IHSG Berkonsolidasi Membentuk Pola Ascending Broadening Wedge, What Next?

Bursa saham Wall Street ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan setelah reli imbal hasil obligasi mereda dan laporan data pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan mendorong optimisme untuk pemulihan ekonomi yang lebih cepat. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun turun kembali ke 1,55% setelah melonjak di atas 1,6% dan menyentuh level tertinggi 2021, menyusul data yang menunjukkan lonjakan dalam pertumbuhan pekerjaan. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan data nonfarm payrolls melonjak 379.000 lebih tinggi dari ekspektasi 210.000 dan tingkat pengangguran turun menjadi 6,2% dari level 6,3% pada Januari. Pasar juga fokus pada usulan bantuan virus corona senilai US$ 1,9 triliun ketika Senat AS memulai perdebatan panjang mengenai sejumlah amandemen tentang bagaimana uang itu akan dibelanjakan. Dow Jones ditutup naik 572,16 poin (+1,85%) ke level 31.496,3 poin, S&P 500 menguat 73,47 poin (+1,95%) menjadi 3.841,94 dan Nasdaq meningkat 196,68 poin (+1,55%) menjadi 12.920,15. Dalam sepekan ketiga indeks bursa saham utama AS bergerak bervariasi, dengan Dow Jones mengalami kenaikan sebesar +1,82% dan S&P 500 menguat +0,81%, sedangkan Nasdaq turun -2,06%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup melemah 32,049 poin (-0,51%) ke level 6.258,75 pada akhir pekan. Investor asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp 183 miliar di pasar reguler. Untuk sepanjang pekan lalu, IHSG berhasil naik tipis +0,27% meskipun investor asing membukukan net sell senilai Rp 25 miliar di pasar reguler.

IHSG masih sanggup menguat sepanjang pekan lalu, melanjutkan kenaikannya menjadi 5 minggu bertuturut-turut. Pergerakan IHSG pekan lalu dipengaruhi oleh sejumlah sentimen positif dan negatif yang berasal dari dalam maupun luar negeri. IHSG mendapatkan katalis positif dari pembebasan PPN bagi pembelian properti dari developer ke pembeli. Sejumlah stimulus moneter maupun insentif pajak yang dikeluarkan oleh pemerintah dan BI dinilai masih menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG. Sementara sentimen negatif datang dari kenaikan kembali imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun. Meskipun Gubernur The Fed Jerome Powell telah menyampaikan bahwa bank sentral AS masih akan mempertahankan kebijakan moneter akomodatif untuk beberapa waktu ke depan, namun kenaikan yield dinilai menjadi risiko yang menekan pasar keuangan global. Di sisi lain, volatilitas harga komoditas minyak dan nikel turut mewarnai pergerakan IHSG sepanjang pekan lalu.

Secara teknikal, IHSG terlihat bergerak dalam pola konsolidasi yang lebar membentuk ascending broadening wedge pattern. Sesuai dengan namanya broadening yang artinya melebar pola ini membentuk seperti corong yang menghadap keatas (ascending), seperti yang terlihat pada chart di bawah ini. 

IHSG akan bergerak signifikan apabila mampu breakout dari resistance pola tersebut dikisaran 6428. Jika dapat menembus keatas resistance pola tersebut, maka IHSG berpeluang melanjutkan reli kenaikannya menuju target dikisaran 6600. Namun apabila turun ke bawah support 6184, maka IHSG akan meluncur ke bawah dengan target teoritis sesuai pola tersebut menuju kisaran 5975.

Untuk minggu ini tidak ada data ekonomi penting dari dalam negeri yang akan dirilis. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di pekan ini antara lain adalah :

  • Senin 8 Maret 2021 : Pernyataan Gubernur BOE Bailey.
  • Selasa 9 Maret 2021 : Rilis data perdagangan Jerman, Pernyataan Gubernur RBA Lowe.
  • Rabu 10 Maret 2021 : Rilis data inflasi China, Rilis data inflasi AS.
  • Kamis 11 Maret 2021 : Kebijakan moneter dan suku bunga serta konferensi pers ECB.
  • Jum’at 12 Maret 2021 : Rilis data perdagangan Inggris.

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Pergerakan IHSG pada pekan ini masih dibayangi kekhawatiran kenaikan yield obligasi pemerintah AS seiring dengan pemulihan ekonomi di negara tersebut. Kenaikan imbal hasil obligasi ini dapat memunculkan kenaikan inflasi di AS. Kondisi ini membuat khawatir pelaku pasar karena menimbulkan pekulasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan. Selain itu, volatilitas harga komoditas seperti minyak, batu bara, nickel, timah dan CPO, serta rilis laporan keuangan emiten juga akan mewarnai pergerakan IHSG di pekan ini. Kemungkinan IHSG berpotensi bergerak dalam pola konsolidasi yang lebar dalam range area 6184-6428. IHSG masih relatif aman selama support 6184 tidak tembus ke bawah.

Ditengah ketidakpastian kondisi pasar saat ini, tetap disarankan untuk safe trading dan selalu waspada, serta kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca berakhirnya pandemi Covid-19 nanti. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/