Kembali Ke Level 7.000, IHSG Mengkonfirmasi Terbentuknya Bullish Flag?

Bursa Wall Street ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan karena tanda-tanda perlambatan pertumbuhan ekonomi dan penurunan tajam harga komoditas minggu ini, mengurangi ekspektasi akan rencana kenaikan suku bunga The Fed. Indeks Refinitiv/ CoreCommodity yang mengukur harga energi, pertanian, logam dan komoditas lainnya, turun ke level terendah sekitar dua bulan pada hari Kamis setelah mencapai puncak multi years pada awal Juni. Ketiga indeks bursa saham utama AS melonjak setelah pembacaan sentimen konsumen yang diikuti oleh Federal Reserve menunjukkan sedikit pelonggaran ekspektasi inflasi. Dow Jones ditutup melesat 823,32 poin (+2,68%) menjadi 31.500.68, S&P 500 melejit 116,01 poin (+3,06%) menjadi 3.911,74 dan Nasdaq melonjak 375,43 poin (+3,34%) menjadi 11.607,62. Dalam sepekan, Bursa Wall Street mengakhiri perdagangan mingguan di zona hijau dengan Dow Jones mengalami kenaikan +5,39%, S&P 500 menguat +6,45%, dan Nasdaq melonjak +7,49%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup menguat 44,67 poin (+0,64%) ke level 7.042,937 pada akhir pekan. Investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp 110 milyar di pasar reguler. Secara mingguan IHSG mampu menguat +1,53%, meski investor asing tercatat melepas saham dengan membukukan net sell di pasar reguler senilai Rp 1,85 triliun selama sepekan.

Setelah melemah dalam 2 pekan berturut-turut, pasar saham Indonesia berhasil rebound dan mengalami penguatan pada pekan lalu. Meski masih dibayangi sinyal negatif terkait kenaikan suku The Fed, IHSG mampu naik dan kembali ke level psikologis 7.000. Keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan, diharapkan bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia, menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG. Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan optimis perekonomian Indonesia bisa menembus 4,8%-5,3% pada kuartal II tahun ini. Di sisi lain rebound kencang yang dialami Bursa Wall Street, setelah ambruk dalam tiga pekan beruntun, menjadi angin segar bagi IHSG di tengah kekhawatiran terjadinya resesi, melambatnya perekonomian global, serta suku bunga acuan bank sentral utama dunia lain yang juga ikut merangkak naik.

Secara teknikal, IHSG telah mencapai target pelemahan dari terbentuknya pola bearish reversal double top dikisaran 6.858 seperti analisa kami pada pekan sebelumnya. Pasca tercapainya target pelemahannya tersebut, IHSG berhasil rebound dan keluar dari downtrend channel jangka pendeknya sehingga mengkonfirmasi terbentuknya pola bull flag pattern dan membuka peluang untuk kembali bergerak naik.

Untuk minggu ini IHSG diperkirakan akan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat seiring reboundnya bursa saham AS, didorong oleh meredanya tekanan inflasi global seiring mulai turunnya harga komoditas utama dunia, serta potensi terjadinya widow dressing semester pertama tahun ini. Diperkirakan untuk pekan ini, IHSG akan bergerak di rentang area kisaran support 6.920 dan resistance level 7.174. Indikator teknikal MACD yang bergerak mendatar diatas centreline, serta volume transaksi yang tipis di bawah rata-rata, mengindikasikan bahwa IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi.

Untuk pekan ini seperti biasa di awal bulan, pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi dan manufaktur bulan juni pada hari jum’at. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di minggu ini antara lain adalah :

  • Senin 27 Juni 2022 : Rilis data durable goods orders AS, pertemuan puncak G7
  • Selasa 28 Juni 2022 : Pernyataan Presiden ECB Lagarde
  • Rabu 29 Juni 2022 : Rilis data inflasi Jerman, Pernyataan Gubernur BOE Bailey, Pernyataan ketua The Fed Powell
  • Kamis 30 Juni 2022 : Rilis data NBS manufaktur China, Rilis data tingkat pengangguran euro zone, Pernyataan Presiden ECB Lagarde
  • Jum’at 1 Juli 2022 : Rilis data Caixin manufaktur China, Rilis data inflasi euro zone, Rilis data PMI manufaktur AS

Untuk sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Pergerakan IHSG pekan ini akan dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas dunia dan pergerakan bursa global, perkembangan situasi geopolitik di Rusia dan Ukraina serta perkembangan terbaru kasus baru Covid-19. Ditahannya suku bunga BI di level 3,5%, dan pergerakan nilai tukar rupiah serta membaiknya perekonomian dalam negeri turut mempengaruhi pergerakan IHSG. Kebijakan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan, berdampak baik untuk ekspansi ekonomi sektor riil karena membuat biaya pendanaan masih terjangkau mengingat ekonomi domestik masih dalam tahap pemulihan. Di satu sisi, dipertahankannya suku bunga BI rate ditengah kenaikan suku bunga The Fed bisa memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah berlanjut melemah.

Untuk itu disarankan tetap safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya dengan baik.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/