Setelah Anjlok Tajam, IHSG Ada Potensi Untuk Alami Teknikal Rebound Sesaat

Bursa Wall Street ditutup bervariasi dengan sebagian besar indeks saham utama AS cenderung bergerak melemah di akhir pekan. Pelemahan ini terkait kekhawatiran terhadap wabah virus korona yang berdampak pada perekonomian global. Kekhawatiran atas virus korona juga telah menyebabkan beberapa perusahaan mengeluarkan perkiraan pendapatan yang melemah. Namun pernyataan The Fed yang mengatakan akan bertindak sesuai keadaan untuk menjaga ekonomi AS tetap kuat meredakan tekanan jelang penutupan pasar. Dow Jones terkoreksi 357,28 poin (-1,39%) ke level 25.409,36, S&P 500 kehilangan 24,54 poin (-0,82%) ke 2.954,22, sedangkan Nasdaq berakhir flat dengan naik tipis 0,89 poin (+0,01%) menjadi 8.567,37. Dalam sepekan ketiga indeks bursa saham utama AS jatuh ke level terburuk jika dihitung sejak krisis keuangan global tahun 2008. Secara mingguan Dow Jones anjlok -12,36%, S&P 500 ambles -11,49% dan Nasdaq merosot -10,54%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG melemah 82,99 poin (-1,5%) ke level 5.452,704 pada akhir pekan.  Investor asing membukukan net sell sebesar Rp 105 miliar di pasar reguler. Dalam sepekan, IHSG tergerus turun -7,3% dengan disertai keluarnya pemodal asing dari pasar saham setelah mencatatkan net sell di pasar reguler senilai Rp 3,84 triliun.

Cemas dan panik adalah dua kata yang menggambarkan psikologis pelaku pasar pada pekan lalu. Semua bursa saham dunia rontok, seiring perilaku investor global yang resah dengan penyebaran virus korona. Pelaku pasar khawatir setelah dampak virus korona makin meluas tidak hanya di China, namun hingga seluruh dunia, sehingga dikhawatirkan akan menjadi pandemi. Lonjakan kasus baru virus korona secara signifikan yang terjadi di luar China, membuat investor memilih risk averse mode dan beralih ke aset-aset safe haven. Hal ini terjadi setelah lebih dari 50 negara (meningkat tajam 2 kali lipat jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya yang hanya 26 negara) telah melaporkan terpapar oleh virus tersebut, sehingga menjadi ancaman serius bagi perekonomian global.

Panic selling yang terjadi akibat wabah virus korona membuat IHSG turun tajam pada pekan lalu. Secara teknikal setelah sempat berkonsolidasi, IHSG kembali masuk ke fase downtrend. Namun setelah sempat turun tajam hingga 5.288, IHSG akhirnya berhasil mengurangi penurunannya dan ditutup di level 5.452 pada akhir perdagangan pekan kemaren. Kondisi ini membuka peluang terjadinya teknikal rebound sementara, setelah IHSG berhasil membentuk pola candle bullish pin bar yang mengindikasikan sinyal terjadinya reversal pembalikan arah. Indikator teknikal MACD yang bergerak turun di bawah centreline mengindikasikan bahwa trend IHSG masih cenderung bergerak negatif. IHSG dalam minggu ini diperkirakan akan bergerak dikisaran area support 5.288 dan resistance 5.686.

Untuk minggu ini seperti biasa memasuki awal bulan, pelaku pasar menunggu rilis data ekonomi yaitu data manufaktur dan inflasi bulan februari pada awal pekan. BI memperkirakan laju inflasi pada bulan Februari 2020 akan berada dikisaran 0,31%. Sedangkan pada hari jum’at akan dirilis data cadangan devisa hingga akhir februari. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari pelaku pasar pada pekan ini diantaranya adalah:

  • Senin 2 Maret 2020 : Rilis data manufaktur China, Rilis data manufaktur AS
  • Selasa 3 Maret 2020 : Rilis data ijin bangunan dan kebijakan suku bunga Australia, Rilis data keyakinan konsumen Jepang
  • Rabu 4 Maret 2020 : Rili data GDP Australia, Rilis data pekerjaan ADP AS dan sektor jasa AS
  • Kamis 5 Maret 2020 : Rilis data perdagangan Australia, Meeting OPEC, Pernyataan Gubernur BOE Carney
  • Jum’at 6 Maret 2020 : Rilis data penjualan ritel Australia, Rilis data perdagangan, pekerjaan dan tingkat pengangguran AS

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Merebaknya virus korona ke seluruh dunia menjadi sentimen utama yang mendominasi tren penurunan bursa saham global, termasuk IHSG. Namun setelah turun tajam pada pekan lalu, terbuka potensi terjadinya teknikal rebound sementara. IHSG kemungkinan akan memasuki pola konsolidasi sesaat tapi masih dalam tren turun. Apabila terjadi rebound, maka IHSG berpeluang menutup gap di 5.526. Perhatikan level support sementara di 5.288, jika masih tertembus ke bawah maka IHSG berpotensi melanjutkan tren penurunan (bearish) nya.

Tetap disarankan untuk safe trading. Selalu waspada dan hati-hati apabila kondisi pasar masih tidak kondusif dan ketidakpastian terus berlanjut. Cermati arah perkembangan pasar dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/