IHSG Bullish Mendekati Level Psikologis 6.500, What Next?

Bursa Wall Street ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan, setelah rilis data pertumbuhan lapangan kerja AS periode September yang lebih lemah dari perkiraan, meski para investor tampaknya masih yakin bahwa The Fed akan mulai mengurangi pembelian aset (tapering off) pada akhir tahun ini. Rilis data nonfarm payrolls AS periode September menunjukkan hanya bertambah 194.000 pada September, atau jauh dari ekspektasi di angka 500.000, serta lebih buruk dari angka Agustus (versi revisi) yang sebesar 366.000. Angka tersebut menjadi yang terendah dalam 9 bulan terakhir karena perekrutan turun dan beberapa sektor bisnis kekurangan pekerja. Persentase pengagguran turun menjadi 4,8% dari 5,2% di periode Agustus. Sementara pendapatan rata-rata pekerja per jam naik 0,6%, lebih tinggi dari ekspektasi. Dow Jones ditutup turun tipis 8,69 poin (-0,03%) ke level 34.746,25, S&P 500 berkurang 8,42 poin (-0,19%) menjadi 4.391,34 dan Nasdaq melemah 74,48 poin (-0,51%) ke posisi 14.579,54. Adapun selama sepekan, ketiga indeks bursa saham AS berhasil ditutup menguat dengan Dow bertambah +1,22%, S&P 500 naik +0,79% dan Nasdaq menguat tipis +0,09%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup menguat 65,374 poin (+1,02%) ke level 6.481,77 pada perdagangan akhir pekan.  Investor asing membukukan net buy sebesar Rp 1,73 triliun di pasar reguler. Selama sepekan IHSG berhasil melesat +4,06% dengan disertai masuknya aliran dana asing di pasar reguler senilai Rp 10,31 triliun. 

Beberapa sentimen positif yang mewarnai IHSG selama sepekan mayoritas berasal dari domestik, diantaranya adalah reli harga komoditas energi seperti batu bara, migas dan CPO yang turut mendorong harga saham produsennya. Kenaikan harga komoditas ini dipicu oleh adanya krisis energi yang melanda berbagai negara akibat kelangkaan pasokan gas. Mengingat Indonesia adalah eksportir terbesar dunia untuk batu bara dan CPO, maka kenaikan harga 2 komoditas ini turut mendongkrak kinerja ekspor Indonesia sehingga tidak hanya menggairahkan perekonomian nasional, namun juga menopang stabilitas nilai tukar rupiah. Naiknya kinerja ekspor Indonesia turut meningkatkan cadangan devisa RI di akhir periode September 2021 sebesar US$ 2,1, menjadi US$ 146,9 miliar yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan IHSG juga didorong oleh aksi beli investor asing terutama pada saham berkapitalisasi besar.

Secara teknikal pasca bertahan diatas garis psikologis MA 200-day (garis warna merah), IHSG terus melanjutkan reli kenaikannya bahkan menembus ke atas resistance dari uptrend channel-nya dan mendekati level psikologis 6.500. Indikator teknikal MACD yang terus bergerak naik di atas centreline mengindikasikan bahwa IHSG bergerak dalam tren positif.

Technically, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatannya menguji area resistance terdekat di 6.504. Apabila mampu dilewati, maka IHSG berpeluang menguat menuju target resistance selanjutnya dikisaran 6.634 hingga 6.693 yang merupakan level tertinggi sepanjang sejarah yang pernah di capai oleh IHSG. Namun kenaikan yang terlalu cepat membuat IHSG memasuki fase overbought dalam jangka pendek, sehingga membuka ruang terjadinya aksi profit taking dan berpeluang mengalami konsolidasi sesaat. Apabila terjadi pullback, IHSG berpotensi menguji area support terdekat di 6.387, dengan area support selanjutnya di 6.263 jika koreksinya berlanjut.

Untuk minggu ini pelaku pasar akan mencermati rilis data penjualan ritel nasional pada hari senin, serta data perdagangan dan ekspor-impor bulan September pada hari jum’at. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di pekan ini antara lain adalah :

  • Selasa 12 Oktober 2021 : Rilis data pekerjaan Inggris
  • Rabu 13 Oktober 2021 : Rilis data perdagangan China, Rilis data perdagangan dan GDP Inggris, Rilis data inflasi AS, Meeting The Fed
  • Kamis 14 Oktober 2021 : Rilis data pekerjaan Australia, Rilis data inflasi China, Rilis data indeks harga produsen AS
  • Jum’at 15 Oktober 2021 : Rilis data penjualan ritel AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Secara teknikal IHSG sudah masuk dalam tren bullish dan masih berpotensi menguat. Akan tetapi kemungkinan kekuatan naiknya tidak akan sebesar minggu kemaren. Sementara ini belum terlihat ada tanda-tanda akan terjadi koreksi. Namun jika terjadi koreksi, kemungkinan merupakan koreksi wajar karena sentimen beli masih cukup kuat, terutama jika aliran modal asing terus merangsek masuk ke bursa kita.

Tetap disarankan untuk safe trading dan hati-hati, serta kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat karena IHSG sudah naik cukup tinggi, sehingga ada potensi mengalami pullback sesaat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca berakhirnya pandemi Covid-19 nanti. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/