Laju IHSG Mulai Melambat, Meski Terus Cetak Rekor

Bursa Wall Street melemah pada perdagangan akhir pekan, pada hari Kamis sebelum libur Good Friday. Pelemahan Wall Street dipicu oleh kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level 2,8%, serta investor mencermati data ekonomi dan rilis pendapatan emiten yang beragam. Pasar masih dibayangi oleh kecemasan seputar tingginya inflasi yang memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kekhawatiran inflasi dan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi mendorong kejatuhan saham teknologi. Dow Jones ditutup turun 113,36 poin (-0,33%) ke level 34.451,23, S&P 500 melemah 54,00 poin (-1,21%) ke posisi 4.392,59 dan Nasdaq merosot 292,51 poin (-2,14%) menjadi 13.351,08. Selama sepekan, ketiga indeks bursa saham utama AS berakhir melemah dengan Dow Jones turun -0,78%, S&P 500 melorot -2,13% dan Nasdaq anjlok -2,63%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG mengakhiri perdagangan akhir pekan dengan ditutup turun 27,245 poin (-0,38%) ke level 7.235,532 pada hari kamis sebelum libur Jum’at agung. Investor asing membukukan net buy sebesar Rp 489 miliar di pasar reguler. Dalam sepekan terakhir, IHSG bergerak menguat +0,34%, dengan diikuti oleh net buy investor asing senilai Rp 4,62 triliun di pasar reguler.

Pasar saham Indonesia masih kokoh dan terus mencetak rekor penutupan harga tertinggi baru, seiring membaiknya iklim investasi di Indonesia yang diikuti oleh aliran dana dari investor asing. IHSG bahkan telah mencetak rekor terbarunya all time high dalam lima pekan terakhir. Aktivitas ekonomi domestik telah mengalami peningkatan secara bertahap, seiring berkurangnya kasus Covid-19 yang mendorong pemerintah melonggarkan perayaan puasa dan Lebaran, serta naiknya harga komoditas akibat eskalasi geopolitik konflik Rusia-Ukraina dan stabilitas nilai tukar rupiah, menjadi daya tarik investor asing untuk masuk ke pasar saham Indonesia. Namun setelah menembus level psikologis 7.300 dan mencapai level all time high di 7.355, kenaikan IHSG mulai tertahan lantaran aksi profit taking dilakukan oleh pelaku pasar setelah kenaikan yang cukup drastis. 

Secara teknikal, IHSG terlihat masih bergerak naik di dalam uptrend channelnya. Indikator teknikal MACD terlihat bergerak naik mengindikasikan bahwa IHSG masih berada dalam momentum kenaikan yang positif. Meski masih terlihat uptrend, tapi kenaikan IHSG terlihat mulai terkonsolidasi dengan bergerak dikisaran area support 7.146 dan resistance di 7.355. Penembusan ke atas 7.355 akan membuat IHSG kembali melanjutkan trend penguatannya. Namun jika turun di bawah 7.146 maka IHSG berpeluang melemah menuju support selanjutnya di level 7.032.

Untuk minggu ini pelaku pasar akan mencermati rilis data perdagangan dan ekspor-impor pada hari senin. Diperkirakan neraca perdagangan pada bulan Maret akan kembali mencatatkan surplus perdagangan. Sedangkan pada hari selasa pelaku pasar akan mencermati kebijakan suku bunga dan pernyataan dari BI terkait kondisi dan prospek ekonomi Indonesia. Diproyeksikan BI masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di minggu ini antara lain adalah :

  • Senin 18 April 2022 : Rilis data GDP China
  • Selasa 19 April 2022 : Pertemuan Bank Sentral Australia (RBA), Rilis data perumahan AS
  • Rabu 20 April 2022 : Rilis data perdagangan Jepang
  • Jum’at 22 April 2022 : Rilis data inflasi Jepang, Rilis data penjualan ritel dan PMI manufaktur Inggris, Rilis data manufaktur Jerman, Pernyataan Presiden ECB Lagarde, Pernyataan Gubernur BOE Bailey

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG terlihat masih bergerak uptrend, namun kenaikannya mulai keliatan melambat setelah penguatan yang cukup drastis, karena masuknya GOTO sebagai pendatang baru di BEI dengan market cap terbesar ketiga yang bobotnya besar dan kenaikannya mulai tertahan. Ada potensi IHSG akan mulai berkonsolidasi di area trading 7.146-7.355 setelah penguatan tajam sebelumnya, dan seiring pergerakan sektor perbankan yang mulai cenderung  bergerak sideways. Sementara ini belum terlihat ada potensi koreksi yang berarti dan IHSG masih akan tetap bertahan selama capital inflow pemodal asing masih terus masuk ke pasar saham Indonesia.

Meski IHSG terlihat masih uptrend namun tetap disarankan untuk safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya dengan baik.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/