Masih Lanjut Konsolidasi, Akahkah IHSG Kembali Mencetak Rekor Baru?

Bursa Wall Street ditutup bervariasi dengan indeks Dow Jones berakhir melemah pada perdagangan akhir pekan, karena turunnya saham di sektor keuangan setelah investor kecewa dengan laporan pendapatan bank-bank besar AS untuk kuartal IV-2021. Saham JP Morgan Chase jatuh -6,15% setelah melaporkan kinerja yang lebih lemah. Sementara saham Citigroup turun -1,25% setelah melaporkan penurunan laba kuartal keempat sebesar 26% dan saham BlackRock juga turun -2,19% setelah pendapatan kuartalan meleset dari ekspektasi. Dari sisi data perekonomian, penjualan ritel turun 1,9% pada bulan Desember, lebih buruk dari penurunan 0,1% yang diperkirakan oleh para ekonom. Dow Jones ditutup melemah 201,81 poin (-0,56%) ke level 35.911,81, sedangkan S&P 500 naik tipis 3,82 poin (+0,08%) ke posisi 4.662,85 dan Nasdaq menguat 86,94 poin (+0,59%) menjadi 14.893,75. Dalam sepekan ketiga bursa saham utama AS berkahir melemah, dengan Dow Jones turun -0,88%, S&P 500 melemah -0,3% dan Nasdaq berkurang -0,28%.

Dari dalam negeri, IHSG berhasil ditutup menguat 35,045 poin (+0,53%) ke level 6.693,401 pada akhir pekan. Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 371 miliar di pasar reguler. Sepanjang pekan kemaren, IHSG berakhir dengan pelemahan setelah turun -0,12% dalam sepekan, meski investor asing membukukan net buy senilai Rp 3,35 triliun.

Pasar saham Indonesia bergerak volatile dan mengalami konsolidasi sepanjang minggu lalu. Beberapa sentimen negatif dan positif mempengaruhi pergerakan IHSG selama sepekan. Meningkatnya kasus Covid-19 Omicron di berbagai negara serta keputusan The Fed yang akan segera menaikkan suku bunga acuan, ditengah proyeksi Bank Dunia yang menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2022 bakal mencapai 5,2% dan berlanjutnya inflow net buy investor asing secara massive mewarnai pergerakan IHSG. Di sisi lain, kenaikan harga komoditas ditengah kebijakan pelarangan ekspor komoditas oleh pemerintah Indonesia turut mempengaruhi pergerakan IHSG.   

Secara teknikal, IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi sama seperti pada pekan sebelumnya. Untuk minggu ini, apabila mampu naik ke atas level 6.738, maka IHSG akan menjalankan skenario bullish karena berpotensi untuk kembali mencetak all time high menembus level 6.754, dengan target penguatan menuju area resistance 6.785 di pekan ini. Namun jika bergerak menurun ke bawah level 6.593, maka laju IHSG berpotensi untuk melanjutkan kembali pergerakan sideways menuju ke kisaran support di level 6.484. Indikator teknikal MACD yang bergerak mendatar diatas centreline mengindikasikan bahwa IHSG masih dalam fase konsolidasi dalam kecenderungan menguat.

Untuk minggu ini, pelaku pasar akan mencermati rilis data neraca perdagangan bulan desember pada hari senin besok. Diprediksikan neraca perdagangan akan kembali mencatatkan surplus pada bulan Desember 2021. Jika terjadi, ini akan menjadi surplus perdagangan untuk kedua puluh kali secara berturut-turut. Sementara pada hari kamis, investor akan mencermati RDG-BI bulanan untuk penentuan level suku bunga BI 7 day Reverse Repo Rate yang diperkirakan akan tetap dipertahankan di level 3,5%. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di pekan ini antara lain adalah :

  • Senin 17 Januari 2022 : Rilis data GDP dan penjualan ritel China
  • Selasa 18 Januari 2022 : Kebijakan moneter Bank Sentral BOJ Jepang, Rilis data tenaga kerja Inggris
  • Rabu 19 Januari 2022 : Rilis data inflasi Inggris dan pernyataan gubernur BOE Bailey
  • Kamis 20 Januari 2022 : Rilis data perdagangan Jepang, Rilis data tenaga kerja Australia
  • Jum’at 21 Januari 2022 : Rilis data inflasi Jepang, rilis data penjualan ritel Inggris

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis di pekan ini. Meski masih bergerak sideways cenderung melemah terbatas pada pekan lalu, namun di minggu ini ada potensi IHSG untuk bergerak menguat dan mencoba kembali mencetak rekor. Massive-nya net buy investor asing sejak awal tahun 2022, ditengah berlanjutnya kenaikan harga komoditas dunia serta rilis data neraca perdagangan bulan desember 2021 yang diperkirakan akan kembali mencatatkan surplus, diperkirakan akan menjadi katalis positif yang akan mendorong IHSG untuk mencoba kembali mencetak rekor baru.

Meski ada potensi uptrend namun tetap berhati-hati karena masih ada sejumlah katalis negatif yang dapat menahan laju penguatan IHSG, diantaranya dari meningkatnya kasus harian virus corona varian omicron di Indonesia dan rencana percepatan kenaikan suku bunga The Fed serta pergerakan pasar saham dunia  yang cenderung turun.  Untuk itu tetap disarankan safe trading dan kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca berakhirnya pandemi Covid-19 nanti. Atur strategi pembelian dan money manajemennya.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/