Berada Di Persimpangan, IHSG Menunggu Keputusan Suku Bunga Fed dan BI

Bursa AS ditutup melemah pada akhir pekan kemaren, seiring potensi denda senilai US$ 14 milyar terhadap Deutsche Bank akan menekan saham-saham bank besar lainnya, dan investor dihadapi dengan ketidakpastian mengenai waktu kenaikan suku bunga The Fed. Saham Deutsche Bank anjlok -9,42% setelah Departemen Kehakiman AS mengatakan bahwa bank asal Jerman tersebut harus membayar denda dari sejumlah investigasi terkait obligasi kredit perumahan. Dow Jones sempat anjlok lebih dari 100 poin sebelum akhirnya ditutup melemah 88,68 poin (-0,49%) ke level  18.123,8, S&P 500 turun 8,1 poin (-0,38%) menjadi 2.139,16 dan Nasdaq kehilangan 5,12 poin (-0,1%) ke 5.244,57. Walaupun melemah di akhir pekan, namun dalam sepekan Wall Street berhasil ditutup menguat dengan Dow Jones naik +0,21%, S&P 500 bertambah +0,53% dan Nasdaq melonjak +2,31%, setelah saham Apple meraih penguatan sebesar +11.43% dalam sepekan.

Dari dalam negeri, IHSG menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau, dengan naik tipis 1,95 poin (+0,04%) ke 5.267,769. Investor asing melakukan aksi jual sekitar Rp. 222 miliar dipasar reguler.  IHSG pada pekan lalu cenderung bergerak volatile, karena pelaku pasar tengah menantikan keputusan suku bunga The Fed dan sekaligus Bank Indonesia. Sempat melemah cukup tajam diawal pekan, IHSG berhasil berbalik arah dengan cepat jelang akhir pekan. Positifnya data ekonomi dimana eksport-import mengalami kenaikan dan surplus neraca perdagangan, serta lonjakan realisasi amnesti pajak dalam dua hari terakhir, menjadi salah satu faktor yang menopang IHSG. Namun demikian sepanjang pekan lalu, IHSG berakhir melemah tipis -0,26% dengan dana asing tercatat keluar dari bursa sebesar Rp. 3,17 triliun dipasar reguler.

Fokus perhatian investor pada pekan ini tertuju pada meeting The Fed yang akan diadakan 20-21 September 2016 dan Rapat Dewan Gubernur BI yang diadakan 21-22 September 2016. Diperkirakan pada awal pekan, IHSG akan cenderung melanjutkan konsolidasinya. Hasil meeting dari The Fed dan BI  itulah yang akan berdampak besar terhadap pergerakan IHSG nantinya. Jadi bisa dikatakan IHSG pada pekan ini berada dipersimpangan.

Kebanyakan pelaku pasar global berharap The Fed tidak akan menaikan suku bunganya pada rapat pekan ini. Menurut survey yang diadakan oleh CME Grup, hingga akhir pekan kemaren, probabilitas kenaikan fed rate pada bulan ini turun menjadi 12 persen. Namun demikian pelaku pasar diharapkan untuk “STAY CAUTIOUS” atau lebih berhati-hati dalam trading pada pekan ini, sebagai antisipasi kalau terjadi hal-hal di luar perkiraan seperti kasus Brexit beberapa waktu lalu.

Saya sendiri berharap kenaikan Fed rate dapat dilakukan secepatnya. Mengapa? Bukan karena saya sudah tidak ada barang lagi, tetapi saya ingin agar ketidakpastian yang tengah terjadi pada market dapat segera berakhir. Memang market akan mengalami penurunan jika fed rate naik dan akan mengalami adjusment lagi. Tapi penurunan tersebut akan segera berakhir ketika market telah menemukan titik keseimbangan barunya. Hal ini sudah terjadi berulang-ulang sejak dari tappering off (pengurangan stimulus), hingga kenaikan fed rate pertama kali pada akhir tahun lalu.

