Bertahan Di Atas MA 200 Day, Akankah IHSG Rebound?

Bursa Wall Street ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan. Ketiga indeks bursa saham utama AS kembali menunjukkan performa yang buruk pada akhir perdagangan bulan September, karena tertekan oleh lonjakan inflasi serta kenaikan suku bunga dan kekhawatiran resesi. Dow Jones melorot 500,10 poin (-1,71%) ke level 28.725,51, S&P 500 merosot 54,85 poin (-1,51%) ke posisi 3.585,62 dan Nasdaq anjlok 161,89 poin (-1,51%) menjadi 10,575,62. Dalam sembilan bulan pertama tahun 2022, Wall Street mengalami penurunan tiga kuartal berturut-turut. Ini merupakan penurunan beruntun terpanjang untuk indeks S&P 500 dan Nasdaq sejak 2008, serta penurunan kuartalan terpanjang Dow Jones dalam 7 tahun. Pasar terguncang setelah The Fed melakukan serangkaian kenaikan suku bunga tanpa henti untuk mengendalikan inflasi yang sangat tinggi, membuat banyak pelaku pasar khwatir akan mendorong ekonomi masuk ke jurang resesi. Wall Street mencatatkan penurunan mingguan ketiga berturut-turut, setelah Dow Jones mengalami koreksi -2,92%, S&P 500 merosot -2,91% dan Nasdaq anjlok -2,69% dalam sepekan.

Sementara dari dalam negeri, IHSG cenderung bergerak flat pada akhir pekan setelah naik tipis 4,6 poin (+0,07%) dan ditutup di level 7.040,798. Investor asing membukukan net buy senilai Rp 230 milyar di pasar regular. Dalam sepekan terakhir, IHSG tercatat  melemah -1,92% secara mingguan bersamaan dengan keluarnya dana investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp 3,08 triliun di pasar reguler.

Sentimen global menekan IHSG selama sepakan. Pergerakan IHSG dibayangi oleh inflasi yang masih cukup tinggi serta kekhawatiran tentang resesi global dan meningkatnya risiko geopolitik. Tekanan pada pasar juga akibat nada hawkish dari The Fed yang menegaskan akan terus menaikkan suku bunga hingga tahun depan. Proyeksi Fed tersebut membuat indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback menguat tajam bahkan sampai tembus level 114, yang menjadi posisi tertinggi untuk tahun ini dan dalam dua dekade terakhir. Penguatan dolar AS menekan mata uang negara lain dan juga harga komoditas. Nilai tukar rupiah turut mengalami tekanan hingga menembus level Rp 15.200/US$ sehingga membuat risiko berinvestasi di aset keuangan RI meningkat.

Pergerakan pasar saham Indonesia juga dipengaruhi oleh sikap antisipasi pelaku pasar terkait rilis data inflasi dan manufaktur bulan September 2022 yang akan dirilis pada awal pekan ini. Pasar memproyeksikan inflasi September akan meningkat ke level 6% secara YoY, seiring dengan kenaikan harga BBM pada awal bulan September lalu. Pelaku pasar juga akan mencermati rilis data cadangan devisa akhir september pada hari jum’at. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di minggu ini antara lain adalah :

  • Senin 3 Oktober 2022 : Rilis data PMI manufaktur AS
  • Selasa 4 Oktober 2022: Kebijakan suku bunga RBA Australia
  • Rabu 5 Oktober 2022 : Rilis data perdagangan Jerman, Rilis data tenaga kerja ADP dan data perdagangan AS
  • Kamis 6 Oktober 2022 : Rilis data perdagangan Australia
  • Jum’at 7 Oktober 2022 : Rilis data perkerjaan dan tingkat pengangguran AS

Secara teknikal koreksi IHSG tertahan di garis MA 200 hariannya, dan membentuk pola candlestick bullish pin bar sehingga membuka potensi terjadinya teknikal rebound sementara dalam jangka pendek. IHSG diproyeksikan akan bergerak di area kisaran support 6.902-6.925 dan resistance 7.150-7.172 pada pekan ini. Indikator teknikal MACD yang bergerak turun mengindikasikan IHSG bergerak melemah dalam momentum negatif.

Bullish scenario, jika berhasil menembus ke atas resistance 7.150-7.172, maka IHSG berpeluang menuju next resistance dikisaran 7.230-7.258. Sedangkan bearish scenario apabila IHSG gagal bertahan diatas garis MA 200 day dan melanjutkan pelemahannya, maka IHSG berpeluang turun menuju area gap 6.740-6.778.

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG masih tertahan di area support kuat garis MA 200 day, dengan membentuk pola candlestick yang menyiratkan potensi terjadinya teknikal rebound dalam jangka pendek. Namun sebaliknya, pasar saham dunia masih terkoreksi tajam dan kembali melanjutkan pelemahannya di akhir pekan, karena ekonomi global kembali diwarnai risiko resesi yang diperkirakan bakal melanda dunia pada 2023. Kemungkinannya IHSG masih berpotensi bergerak volatile dan cenderung mengalami koreksi lanjutan. Waspadai apabila IHSG gagal bertahan diatas garis MA 200 day, karena secara teknikal penurunan di bawah garis tersebut mengindikasikan bahwa tren naik jangka panjang IHSG telah berakhir.

Untuk itu disarankan tetap safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya dengan baik.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/