Laju IHSG Ke 7000 Masih Terbebani Oleh Perang Rusia-Ukraina Dan Kenaikan Suku Bunga The Fed

Bursa Wall Street ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan, dengan dimotori oleh penurunan saham sektor teknologi dan pertumbuhan. Investor masih khawatir tentang konflik di Ukraina, disamping itu perhatian pelaku pasar mulai beralih ke pertemuan kebijakan The Fed pada pekan depan. Dari data ekonomi, University of Michigan melaporkan indeks keyakinan konsumen AS turun menjadi 59,7 di bulan Maret dari bulan sebelumnya 62,8, karena harga bensin melonjak ke rekor tertinggi setelah perang Rusia-Ukraina. Angka indeks tersebut menjadi yang terendah sejak September 2011, dan menyebabkan investor khawatir bahwa rumah tangga AS mulai cemas terhadap lonjakan inflasi dan meningkatkan kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi AS yang serius atau bahkan mungkin menuju resesi. Dow Jones ditutup turun 229,88 poin (-0,69%) menjadi 32.944,19, S&P 500 kehilangan 55,21 poin (-1,30%) ke level 4.204,31 dan Nasdaq merosot 286,15 poin (-2,18%) ke posisi 12.843,81. Dalam sepekan ketiga indeks bursa saham utama AS berakhir turun dengan Dow Jones melemah -1,99%, S&P 500 melorot -2,88% dan Nasdaq anjlok -3,53%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG berakhir melemah tipis sebesar 1,406 poin (-0,02%) ke level 6.922,602 pada perdagangan akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell di pasar reguler sebesar Rp 49 miliar. Sepanjang pekan lalu, IHSG terkoreksi tipis -0,08%, meski investor asing masih membukukan net buy senilai Rp 1,3 triliun di pasar reguler.

Pasar saham Indonesia bergerak volatile dan cenderung flat dengan berakhir turun tipis pada pekan lalu, ditengah ketidakpastian global terkait perang Rusia-Ukraina, serta naiknya harga komoditas yang dapat menjadi ancaman bagi inflasi global dan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia. Pelaku pasar khawatir dampak perang di Ukraina dapat mempengaruhi suplai pasokan komoditas yang bisa berubah menjadi tekanan stagflasi apabila harga-harga terus bergerak naik. Tingginya inflasi sudah diperkirakan oleh The Fed, yang akan menaikan suku  bunga acuannya pada pertemuan tengah pekan tanggal 15 dan 16 Maret 2022. Data dari AS pada kamis lalu, menunjukkan bahwa inflasi bulan Februari melesat 7,9% (yoy) menyentuh level tertinggi dalam lebih dari 40 tahun terakhir. Jika inflasi ini terus meninggi tentunya The Fed dapat bertindak semakin agresif dalam menaikkan suku bunga kedepan, sehingga bisa berdampak negatif ke pasar saham.

Pasar saham Indonesia akhir pekan kemaren ditutup di level 6.922,602, relatif tidak jauh dibandingkan dengan penutupan minggu sebelumnya di 6.928,328. Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan bergerak dikisaran area support 6.814 hingga resistance 6.996. Namun jika dicermati, IHSG terlihat mulai cenderung bergerak uptrend dalam jangka pendek di atas garis naik warna hitam. Indikator teknikal MACD cenderung bergerak mendatar, mengindikasikan bahwa momentum IHSG masih netral cenderung berkonsolidasi. Apabila mampu menembus keatas 6.996, maka terbuka ruang bagi kenaikan IHSG menuju target dikisaran 7.052 dalam jangka pendek. Namun jika turun dan gagal bertahan di 6.814, maka IHSG berpeluang kembali menguji area support 6.758 lagi.

Minggu ini pelaku pasar akan mencermati rilis data perdagangan dan ekspor-impor bulan februari pada hari selasa. Sedangkan pada hari kamis pelaku pasar akan menunggu kebijakan dan pernyataan BI terkait suku bunga acuan yang diperkirakan masih tidak berubah. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di minggu ini antara lain adalah :

  • Selasa 15 Maret 2022 : Kebijakan moneter dan suku bunga Australia (RBA), Rilis data produksi industri China, Rilis data tenaga kerja Inggris, Rilis data harga produsen AS
  • Rabu 16 Maret 2022 : Rilis data perdagangan Jepang, Rilis data penjualan ritel AS, Pernyataan dan kebijakan suku bunga The Fed
  • Kamis 17 Maret 2022 : Rilis data pekerjaan Australia, Kebijakan Suku bunga Inggris (BOE)
  • Jum’at 18 Maret 2022 : Rilis data inflasi dan kebijakan suku bunga Jepang (BOJ)

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Perang Rusia dengan Ukraina serta kebijakan suku bunga The Fed, akan menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan bursa saham global, termasuk IHSG di pekan ini. Meski mayoritas bursa saham secara global masih cenderung melemah, namun pergerakan IHSG masih berada dalam tren konsolidasi jangka pendek dengan rentang penguatan terbatas menguji area level all time high. Namun jika nanti terkoreksi, IHSG kemungkinan akan mengalami koreksi minor selama investor asing masih terus masuk ke pasar saham Indonesia.

Tetap disarankan untuk safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah pasca. Atur strategi pembelian dan money manajemennya dengan baik.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/