Bergerak Dalam Fase Downtrend Membentuk Channel Turun, IHSG Uji MA 200 Day

Bursa Wall Street rebound pada akhir pekan, meski secara mingguan masih mencatatkan penurunan. Mulai berkurangnya permintaan untuk menghadapi inflasi yang tinggi selama beberapa dekade, tercermin dalam indeks manajer pembelian ISM yang menunjukkan perlambatan pada kedua harga input pesanan baru. Kondisi ini mendukung pandangan bahwa ekonomi mulai mendingin dan inflasi tampaknya telah melewati puncaknya, sehingga mengurangi kekhawatiran pelaku pasar akan kemungkinan The Fed untuk tetap agresif dalam menaikan suku bunga acuannya. Pelaku pasar juga tengah menanti musim pendapatan kuartal II, data laporan ketenagakerjaan bulan Juni dan pertemuan kebijakan moneter The Fed pada akhir Juli. Dow Jones ditutup naik 321,83 poin (+1,05%) ke level 31.097,26, S&P 500 terangkat 39,95 poin (+1,06%) menjadi 3.825,33 dan Nasdaq bertambah 99,10 poin (+0,90%) ke posisi 11.127,84. Secara mingguan, ketiga indeks bursa saham utama AS masih membukukan pelemahan, dengan Dow Jones melemah -1,28%, S&P 500 merosot -2,21% dan Nasdaq anjlok -4,13%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup melemah 117,254 poin (-1,7%) ke level 6.794,328 pada akhir pekan.  Investor asing tercatat melakukan net sell senilai Rp 83 milyar di pasar reguler. Dan untuk sepanjang pekan, IHSG tertekan -3,53% dengan diikuti keluarnya dana investor asing sebesar Rp. 3,05 triliun di pasar reguler.

Pasar saham Indonesia tertekan sepanjang pekan lalu, setelah bergerak melemah selama 5 hari berturut-turut karena diterjang oleh berbagai kabar negatif yang ada di pasar. Tekanan dari pasar global dan rilis data ekonomi yang mengecewakan, serta aturan kebijakan yang kurang populis menjadi beban bagi IHSG. Dimulai dari penerapan kebijakan penutupan kode domisili investor di awal pekan, lalu turunnya harga-harga komoditas dan rilis data ekonomi yang lebih buruk dari ekspektasi pasar, serta kecemasan investor akan potensi terjadinya resesi, membuat IHSG terus bergerak turun.

Secara teknikal, IHSG saat ini terlihat bergerak menurun dalam tren jangka pendek. IHSG terlihat terkoreksi dalam fase downtrend dengan membentuk channel turun. Indikator teknikal MACD telah death cross dan mulai bergerak menurun di bawah centreline, mengindikasikan bahwa IHSG telah berada dalam momentum pergerakan negatif. Area support terdekat IHSG untuk minggu ini berada dikisaran 6.736, yang merupakan garis psikologis MA 200 day. Dan jika tekanan jual masih berlanjut, maka tidak menutup kemungkinan IHSG akan menuju support selanjutnya di level 6.509. Sementara untuk level resistance IHSG minggu ini diproyeksikan akan berada dikisaran 6.970-7.070.

Untuk minggu ini pelaku pasar akan mencermati rilis data perdagangan dan ekspor-impor bulan Juni pada hari jum’at. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di minggu ini antara lain adalah :

  • Senin 4 Juli 2022 : Rilis data perdagangan Jerman
  • Selasa 5 Juli 2022 : Kebijakan suku bunga Australia
  • Rabu 6 Juli 2022 : Rilis data sektor jasa AS, Laporan meeting The Fed
  • Kamis 7 Juli 2022 : Rilis data perdagangan Australia, Rilis data pekerjaan ADP dan data perdagangan AS
  • Jum’at 8 Juli 2022 : Rilis data pekerjaan dan tingkat pengangguran AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG saat ini berada di fase downtrend dalam jangka pendek seiring dengan tekanan dari pasar global dan rilis data ekonomi yang mengecewakan serta ketakutan akan terjadinya resesi yang masih terus membebani pasar. Sikap agresif bank sentral dunia untuk melawan inflasi ditengah pelemahan ekonomi masih terus menjadi sentimen negatif bagi pasar saham. Ada potensi IHSG akan mengalami teknikal rebound sesaat di awal pekan, mengikuti jejak bursa saham global di akhir pekan kemaren. Namun perlu diantisipasi akan adanya koreksi lanjutan pasca rebound sementara (terutama jika IHSG gagal menembus ke atas resistance 7.070), sehingga disarankan hanya untuk trading pendek dan cepat saja.

Karena market masih belum terlalu kondusif, oleh karena itu disarankan tetap safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya dengan baik.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/