Diterjang Varian Baru Covid-19, Bursa Saham Global Rontok, What Next?

Bursa Wall Street ditutup melemah tajam pada perdagangan akhir pekan, dipicu oleh kecemasan pelaku pasar seputar munculnya varian baru virus Covid-19, di tengah jam perdagangan yang berkurang separuh pasca libur Thanksgiving atau yang biasa disebut sebagai Black Friday. Koreksi terjadi setelah pejabat WHO mengingatkan risiko varian baru Covid-19 yang merebak di Afrika, yang disebut sebagai varian Omicron. Pihak berwenang di seluruh dunia waspada terhadap varian virus corona yang ditemukan di Afrika Selatan, ditengah para peneliti yang masih berusaha untuk memastikan apakah varian tersebut resisten terhadap vaksin. Inggris dan Uni Eropa menjadi negara pertama yang memperketat kontrol perbatasannya, dengan menghentikan penerbangan sementara dari dan ke negara yang terkait dengan varian tersebut. Dow Jones ditutup ambles 905,04 poin (-2,53%) ke level 34.899,34, S&P 500 merosot 106,84 poin (-2,27%) ke posisi 4.594,62, dan Nasdaq anjlok 353,57 poin (-2,23%) menuju 15.491,66. Dalam sepekan, ketiga bursa saham utama AS rontok setelah Dow Jones turun -1,97%, S&P 500 melemah -2,2% dan Nasdaq melorot -3,52%.

Dari dalam negeri, IHSG turun tajam sebesar 137,793 poin (-2,06%) ke level 6.561,553 pada perdagangan akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell senilai Rp 198 miliar di pasar reguler. Sepanjang pekan lalu, IHSG melemah -2,36%, dengan diikuti keluarnya dana asing di pasar reguler sebesar 602 miliar.

IHSG longsor pada pekan lalu, seiring berbagai sentimen negatif yang membayangi pasar. Tingginya inflasi global yang memunculkan kemungkinan The Fed bakal menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan pada tahun depan, serta terus naiknya kasus baru harian Covid-19 di Eropa dan kemunculan varian virus baru Corona di Afrika yang diduga lebih mudah menular dan lebih tahan melawan antibodi memicu risk appetite di seluruh pasar global. Tekanan tersebut juga membuat IHSG longsor melewati dua level psikologis, dari 6.700 menjadi 6.500, dan menghapus seluruh reli kenaikan yang dikumpulkan sepanjang bulan November ini.

Setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 6.754 pada awal pekan, IHSG berbalik arah di akhir pekan dan mengakhiri perdagangan dengan penurunan cukup tajam dibandingkan minggu sebelumnya. Kombinasi dari kekhawatiran bahwa tapering The Fed bakal dipercepat, serta munculnya virus Covid varian baru menjadi sentimen negatif bagi pasar saham Indonesia pada perdagangan pekan lalu. Meski turun, namun secara teknikal IHSG masih berada dalam fase konsolidasi jangka pendek. Diperkirakan IHSG pada pekan ini akan berkonsolidasi dalam rentang yang lebar, dengan bergerak di area kisaran support 6480 dan resistance di level psikologis 6.700. Indikator teknikal MACD yang cenderung menurun di atas centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih dalam fase koneolidasi cenderung bergerak turun.

Minggu ini seperti biasa di awal pekan, pelaku pasar akan mencermati rilis data ekonomi manufaktur dan inflasi bulan November pada hari rabu. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di pekan ini antara lain adalah :

  • Senin 29 November 2021 : Pernyataan Ketua The Fed Powell
  • Selasa 30 November 2021 : Rilis data NBS manufaktur China, Rilis data inflasi euro area, Pernyataan Ketua The Fed Powell
  • Rabu 1 Desember 2021 : Rilis data GDP Australia, Rilis data Caixin manufaktur China, Rilis data pekerjaan ADP AS, Pernyataan Gubernur BOE Bailey, Pernyataan Ketua The Fed Powell, Rilis data manufaktur AS
  • Kamis 2 Desembre 2021 : Rilis data perdagangan Australia, Meeting OPEC
  • Jum’at 3 Desember 2021 : Rilis data pekerjaan dan tingkat pengangguran AS

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Munculnya varian baru dari virus Corona memberikan kekhawatiran baru berupa ketidakpastian bagi pelaku pasar. Ketidakpastian tersebut terlihat dari naiknya volatilitas pada pasar saham AS yang terlihat pada index kecemasan VIX, yang melonjak naik 48% hanya dalam sehari pada akhir pekan kemaren. Belum lagi pasar masih dikhawatirkan oleh tingginya inflasi global yang dapat memicu percepatan tapering dan kenaikan suku bunga The Fed pada tahun depan. Di sisi lain, pada hari selasa akan ada rebalancing MSCI Index dimana ada kemungkinan IHSG akan turun di akhir perdagangan bulan November ini. Dengan banyaknya sentimen negatif di pasar, kemungkinan masih ada potensi koreksi lanjutan bagi IHSG namun juga terbuka kemungkinan terjadinya teknikal rebound dalam jangka pendek karena penurunan yang tajam dalam waktu singkat.   

Untuk itu disarankan safe trading dan tetap hati-hati, serta kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca berakhirnya pandemi Covid-19 nanti. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/