Cetak Rekor All Time High, IHSG Stay Bullish

Bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan akhir pekan di tengah kekhawatiran atas peningkatan kasus Covid-19 yang turut membebani pasar global. Dow Jones ditutup turun 268,97 poin (-0,75%) ke level 35.601,98 dan S&P 500 melemah 6,58 poin (-0,14%) ke posisi 4.697,96. Penurunan kedua indeks bursa saham utama AS tersebut disebabkan oleh merosotnya saham perbankan, energi, dan maskapai penerbangan di tengah kekhawatiran bahwa negara-negara Eropa yang kembali berjuang melawan lonjakan kasus Covid-19, dapat mengikuti langkah Austria yang menetapkan kebijakan penguncian penuh. Sebelumnya Jerman juga telah menerapkan pembatasan baru bagi orang yang belum divaksinasi seiring adanya gelombang keempat Covid-19 yang membuat kasus harian di negara tersebut menyentuh rekor tertinggi. Sementara itu Nasdaq ditutup menguat 63,73 poin (+0,40%) ke level 16.057,44, berhasil mencetak rekor dan ditutup di atas level 16.000 untuk pertama kalinya, didukung oleh kenaikan saham teknologi. Dalam sepekan, Bursa Wall street bergerak mixed dengan Dow Jones mengalami penurunan -1,38%, sedangkan S&P 500 berhasil naik +0,32% dan Nasdaq menguat +1,24% dalam seminggu.

Sementara dari dalam negeri, IHSG berhasil naik 83,794 poin (+1,26%) ke level 6.720,263 di perdagangan akhir pekan.  Investor asing membukukan net buy di pasar reguler senilai Rp 473 miliar. Sepanjang pekan lalu, IHSG berhasil menguat sebesar +1,04%, meski investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp. 325 milyar di pasar reguler.

Pasar saham Indonesia berhasil menembus level 6.700 dan kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Meski diwarnai oleh sentimen positif dan negatif yang datang dari dalam maupun luar negeri, IHSG berhasil mencatatkan sejarah baru. Sejumlah sentimen negatif IHSG berasal dari luar negeri, mulai dari kenaikan kasus Covid-19 di negara-negara Eropa seperti Jerman, Belanda dan Austria, hingga kekhawatiran tingginya inflasi AS dan China dari sisi produsen. Di sisi lain, sejumlah kabar baik datang dari dalam negeri diantaranya neraca dagang RI bulan Oktober yang kembali mencatatkan surplus sebesar US$ 5,74 miliar. Ini merupakan surplus dalam 18 bulan beruntun dan merupakan surplus dengan rekor tertinggi sepanjang masa. BI juga merilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang menunjukkan transaksi berjalan Indonesia mencetak surplus sebesar US$ 10,7 miliar pada kuartal III-2021. Jauh membaik ketimbang kuartal sebelumnya yang mengalami defisit sebesar US$ 0,4 miliar. Disamping itu, BI juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5% untuk kali ke-9 sepanjang tahun ini, seiring rendahnya inflasi dan nilai tukar rupiah yang cenderung stabil meski The Fed sudah melakukan tapering.

Secara teknikal IHSG bergerak uptrend setelah berhasil ditutup di level all time high baru di 6.720. Indikator teknikal Stochastic telah golden cross dan bergerak naik, sedangkan MACD bergerak mendatar, mengindikasikan bahwa indeks masih cenderung bergerak positif. IHSG berpeluang melanjutkan kenaikannya menuju target di resistance 6.828 pada minggu ini. Sedangkan untuk level support IHSG pekan ini diperkirakan berada dikisaran 6.621-6.592.

Minggu ini tidak ada data ekonomi penting dari dalam negeri yang akan dirilis. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di pekan ini antara lain adalah :

  • Selasa 23 November 2021 : Rilis data PMI manufaktur negara zona eropa, Rilis data PMI manufaktur dan sektor jasa AS
  • Rabu 24 November 2021 : Rilis data durable goods orders dan GDP AS.
  • Kamis 25 November 2021 : Laporan meeting The Fed
  • Jum’at 26 November 2021 : Pernyataan Gubernur BOE Bailey

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG masih bergerak di fase uptrend dan masih ada potensi untuk melanjutkan reli penguatannya. Jika terjadi koreksi diperkirakan hanyalah koreksi wajar dan cenderung terbatas pasca mencetak rekor. Jelang akhir tahun, investor juga mulai mengantisipasi terjadinya window dressing, sehingga apabila terjadi koreksi sehat akan digunakan sebagai kesempatan untuk melakukan akumulasi beli, tentunya pada saham-saham yang masih memiliki prospek dan kinerja bagus ke depan.

Namun tetap disarankan untuk safe trading dan selalu waspada, serta kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca berakhirnya pandemi Covid-19 nanti. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/