Menunggu Putusan BI Rate Dan Fed Rate, IHSG Diperkirakan Akan Berkonsolidasi

Bursa Wall Street ditutup beragam di akhir pekan, setelah diwarnai perdagangan yang fluktuatif. Pelaku pasar masih mencoba memahami bagaimana laporan data pekerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan akan mempengaruhi kebijakan The Fed dan rencananya untuk secara agresif menaikkan suku bunga. Departemen Tenaga Kerja AS merilis data nonfarm payrolls naik 372.000 pekerjaan pada bulan Juni, lebih tinggi dari perkiraan kenaikan 268.000 pekerjaan. Disisi lain, tingkat pengangguran tetap berada di dekat posisi terendah sebelum pandemi di level 3,6% dan pendapatan rata-rata per jam naik 0,3%, setelah naik 0,4% di bulan Mei. Dow Jones ditutup turun 46,4 poin (-0,15%) ke level 31.338,15, S&P 500 melemah tipis 3,24 poin (-0,08%) ke posisi 3.899,38, sedangkan Nasdaq berhasil naik 13,96 poin (+0,12%) menjadi 11.635,31. Dalam sepekan, ketiga indeks bursa saham utama AS berhasil menguat dengan Dow Jones naik +0,77%, S&P 500 bertambah +1,94% dan Nasdaq melonjak +4,56%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG pada akhir pekan ditutup naik 87,632 poin (+1,32%) ke level 6.740,219. Investor asing tercatat melakukan net buy senilai Rp 45 milyar di pasar reguler. Untuk sepanjang minggu lalu, IHSG turun -0,8% dengan diikuti keluarnya dana investor asing sebesar Rp. 2,56 triliun di pasar reguler.

Pasar saham Indonesia masih cenderung tertekan, namun lebih baik jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Pergerakan IHSG minggu lalu dipengaruhi oleh sentimen dari dalam dan luar negeri. Dari dalam negeri, datang dari rilis data inflasi pada bulan Juni 2022 yang naik menjadi 4,35% yoy setelah pada bulan sebelumnya hanya sebesar 3,55% yoy. Di sisi lain, cadangan devisa per akhir bulan juni berada di angka US$ 136,4 miliar, naik dibandingkan bulan Mei yang sebesar US$ 135,6 miliar. Sementara dari luar negeri, IHSG dipengaruhi oleh adanya tingkat inflasi yang tinggi di beberapa negara akan mengakibatkan adanya pengetatan kebijakan moneter dari masing-masing negara. Para investor pun masih mengkhawatirkan timbulnya resesi, baik di AS maupun secara global apabila kebijakan yang dilakukan tidak mampu meredam laju inflasi.

The Fed kemungkinan akan ada kenaikan suku bunga sebanyak 50 hingga 75 bps di akhir bulan ini. Dengan kembali dinaikannya suku bunga acuan The Fed pada bulan ini, maka potensi resesi masih cenderung besar, apalagi pada pekan lalu, yield obligasi pemerintah AS kembali mengalami inversi, dimana yield Treasury tenor 2 tahun kembali lebih tinggi dari yield Treasury tenor 10 tahun. Secara teknikal, setelah sempat turun ke level terendah 6.559 pada awal pekan, IHSG berhasil rebound dan kembali ke atas level psikologis 6.700 di akhir pekan. Meski berhasil rebound cukup kencang pada akhir pekan, namun IHSG belum mampu menyentuh kembali level garis psikologis MA 200 day dikisaran 6.750 (garis warna merah). Penurunan indikator MACD mulai melambat dan berbalik arah, diharapkan mampu kembali golden cross. Apabila nanti mampu melewati garis MA 200 hariannya, maka IHSG diperkirakan akan menguji area level psikologis 6.900 sebagai level resistance di pekan ini. Sementara untuk level support IHSG minggu ini diproyeksikan akan berada di kisaran area level 6.560-6.602.

Untuk minggu ini pelaku pasar akan mencermati rilis data perdagangan dan ekspor-impor bulan Juni pada hari jum’at. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di minggu ini antara lain adalah :

  • Senin 11 Juli 2022 : Pernyataan Gubernur BOE Bailey
  • Selasa 12 Juli 2022 : Pernyataan Gubernur BOE Bailey
  • Rabu 13 Juli 2022 : Rilis data perdagangan China, Rilis data GDP Inggris, Rilis data inflasi AS
  • Kamis 14 Juli 2022 : Rilis data pekerjaan Australia, Rilis data harga produsen AS
  • Jumat 15 Juli 2022 : Rilis data GDP China, Rilis data penjualan ritel dan sentimen konsumen AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG masih berpotensi melanjutkan technical rebound-nya setelah mengalami koreksi tajam. Meski berhasil rebound namun kenaikannya diperkirakan terbatas dan kemungkinan IHSG berpotensi masuk ke fase konsolidasi dengan cenderung bergerak sideways dikisaran area 6600 hingga 6900. Pelaku pasar masih menunggu hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur BI tanggal 20-21 Juli, serta FOMC tanggal 26-27 Juli mendatang untuk melihat keputusan The Fed.

Untuk itu disarankan tetap safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya dengan baik.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/