Tembus Support Area Konsolidasinya, IHSG Cenderung Turun

Menutup perdagangan akhir pekan, IHSG berakhir di zona merah ditutup anjlok 89,161 poin (-1,66%) ke level 5.281,917. Investor asing melakukan aksi jual mencapai Rp. 957 miliar di pasar reguler. Pelaku pasar dinilai melakukan aksi profit taking jelang libur long weekend. Sepanjang pekan lalu, IHSG berakhir melemah -1,34% dengan dana asing tercatat keluar dari bursa sebesar Rp. 1,53 triliun dipasar reguler.

Sementara bursa saham AS ditutup turun tajam pada akhir pekan, karena meningkatnya kekhawatiran bahwa The Fed mungkin akan menaikan suku bunganya pada bulan ini, setelah komentar dari pejabat utama Fed. Presiden Fed Boston, Eric Rosengren mengatakan dalam pidatonya bahwa suku bunga rendah akan meningkatkan kemungkinan overheating terhadap perekonomian AS. Pernyataan tersebut membuat Dow Jones turun 394.46 poin (-2.13%) ditutup di 18,085.45, S&P 500 merosot 53.49 poin (-2.45%) berakhir di 2,127.81 dan Nasdaq melemah 133.57 (-2.54%) ke level 5,125.91. Lantaran aksi jual yang terjadi pada akhir pekan, maka Wall Street mencatatkan kinerja negatif secara mingguan, dengan Dow Jones turun -2,2%, S&P 500 merosot -2,39% dan Nasdaq tergelincir -2,36%.

Bursa saham AS melemah mengikuti penurunan yang terjadi pada bursa saham Eropa dan Asia. Sebelumnya pada pertemuan Bank Sentral Eropa, ECB mempertahankan suku bunganya dan memilih untuk tidak memperpanjang stimulus. Hal ini yang mengecewakan pasar. Sementara Bursa Asia juga cenderung tertekan oleh aksi Korea Utara yang berhasil melakukan uji coba nuklir kelima.

Pasar saham dunia terpuruk pada akhir pekan kemaren, seiring berbagai sentimen negatif yang muncul. Hal ini membuat CBOE Volatility Index atau yang biasa disebut indeks VIX, yang mengukur kecemasan investor naik hingga 39,89%, yang merupakan kenaikan terbesar sejak 24 Juni 2016 lalu. Sementara indeks dolar AS naik 0,38% dan imbal hasil surat utang AS melonjak 4,91%. Kondisi tersebut mencerminkan kekhawatiran investor akan potensi kenaikan suku bunga Fed, yang akan melakukan pertemuan pada tanggal 20-21 September 2016.

Seperti ulasan kami pada pekan sebelumnya, saat ini fokus perhatian investor dalam negeri tertuju pada kemungkinan naiknya Fed Rate bulan ini dan hasil pencapaian tebusan tax amnesty jelang berakhirnya periode pertama di akhir bulan September. Hingga akhir pekan kemaren, hasil pencapaian  tax amnesty telah terkumpul uang tebusan sebesar Rp. 8,92 triliun atau 5,4%, naik dari pekan sebelumnya yang hanya sebesar Rp. 4,32 triliun (2,6%). Memang masih jauh dari target yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp. 165 triliun, namun akselerasi kenaikan dari pekan ke pekan jelang berakhirnya periode pertama, sangat drastis dan bahkan bersifat eksponential. Perkiraan saya, sampai berakhirnya periode pertama akan terkumpul sekitar 25-30 triliun rupiah jumlah uang tebusan yang akan masuk ke kas negara, atau sekitar 15-20% dari target yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Minimnya capaian hasil tax amnesty disamping spekulasi kenaikan fed rate inilah yang akan membebani IHSG pada bulan ini. Belum lagi melambatnya ekspektasi pertumbuhan GDP tahun 2017, setelah Komisi XI DPR RI bersama dengan pemerintah menyepakati asumsi pertumbuhan ekonomi tahun depan berada pada angka 5,1%. Secara historis, September menjadi bulan di mana banyak saham-saham melemah sebelum akhirnya naik lagi di akhir tahun.

Secara teknikal, IHSG cenderung turun dalam jangka pendek setelah keluar dari area konsolidasinya. IHSG tertahan oleh MA 20 dan turun menembus support 5296. Penembusan support tersebut, membuka peluang bagi IHSG untuk melemah menuju target di level 5115, dengan minor target di 5200. Sementara untuk resistennya ada dikisaran 5300-5320. Indikator teknikal Stochastic telah death cross dan kembali turun, sedangkan MACD cenderung turun dengan histogram bar diarea negatif. Dari kondisi tersebut, mengindikasikan kecenderungan indeks untuk melemah dalam jangka pendek.

12september16-ihsg

Pekan ini data ekonomi yang akan jadi perhatian pelaku pasar adalah data neraca perdagangan dan export-import yang akan dirilis pada hari Rabu. Sementara dari luar negeri, agenda dan data ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para invetor adalah:

  • Hari Selasa: Rilis data industri China, Pernyataan Presiden ECB Mario Draghi, Rilis data sentimen ekonomi Jerman, Rilis data inflasi Inggris
  • Hari Rabu: Rilis data tenaga kerja Inggris, rilis data persediaan minyak AS
  • Hari Kamis: Kebijakan moneter dan suku bunga BOE, Rilis data penjualan ritel dan klaim pengangguran AS
  • Hari Jumat: Rilis data inflasi AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini.  Jika melihat sentimen negatif yang berkembang dipasar saham saat ini, diperkirakan IHSG akan melanjutkan pelemahannya pada hari selasa setelah libur hari raya Idul Adha dengan bergerak di support 5215 dan resisten di 5296. Technically IHSG sudah confirm turun, ditambah dengan keluarnya dana asing dan pelemahan Rupiah yang mulai mendekati level Rp. 13.200/USD lagi, serta  ETF Indonesia (EIDO) yang anjlok turun -4,02% pada akhir pekan kemaren, untuk itu disarankan lebih berhati-hati.

Bagi trader disarankan untuk selalu kontorl resiko dan disiplin dengan trading plans yang telah dibuat. Tetap safe trading dalam menerapkan strategi trading jangka pendek. Sementara bagi investor lebih baik wait & see sambil menunggu redanya tekanan jual pada market atau melakukan buy on weakness secara bertahap pada saham-saham yang memiliki prospek kinerja cemerlang kedepan. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*