Diluar dugaan, sentimen cukup positif datang dari hasil realisasi amnesty pajak. Hingga akhir pekan kemaren, dana yang masuk ke kas negara dari hasil amnesty pajak telah mencapai Rp. 29,1 triliun atau 17,6 persen dari target pemerintah sebesar Rp. 165 triliun. Kenaikan ini sangat pesat, mengingat pada akhir pekan sebelumnya capaian uang yang masuk ke kas negara baru Rp. 8,92 triliun. Perkiraan ini diluar ekspektasi kami, yang memperkirakan akan terkumpul sekitar 25-30 triliun rupiah hingga akhir bulan September sebagai batas berakhirnya periode pertama penebusan pajak. Dengan akselerasi yang sedemikian cepat, maka saya menjadi optimis bahwa capaian pajak hingga akhir bulan dapat menembus 50 triliun rupiah, mengingat masih ada waktu sekitar 2 pekan kedepan.

Walaupun hasil pencapaian tax amnesty mulai menunjukan akselerasinya dan data ekonomi masih cenderung positif, hal ini tidak otomatis membuat pemerintah optimis. Setelah menurunkan pertumbuhan GDP tahun 2017 ke angka 5,1%, pemerintah kembali mengeluarkan pernyataan adanya kemungkinan pelebaran defisit pada APBN-P 2016. Diperkirakan defisit anggaran akan melebar ke level 2,5-2,7% (di atas 2,5% yang merupakan target awal) terhadap PDB untuk tahun anggaran 2016, seiring masih jauhnya realisasi target penerimaan negara dari sektor pajak. Intonasi dari ketidak-optimisme  pemerintah inilah yang membuat market masih terlihat berat untuk bergerak naik.

Secara tenikal, IHSG masih cenderung bergerak melemah di dalam trend turun jangka pendeknya. IHSG gagal bertahan di level 5300, karena setelah menyentuh 5305 kembali tertekan oleh aksi profit taking pada akhir pekan kemaren. Terdapat gap atas di 5358-5364 yang akan menjadi level resisten bagi IHSG pada pekan ini. Sedangkan untuk level support diperkirakan akan berada di 5200. Jika gagal beratahan di support level psikologis 5200, IHSG berpotensi turun menuju target 5116-5128. Indikator teknikal Stochastic kembali golden cross dan telah keluar dari area overbought. Sementara penurunan MACD mulai tertahan dibawah centreline. Dari kondisi teknikal tersebut mengindikasikan bahwa IHSG sedang bergerak mixed dan cenderung berkonsolidasi dalam trend turun jangka pendeknya. IHSG dapat dikatakan mengakhiri trend turun jangka pendeknya apabila mampu menguat diatas MA 20 nya lagi.

18september16-ihsg

Pekan ini selain menunggu keputusan Fed dan BI rate, agenda dan data ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar adalah:

  • Hari Rabu: Rilis data neraca perdagangan Jepang dan Kebijakan BOJ (Bank Of Japan), Rilis data persediaan minyak AS dan pers konferensi The Fed serta keputusan suku bunga Fed
  • Hari Kamis: Pernyataan Ketua ECB Mario Draghi dan rilis data kepercayaan konsumen Zone Eropa, Rilis data klaim pengangguran AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Jika melihat chart weekly IHSG yang membentuk pola doji, mengindikasikan berimbangnya kekuatan buyer dan seller, maka IHSG saat ini berada diarea persimpangannya. Pergerakan IHSG akan tergantung dari keputusan Fed dan BI, apakah akan mengecewakan atau mendukung ekspektasi investor.

Bagi trader disarankan lebih berhati-hati pada pekan ini dan selalu kontrol resiko serta disiplin dengan trading plans yang telah dibuat. Tetap safe trading dalam menerapkan strategi trading jangka pendek. Sementara bagi investor lebih baik wait & see sambil menunggu kepastian dari kebijakan Fed dan BI rate. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*