Menunggu Langkah The Fed Dan BI Menurunkan Suku Bunga Acuannya Lagi

Bursa Wall Street ditutup melonjak pada akhir pekan, rebound dari penurunan tajam pada sesi perdagangan sehari sebelumnya yang tercatat terburuk sejak kejatuhan pasar Black Monday pada tahun 1987. Penguatan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan darurat nasional virus korona sehingga memungkinkan pengucuran dana sebesar US$ 50 miliar untuk melawan pandemi virus tersebut. Ketua DPR Nancy Pelosi mengatakan anggota parlemen AS dan Gedung Putih hampir mencapai kesepakatan mengenai bantuan ekonomi di tengah wabah korona, berupa pemangkasan Pajak Penghasilan (PPh) menjadi 0% alias tidak dikenakan pajak sama sekali. Sentimen lainnya yang mendukung adalah pernyataan The Fed yang akan mulai membeli obligasi Treasury di semua tenor, yang dimulai dengan obligasi 30 tahun untuk mengatasi gangguan yang sangat tidak biasa di pasar obligasi karena wabah virus korona. Dow Jones ditutup melonjak 1,985 poin (+9,36%) ke posisi 23.185,62, yang merupakan kenaikan harian terbesar yang pernah terjadi. S&P 500 menguat 230,38 poin (+9,29%) menjadi 2.711,02, sedangkan Nasdaq meningkat 673,07 poin (+9,35%) menjadi 7.874,88. Kedua indeks mencatat kenaikan satu hari terbesar sejak Oktober 2008. Meski melesat di perdagangan akhir pekan, namun sepanjang minggu lalu ketiga indeks saham utama AS tersebut masih mengalami penurunan tajam. Dalam sepekan, Dow Jones ambles -10,36%, S&P 500 melorot -8,79% dan Nasdaq merosot -8,17% .

Sementara dari dalam negeri, IHSG menguat 11,823 poin (+0,24%) ke level 4.907,571 pada akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 581 miliar di pasar reguler. Meski berhasil menguat di akhir pekan, namun total sepanjang pekan lalu IHSG tercatat ambles -10,75% dan menjadi kinerja mingguan terburuk dalam nyaris 12 tahun terakhir sejak bulan Oktober 2008. Penurunan ini juga diikuti dengan keluarnya dana asing yang tercatat mengalami net sell sebesar 2,1 triliun di pasar regular dalam sepekan.

Aksi jual yang masif membuat bursa saham dunia, termasuk IHSG mengalami pekan paling horror sejak krisis keuangan global tahun 2008. Transaksi perdagangan di BEI bahkan harus mengalami penghentian sementara (trading halt) selama 30 menit sebanyak 2 kali di pekan lalu, akibat IHSG jatuh lebih dari 5% dalam sehari. Bahkan IHSG sempat menyelam hingga menembus ke bawah level 5.000, dengan level terendah yang di capai di angka 4.639 pada akhir pekan, sebelum akhirnya rebound dan ditutup di 4.907. Penyebab aksi jual di bursa saham global setelah WHO secara resmi menyatakan bahwa wabah virus korona sebagai pandemi global setelah menyebar dengan cepat hingga ke lebih dari 100 negara dan dikhawatirkan akan menekan pertumbuhan ekonomi global cukup dalam.

Hampir seluruh pembuat kebijakan dan bank sentral negara-negara di dunia saat ini berlomba-lomba mengeluarkan stimulus guna meredam kekhawatiran berlebih dan mengurangi dampak dari wabah virus korona bagi pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini yang membuat pasar saham global akhirnya berhasil rebound di akhir pekan. Secara teknikal IHSG masih berada di fase downtrend dan terlihat bergerak dalam pola turun. Candle terakhir IHSG cukup menarik setelah membentuk pola bullish pin bar dengan ekor bawah yang sangat panjang, mengindikasikan kekuatan buyer mulai muncul dan melawan tekanan seller. Jika skenario positif ini berlanjut, maka IHSG berpeluang rebound dan menutup gap terdekat dikisaran 5040-5112. Apabila mampu melewati gap tersebut, maka IHSG berpeluang menguji area resistance dikisaran level 5278-5288 pada pekan ini. Sementara untuk area support pekan ini berada di level 4.639. Indikator tenikal MACD yang masih bergerak turun, mengindikakan bahwa indeks masih cenderung bergerak dalam pola turun.

Untuk minggu ini, pelaku pasar  akan mencermati data ekspor-impor dan neraca dagang bulan februari di awal pekan. Selain itu investor juga menunggu pertemuan BI pada hari kamis yang diharapkan akan kembali memangkas suku bunga acuannya guna mendorong perekonomian nasional yang diperkirakan akan melambat karena wabah virus korona. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari pelaku pasar pada pekan ini diantaranya adalah:

  • Senin 16 Maret 2020 : Rilis data industrial China, Meeting G7
  • Selasa 17 Maret 2020 : Laporan meeting Kebijakan Moneter Australia, Rilis data pekerjaan Inggris, Rilis indeks sentimen ekonomi Jerman, Rilis data penjualan ritel AS
  • Rabu 18 Maret 2020 : Rilis data perdagangan Jepang, Kebijakan suku bunga Fed
  • Kamis 19 Maret 2020 : Rilis data inflasi Jepang, Rilis data pekerjaan Australia, Kebijakan moneter Jepang

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Setelah penurunan tajam pada pekan lalu, kemungkinan IHSG berpotensi mengalami teknikal rebound dan berkonsolidasi di pekan ini. Pelaku pasar berharap BI dan The Fed memangkas suku bunga acuannya kembali agar bisa menahan laju penurunan pasar. Selain itu pasar juga berharap dari aksi buyback beberapa emiten BUMN dan swasta, serta aksi beli besar-besaran yang akan dilakukan oleh beberapa institusi seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi. Namun meski IHSG ada potensi rebound, tapi kemungkinannya masih bersifat terbatas. Terlebih mengingat jumlah pasien positif korona di Indonesia yang jumlahnya terus meningkat pada akhir pekan.

Untuk itu tetap disarankan safe trading, karena pasar saham masih dalam fase downtrend. Tetap waspada terutama apabila IHSG kembali turun dan gagal bertahan di support 4.639, karena berpeluang untuk melanjutkan tren turunnya dengan target menuju ke level 4200-an. Tetap berhati-hati apabila kondisi pasar masih tidak kondusif dan ketidakpastian terus berlanjut. Cermati arah perkembangan pasar dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/