Belum Mampu Melewati Resistance 6.115, IHSG Masih Bergerak Dalam Fase Konsolidasi

Bursa Wall Street berakhir mixed dengan mayoritas indeks cenderung bergerak menguat pada perdagangan akhir pekan, setelah pelaku pasar berspekulasi bahwa kenaikan inflasi hanya sementara saja di tengah pemulihan ekonomi AS. Kesepakatan Senat bipartisan tentang belanja infrastruktur yang dinyatakan oleh Presiden AS Joe Biden pada hari Kamis terus mengangkat saham dan mendorong indeks S&P 500 kembali menyentuh rekor tertinggi. Dow Jones ditutup naik 237,02 poin (+0,69%) ke level 34.433,84 dan S&P 500 menguat 14,21 poin (+0,33%) menjadi 4.280,7, sedangkan Nasdaq melemah tipis 9,32 poin (-0,06%) ke level 14.360,39. Dalam sepekan ketiga indeks bursa saham utama AS berhasil menguat, dengan Dow Jones meningkat +3,44%, S&P 500 naik +2,74% dan Nasdaq bertambah +2,35%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG menguat tipis 10,343 poin (+0,17%) ke level 6.022,399 pada akhir pekan. Investor asing membukukan pembelian bersih sebesar Rp. 160 miliar di pasar reguler. Sepanjang pekan lalu, IHSG berhasil naik +0,25%, meski investor asing mencatatkan foreign net sell senilai Rp 703 miliar di pasar reguler.

Meski pergerakan IHSG pada pekan lalu diselimuti oleh sentimen negatif, namun indeks berhasil ditutup menguat dalam sepekan. Meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di dalam negeri, dibarengi oleh kekhawatiran investor akan tapering menjadi katalis negatif yang mempengaruhi pergerakan IHSG. Namun kondisi tersebut berbalik setelah The Fed kembali menyatakan tidak akan menaikkan suku bunga acuan hanya karena inflasi yang meninggi. Pernyataan ketua The Fed Jerome Powell di depan Kongres AS yang kembali mengatakan bahwa tekanan inflasi AS hanya bersifat temporer dan bank sentral tidak akan mengacu pada inflasi dalam menentukan kenaikan suku bunga berhasil meredakan kekhawatiran seputar fenomena taper tantrum. Pelaku pasar juga mengapresiasi keputusan Presiden Jokowi dalam memilih kebijakan PPKM Mikro, ketimbang PSBB skala Nasional atau lockdown total, sehingga menjadi sentimen positif yang membuat IHSG menguat tipis pada pekan lalu.

Secara teknikal IHSG masih berkonsolidasi setelah gagal menembus area resistance level 6.115-6.134. Selama resistance tersebut belum mampu dilewati maka IHSG berpeluang bergerak sideways dengan area support terdekat dikisaran gap bawah sebelumnya di level 5.947-5.972. Indikator teknikal MACD yang bergerak sideways mengindikasikan bahwa  IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi.

Skenario bullish, apabila mampu melewati resistance level 6.134 dan membentuk pola higher high, maka IHSG akan mengakhiri tren turun dan mulai bergerak uptrend karena berhasil menembus downtrend resistline dengan target kenaikan selanjutnya ada dikisaran 6.239. Sementara skenario bearish, apabila turun dan gagal bertahan di support gap sebelumnya di level 5.947 maka IHSG berpeluang melemah menuju 5.884 lagi.

Untuk minggu ini seperti biasa di awal bulan nanti, pelaku pasar akan mencermati rilis data manufaktur dan inflasi bulan Juni pada hari kamis. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di pekan ini antara lain adalah :

  • Rabu 30 Juni 2021 : Rilis data manufaktur China
  • Kamis 1 Juli 2021 : Rilis data perdagangan Australia, Rilis data manufaktur zona eropa, pertemuan OPEC, Rilis data manufaktur AS
  • Jum’at 2 Juli 2021 : Pernyataan Gubernur BOE Bailey, Pernyataan Presiden ECB Lagarde, Rilis data perdagangan, tenaga kerja dan tingkat pengangguran AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Katalis negatif terkait lonjakan kasus harian Covid-19 dalam negeri yang terus mencetak rekor masih akan menahan kenaikan IHSG. Diperkirakan IHSG masih akan berkonsolidasi dikisaran area trading 5.947 hingga 6.134 di minggu ini. Hati-hati apabila IHSG gagal bertahan di 5.947, karena akan mengakhiri konsolidasinya dan mulai bergerak turun dengan target penurunan terdekat di 5.884 dan target selanjutnya dikisaran 5.740.

Untuk itu disarankan tetap safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca berakhirnya pandemi Covid-19 nanti. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/