IHSG Berpotensi Kembali Mencetak Rekor All Time High

Bursa Wall Street berakhir melemah di pekan perdana tahun 2022, karena investor khawatir terhadap kenaikan suku bunga AS dan pemberitaan mengenai virus omicron, ditengah rilis data lapangan pekerjaan AS bulan Desember yang meleset dari ekspektasi. Data Departemen Tenaga Kerja AS bulan Desember menunjukan bahwa nonfarm payrolls naik sebesar 199.000, jauh di bawah perkiraan sebesar 422.000. Sedangkan tingkat pengangguran turun menjadi 3,9%, menggarisbawahi pernyataan The Fed yang mendekati full-employment. Dow Jones ditutup turun tipis 4,81 poin (-0,01%) menjadi 36.231,66, S&P 500 kehilangan 19,03 poin (-0,41%) menjadi 4.677,02 dan Nasdaq melemah 1445,0 poin (-0,96%) menjadi 14.935,90. Sepanjang pekan lalu, ketiga indeks bursa saham AS mengalami penurunan dengan Dow Jones melemah -0,29%, S&P 500 merosot -1,87% dan Nasdaq ambles -4,53%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup naik 47,965 poin (+0,72%) ke level 6.701,316 pada perdagangan akhir pekan. Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 989 miliar di pasar reguler. Dalam sepekan IHSG berhasil menguat +1,82% dengan diikuti oleh net buy investor asing senilai Rp 2,96 triliun sepanjang minggu.

Pasar saham Indonesia mengawali pekan pertama tahun 2022 dengan kinerja positif. Penguatan IHSG berlawanan dengan pergerakan pasar saham dunia yang cenderung turun. Sepanjang pekan lalu IHSG berhasil ditutup menguat dan mendekati level all time high yang berjarak sekitar 0,8% lagi di 6.754, yang pernah ditorehkan pada November 2021 lalu. Penguatan IHSG ditopang oleh aliran dana asing yang kembali masuk ke pasar saham Indonesia seiring dengan kondisi Covid-19 yang relatif masih terkendali dibandingkan dengan negara-negara maju seperti di Eropa maupun AS. Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2022 juga diperkirakan akan menembus level 5%, atau lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 turut menjadi katalis positif bagi IHSG. 

Meski ada ketidakpastian dari hasil risalah pertemuan kebijakan The Fed bulan Desember yang mengisyaratkan bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku lebih cepat dari yang diharapkan, namun hal tersebut tidak mampu menghalangi laju penguatan IHSG. Optimisme investor pada tren pemulihan ekonomi Indonesia yang diperkirakan akan terus berlanjut di tahun ini turut mendongkrak kinerja IHSG di pekan pertama tahun 2022. Sejumlah analis dari beberapa sekuritas bahkan memprediksikan bahwa IHSG bakal menembus ke atas level 7.000 di tahun ini.

Secara teknikal IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi, dan saat ini sedang mencoba untuk menembus level all time high-nya di level 6754. Apabila mampu dilewati maka IHSG akan menguji area 6.785 sebagai level resistance di pekan ini. Sedangkan untuk level support IHSG di pekan ini diperkirakan berada di 6.593. Indikator teknikal MACD yang bergerak naik diatas centreline mengindikasikan bahwa momentum IHSG sedang bergerak dalam tren positif.

Minggu ini tidak ada data ekonomi penting dari dalam negeri yang akan dirilis. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di pekan ini antara lain adalah : 

  • Selasa 11 Januari 2022 : Rilis data perdagangan Australia, Pernyataan Ketua The Fed Powell
  • Rabu 12 Januari 2022 : Rilis data  inflasi China, Rilis data inflasi AS
  • Kamis 13 Januari 2022 : Rilis data produsen AS
  • Jum’at 14 Januari 2022 : Rilis data perdagangan China, Rilis data perdagangan dan GDP Inggris, Rilis data GDP Jerman, Rilis data penjualan ritel AS 

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis di pekan ini. IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatannya dan mencoba untuk menembus level tertinggi all time high yang pernah dicapai di 6.754,464. Bila mampu di breakout ke atas, maka IHSG bisa masuk ke fase bullish lagi. Sentimennya terkait dengan optimisme investor terhadap proses pemulihan ekonomi dan masih rendahnya angka Covid-19 di Indonesia, serta masuknya aliran dana asing ke saham-saham perbankan seiring solidnya kinerja perbankan di sepanjang sebelas bulan pertama 2021. Di sisi lain, pergeseran arah kebijakan The Fed yang menuju kebijakan moneter lebih ketat (hawkish) membuat naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan memberi tekanan pada nilai tukar rupiah bergerak melemah, masih menjadi faktor negatif yang menahan laju pergerakan IHSG. Tetap perhatikan level support 6.593, yang apabila gagal dipertahankan maka IHSG berpeluang turun kembali ke support fase sideways dikisaran area 6.480-6.500.

Untuk itu tetap safe trading dan kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca berakhirnya pandemi Covid-19 nanti. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/