, karena akan menjelaskan perkembangan ekonomi AS.

Technically, IHSG masih terlihat mengalami konsolidasi jangka pendek dikisaran 4400-4600. Indikator teknikal terlihat bergerak mixed. Stochastic masih bergerak naik, sedangkan MACD death cross dan condong bergerak sideways dengan histogram bar di bawah centreline. Dari indikasi ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek IHSG masih berkonsolidasi dengan kecenderungan melemah. Terdapat 3 gap bawah yaitu 4560-4546, 4496-4470 dan 4381-4346, yang berpeluang untuk di tutup jika IHSG mengalami koreksi. Kemungkinan untuk awal pekan besok, IHSG akan terpengaruh oleh kekhawatiran potensi kenaikan suku bunga AS bulan depan, sehingga berpeluang untuk melanjutkan pelemahannya. IHSG akan menguji kekuatan support psikologis 4500, dengan support selanjutnya berada di gap 4496-4470.Sedangkan untuk resisten besok diperkirakan berada di level 4594.

08November15-IHSG

Walaupun berpeluang melemah, namun menurut kami hanya bersifat sementara. Mulai berkurangnya tekanan jual investor asing dan stabilnya pergerakan nilai tukar rupiah, menunjukkan bahwa IHSG mulai kondusif. Bila terjadi koreksi bisa mulai akumulasi beli, terutama pada saham-saham yang telah merilis kinerja 3Q-2015 cukup bagus. Tetap bersabar dan menunggu koreksi di area support-support kuatnya. Bagi yang ingin trading pendek, tetap safe trading dan selalu terapkan manajemen resiko.

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas khusus di area member premium. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook dan ide trading, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*