IHSG Belum Bisa “Move On” Dari Level Psikologis 6.000, What Next?

Bursa Wall Street ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan, terbebani oleh penurunan saham-saham teknologi papan atas seperti Amazon, Apple dan Alphabet, meski mencatatkan kinerja laba kuartalan yang kuat. Sementara data ekonomi yang dirilis menunjukkan belanja konsumen AS rebound pada bulan Maret di tengah lonjakan pendapatan, karena rumah tangga AS menerima tambahan uang bantuan pandemi Covid-19 dari pemerintah. Dow Jones ditutup turun 185,51 poin (-0,54%) ke level 33.875,31 poin, S&P 500 melemah 30,30 poin (-0,72%) menjadi 4.181,21 dan Nasdaq melorot 119,86 poin (-0,85%) menjadi 13.962,68. Secara mingguan ketiga bursa saham utama AS bergerak variatif, dengan Dow Jones melemah -0,5%, S&P 500 bergerak datar dengan menguat tipis +0,02%, sedangkan Nasdaq turun -0,39%. Semetara untuk sepanjang bulan April Wall Street ditutup menguat, dengan Dow Jones mengalami kenaikan +2,7%, S&P 500 melonjak +5,2% dan Nasdaq melesat +5,4%.

Dari dalam negeri, IHSG pada perdagangan akhir pekan ditutup melemah 17,34 poin (-0,29%) ke level 5.995,616, meski investor asing membukukan pembelian bersih senilai 139 miliar di pasar reguler. Dalam sepekan IHSG terkoreksi -0,35%, dengan diikuti oleh keluarnya dana asing di pasar reguler sebesar Rp 363 milyar. Sepanjang bulan April, IHSG berhasil menguat tipis +0,17% meski investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 3,42 triliun di pasar reguler.

Sepanjang pekan lalu IHSG bergerak lesu karena pelaku pasar merespon negatif prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang terus terpangkas, di tengah rilis kinerja keuangan emiten yang kurang memuaskan. IHSG gagal menguat, meski resiko terjadinya capital outflow (taper tantrum) mulai memudar seiring sikap The Fed yang masih dovish dengan mempertahankan suku bunga acuannya di level terendah dan kebijakan pembelian obligasi AS per bulan yang tidak berubah. Lonjakan kasus baru Covid-19 di beberapa negara serta naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang kembali ke atas 1,6% masih menjadi kekhawatiran para pelaku pasar.

IHSG mengalami konsolidasi dengan bergerak keluar-masuk level psikologis 6.000. Secara teknikal pergerakan IHSG pekan lalu masih sama dengan pekan sebelumnya. IHSG masih melanjutkan fase konsolidasinya dengan bergerak sideways dalam jangka pendek dikisaran area trading 5.883 hingga 6.115. Indikator teknikal MACD yang bergerak mendatar namun telah golden cross, mengindikasikan bahwa IHSG masih berkonsolidasi dengan kecenderungan bergerak positif. Arah pergerakan IHSG selanjutnya akan ditentukan apabila level resistance 6.115 dapat ditembus ke atas.

Untuk minggu ini investor akan mencermati rilis data PMI Manufaktur dan inflasi bulan April yang akan dirilis pada hari senin. Sedangkan pada hari rabu akan dirilis data GDP kuartal I-2021. Rilis data tersebut dapat memberikan sentimen yang cukup kuat bagi pergerakan IHSG di pekan ini. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di pekan ini antara lain adalah :

  • Senin 3 Mei 2021 : Pernyataan Ketua The Fed Powell
  • Selasa 4 Mei 2021 : Rilis data perdagangan dan Kebijakan suku bunga Australia, Rilis data perdagangan AS
  • Kamis 6 Mei 2021 : Keputusan suku bunga dan kebijakan moneter BOE Inggris
  • Jumat 7 Mei 2021 : Rilis data pekerjaan dan tingkat pengangguran AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Pasar saham Indonesia masih belum dapat move on, karena terjebak dikisaran area level psikologis 6.000. IHSG masih berada di fase sideways dalam jangka pendek di area konsolidasi 5.883 hingga 6.115. Sementara ini tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menunggu IHSG menunjukkan arah yang lebih jelas, apakah akan menembus ke bawah support 5.883 ataukah melewati resistance 6.115. Cermati rilis data GDP kuartal I-2021 yang keluar pada hari rabu, karena dapat menjadi sentimen yang cukup kuat bagi pergerakan IHSG apabila data yang keluar di luar ekspektasi pasar.

Tetap disarankan untuk safe trading dan selalu waspada, serta kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca berakhirnya pandemi Covid-19 nanti. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/