Kekhawatiran Resesi Membuat Bursa Saham Global Rontok, Bagaimana Pergerakan IHSG Selanjutnya?

Bursa Wall Street turun tajam pada penutupan perdagangan akhir pekan setelah rilis laporan inflasi AS menunjukkan kenaikan harga yang lebih cepat dari perkiraan dan sentimen konsumen mencapai rekor terendah. Rilis data inflasi bulan Mei 2022 tercatat 8,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) dan merupakan rekor tertinggi sejak 1981. Menyusul laporan inflasi tersebut, imbal hasil US Treasury 2 tahun, yang sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga, melonjak ke level 3,057%, tertinggi sejak Juni 2008. Sedangkan yield US Treasury 10 tahun yang menjadi benchmark mencapai 3,178%, tertinggi sejak 9 Mei lalu. Inflasi yang makin tinggi dikhawatirkan akan mendorong The Fed lebih agresif untuk menaikan suku bunga sehingga dapat mengirim ekonomi AS ke dalam resesi. Dow Jones ditutup turun 880 poin (-2,73%) ke level 31.392,79, S&P 500 merosot 116,96 poin (-2,91%) ke posisi 3.900,86 dan Nasdaq anjlok 414,21 poin (-3,52%) menjadi 11.340,02. Ketiga bursa saham utama AS mencetak penurunan mingguan terbesar sejak 21 Januari lalu, setelah Dow Jones melorot -4,58%, S&P 500 anjlok -5,06% dan Nasdaq merosot -5,60% dalam sepekan.

Dari dalam negeri, IHSG ditutup turun 96,182 poin (-1,34%) ke level 7.068,648 pada akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell di pasar reguler senilai Rp 360 miliar. Selama sepekan IHSG terkoreksi -1,34%, meski investor asing membukukan net buy sebesar Rp 478 milyar di pasar reguler.

Setelah rebound dan bergerak menguat tiga pekan berturut-turut, IHSG akhirnya terkoreksi pada pekan lalu seiring sentimen negatif yang terjadi di pasar saham dunia. Kekhawatiran risiko terjadinya resesi semakin meningkat setelah rilis data inflasi AS yang masih tinggi akan membuat The Fed semakin agresif menaikan suku bunga acuannya, sehingga akan memukul daya beli masyarakat AS dan bisa mengancam pemulihan pertumbuhan dunia pasca pandemi Covid-19. Investor memperkirakan The Fed bakal menaikan suku bunga sebesar 50 bps pada pertemuan minggu depan tanggal 15 Juni 2022 dan akan diikuti dengan kenaikan lanjutan sebesar 50 bps lagi pada pertemuan bulan depan tanggal 26-27 Juli 2022 untuk meredam inflasi yang masih tinggi. Inflasi AS pada Mei 2022 melejit ke angka 8,6% secara tahunan dan merupakan rekor yang tertinggi dalam 41 tahun terakhir. Inflasi Mei itu juga mematahkan rekor sebelumnya yang terjadi pada bulan Maret 2022 sebesar 8,5%, bahkan setelah The Fed menaikan suku bunga acuannya pada bulan lalu.

Secara teknikal, meski IHSG terlihat masih berkonsolidasi dalam fase uptrend jangka pendeknya, namun indeks cenderung bergerak melemah. Setelah berhasil menutup resistance gap di level 7.156-7.204 (kotak warna biru), IHSG gagal melanjutkan penguatannya. IHSG tertahan dikisaran area resistance level 7.234-7.258 dan membentuk pola candlestick shooting star hingga 2 kali, sehingga berpotensi membentuk pola bearish reversal double top serta berbalik arah turun apabila gagal bertahan di support level 7.056.

Jika turun di bawah level support terdekat 7.056 tersebut, ada potensi IHSG bakal terkoreksi menuju area support 6.802-6.858 (kotak merah). Potensi IHSG bakal melemah ke level tersebut semakin terbuka lebar seiring dengan koreksi pasar saham global yang cenderung bergerak turun.

Untuk minggu ini pelaku pasar akan mencermati rilis data perdagangan bulan Mei 2022 pada hari rabu yang diperkirakan akan kembali mencatakan surplus perdagangan. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di minggu ini antara lain adalah :

  • Senin 13 Juni 2922 : Rilis data GDP Inggris
  • Selasa 14 Juni 2022 : Rilis data pekerjaan dan tingkat pengangguran Inggris, Rilis data harga produsen AS
  • Rabu 15 Juni 2022 : Rilis data penjualan ritel AS, Kebijakan moneter suku bunga dan pernyataan The Fed.
  • Kamis 16 Juni 2022 : Rilis data perdagangan Jepang, Rilis data pekerjaan Australia, Kebijakan suku bunga BOE Inggris
  • Jumat 17 Mei 2022 : Kebijakan suku bunga BOJ Jepang, Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Setelah tiga minggu rebound kencang, IHSG baru mengalami koreksi pada minggu lalu. IHSG kemungkinan besar bakal melanjutkan pelemahannya pada pekan ini, mengikuti sentimen negatif yang terjadi di pasar saham dunia. Perhatikan area level support 7.056, yang apabila gagal dipertahankan maka IHSG akan mengkonfirmasi pembalikan arah turun dalam jangka pendek.

Disarankan untuk safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya dengan baik.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/