IHSG Cenderung Bergerak Volatile Menunggu Hasil RDG BI Dan Meeting The Fed

Bursa Wall Street ditutup melemah di perdagangan akhir pekan dipicu oleh ketidakpastian kenaikan pajak korporasi, meluasnya varian Delta Covid-19, serta meeting The Fed yang kemungkinan akan terjadi pergeseran kebijakan terkait timeline untuk tapering. Saham emiten teknologi papan atas menjadi lokomotif pelemahan Wall Street, karena terbebani kenaikan imbal hasil treasury AS dan sejumlah data indikator ekonomi yang kuat, mendorong investor untuk mulai beralih ke sektor yang sensitif secara ekonomi dengan melepas saham teknologi. Potensi kenaikan pajak perusahaan yang dapat memakan pendapatan juga membebani pasar, setelah kubu partai Demokrat berusaha menaikkan tarif pajak tertinggi pada perusahaan menjadi 26,5% dari 21% saat ini. Dow Jones ditutup turun 166,44 poin (-0,48%) ke level 34.584,88, Nasdaq anjlok 137,96 poin (-0,91%) menjadi 15.043,97 dan S&P 500 juga melemah 40,76 poin (-0,91%) ke posisi 4.432,99. Untuk sepanjang minggu, ketiga indeks bursa saham utama AS berakhir melemah. Dalam sepekan Dow Jones turun tipis -0,07%, S&P 500 berkurang -0,57% dan Nasdaq terpangkas -0,47%.

Dari dalam negeri, IHSG ditutup menguat 23,304 poin (+0,38%) ke level 6.133,246 pada akhir pekan. Investor asing membukukan pembelian bersih sebesar Rp 585 miliar di pasar reguler. Secara mingguan IHSG tercatat menguat +0,63% dengan investor asing membukukan net buy selama sepekan senilai Rp 1,68 triliun di pasar reguler.

Pasar saham Indonesia masih melanjutkan fase konsolidasinya meski dapat ditutup menguat dibandingkan penutupan minggu sebelumnya. Sepanjang pekan, pergerakan IHSG masih cenderung sideways karena investor mengambil sikap wait and see menunggu rencana pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed. Katalis bagi IHSG datang dari sentimen domestik, karena adanya pelonggaran PPKM di Jawa-Bali setelah Covid-19 di Tanah Air semakin terkendali. Di sisi lain, rilis data perdagangan bulan Agustus 2021 yang mencatatkan surplus sebesar US$ 4,74 miliar, atau tertinggi sejak tahun 2006 dan dua kali lebih tinggi dari consensus pasar di US$ 2,32 miliar menjadi katalis positif bagi IHSG di pekan lalu.

Secara teknikal pasar saham Indonesia masih terus bertahan diatas level psikologis garis MA 200 hariannya (garis warna merah). Meski cenderung berkonsolidasi, IHSG terlihat masih bergerak naik di dalam uptrend channel jangka pendeknya (garis sejajar warna biru). Apabila mampu bertahan diatas garis psikologis MA 200 dan bergerak naik menembus keatas resistance level 6.169, maka akan IHSG akan menjalankan skenario bullish menuju target dikisaran 6.223 hingga 6.263. Namun jika turun ke bawah psikologis MA 200, IHSG berpeluang menguji area support 6.003. Nantinya apabila penurunan berlanjut, maka IHSG akan menjalankan skenario bearish dengan target menuju kisaran 5.884. Indikator teknikal MACD yang mulai golden cross diatas centreline mengindikasikan bahwa IHSG cenderung untuk bergerak positif. 

Untuk minggu ini pelaku pasar akan mencermati pertemuan BI yang diperkirakan masih akan menahan kebijakan suku bunganya tetap di level 3,5% pada hari selasa. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di pekan ini antara lain adalah :

  • Selasa 21 September 2021 : Kebijakan moneter Bank Sentral Australia RBA
  • Rabu 22 September 2021 : Kebijakan moneter dan suku bunga serta konferensi pers Bank Sentral Jepang BOJ, Kebijakan moneter dan suku bunga serta proyeksi ekonomi dan konferensi pers The Fed,
  • Kamis 23 September 2021 : Rilis data manufaktur PMI dan sektor jasa zona eropa, Kebijakan moneter dan suku bunga Bank Sentral Inggris BOE
  • Jum’at 24 September 2021 : Rilis data inflasi Jepang, Pernyataan Ketua The Fed Powell

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Pergerakan IHSG pekan ini akan dipengaruhi oleh kebijakan moneter dan hasil konferensi pers dari bank-bank sentral dunia yang akan mengadakan pertemuannya di pekan ini, antara lain seperti RBA (Australia), The Fed (AS), BOJ (Jepang), BOE (Inggris) dan BI (Indonesia). Proyeksi kondisi ekonomi dan kebijakan moneter yang akan diambil oleh bank sentral akan menentukan pergerakan pasar saham negara tersebut dan mewarnai pergerakan market global.   

Untuk itu tetap disarankan safe trading dan hati-hati, serta kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat, karena IHSG masih dalam fase konsolidasi serta belum terlihat mampu bergerak optimis dan cenderung volatile menanti hasil RDG BI dan rapat The Fed. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca berakhirnya pandemi Covid-19 nanti. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/