Omicron Dan Sikap Hawkish The Fed vs Window Dressing, IHSG Sideways?

Bursa Wall Street ditutup melemah pada akhir pekan, setelah melewati perdagangan yang bergejolak seiring kehawatiran pelaku pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat serta pandemi yang masih terus berlangsung. Meningkatnya kasus penyebaran Covid-19 varian Omicron secara global, serta semakin agresifnya kebijakan The Fed yang akan mempercepat tapering dengan menarik stimulus dan menaikkan suku bunga lebih awal dibanding perkiraan yang diharapkan pada tahun depan, dikhawatirkan dapat menganggu bisnis dan pemulihan ekonomi dunia. Menambah ketidakpastian pasar, Pfizer menyatakan pada akhir pekan bahwa pandemi Covid-19 dapat berlanjut hingga tahun depan dan negara-negara Eropa bersiap untuk membatasi perjalanan lebih lanjut dengan melakukan pembatasan sosial. Dow Jones ditutup turun 532,2 poin (-1,48%) ke level 35.365,44, S&P 500 melemah 48,03 poin (-1,03%) ke posisi 4.620,64 dan Nasdaq terkoreksi 10,75 poin (-0,07%) menjadi 15.169,68. Sepanjang pekan lalu, ketiga indeks saham utama AS berakhir dengan penurunan setelah Dow Jones turun -1,68, S&P 500 melemah -1,94%, dan Nasdaq merosot -2,95%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG berhasil ditutup naik tipis sebesar 7,134 poin (+0,11%) di perdangan akhir pekan ke level 6.601,932. Investor asing mencatatkan net sell senilai Rp 82 miliar di akhir pekan. Dalam sepekan IHSG membukukan koreksi -0,77% dengan diikuti keluarnya dana asing di pasar reguler sebesar Rp 1,18 triliun.

Pasar saham Indonesia kembali bergerak melemah sepanjang pekan lalu, sejalan dengan penurunan bursa saham global yang mengalami tekanan. Pelemahan IHSG disebabkan oleh beberapa faktor antara lain kebjiakan bank sentral sejumlah negara yang semakin ketat (hawkish). The Fed berencana mempercepat pengurangan pembelian aset dari US$ 15 miliar per bulan menjadi US$ 30 miliar per bulan sehingga akan mengakhiri program pembelian aset dalam 3 bulan dan setelah itu kemungkinan besar akan diikuti dengan kenaikan suku bunga acuan AS. Sementara itu Bank sentral Inggris (BoE) malah melakukan kebijakan ahead of the curve dengan menaikkan suku bunga acuan dari 0,1% menjadi 0,25%. BoE menjadi bank sentral negara maju pertama yang menaikkan suku bunga sejak pandemi virus corona melanda dunia. Selain itu perkembangan pandemi virus corona varian Omicron yang mulai masuk ke Indonesia turut menjadi kekhawatiran pelaku pasar. Varian Omicron telah menjadi kekhawatiran baru karena penyebarannya yang cepat dan sudah berada di lebih dari 70 negara, dapat menyebabkan diterapkannya pembatasan sosial dan penundaan hidup kembali normal, membuat pelaku pasar khawatir akan masa depan pemulihan ekonomi dunia.

Secara teknikal IHSG masih terlihat bergerak sideways dalam fase konsolidasi jangka pendek di area range trading lebar dikisaran 6480 hingga 6754. Indikator teknikal MACD masih bergerak seideways cenderung menurun, mengindikasikan IHSG masih berkonsolidasi dengan momentum cenderung bergerak ke arah negatif.

Bullish scenario apabila IHSG mampu bertahan di atas minor support 6.550 dan rebound dengan bergerak naik melewati resistance 6.887, maka indeks akan kembali menguji level all time high di area 6.754. Namun sebaliknya apabila IHSG turun ke bawah 6.550, maka akan terbuka ruang bagi indeks untuk kembali menguji area support level 6.480. Jika gagal bertahan di support 6.480 ini, maka IHSG akan mengkonfirmasi terbentuknya pola head & shoulder pattern dan akan menjalankan bearish scenario dengan melanjutkan pelemahannya.

Minggu ini tidak ada data ekonomi penting  dari dalam negeri yang ditunggu oleh pelaku pasar. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di pekan ini antara lain adalah :

  • Selasa 21 Desember 2021 : Kebijakan moneter Bank Sentral Australia RBA
  • Kamis 23 Desember 2021 : Rilis data indeks harga konsumen dan durable goods orders AS.
  • Jum’at 24 Desember 2021 : Rilis data inflasi Jepang

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Munculnya kasus covid varian omicron pertama di Indonesia, serta kebijakan percepatan tapering dan rencana kenaikan 3 kali suku bunga The Fed pada tahun depan masih akan menjadi sentimen negatif bagi pergerakan IHSG di pekan ini. Perhatikan area level support 6.480, jika jebol ke bawah ada potensi IHSG membentuk pola head & shoulder pattern dan masuk ke fase downtrend. Di sisi lain, memasuki pekan ke empat bulan desember potensi terjadinya window dressing masih terbuka. Apabila IHSG mampu melewati dan bertahan diatas resistance level 6.687, dapat membuka peluang bagi penguatan IHSG di bulan Desember ini meski diperkirakan akan terbatas. 

Untuk itu tetap disaranakan safe trading dan hati-hati serta kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat bila trading saat ini. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca berakhirnya pandemi Covid-19 nanti. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/