IHSG Breakdown Support 6.735 Bikin Lower Low, Short Term Koreksi Potensi Lanjut?

Bursa Wall Street tergelincir di akhir pekan, dipicu oleh penurunan data sentimen konsumen AS yang turun ke level terendah dalam 6 bulan. Data indeks sentimen konsumen Universitas Michigan turun di posisi 57,7, di bawah proyeksi ekonom yang memperkirakan data tersebut berada pada level 63,0 di periode Mei. Investor juga mencermati kekhawatiran seputar negosiasi plafon utang pemerintah AS. CNBC melaporkan bahwa pertemuan untuk membahas pagu utang antara Presiden Joe Biden dan para pemimpin kongres yang ditetapkan pada hari Jumat ditunda hingga minggu depan. Dow Jones ditutup turun tipis 8,89 poin (-0,03%) ke level 33.300,62, S&P 500 melemah 6,54 poin (-0,16%) ke level 4.124,08 dan Nasdaq berkurang 43,76 poin (-0,35%) menjadi 12.284,74. Dalam sepekan, ketiga indeks bursa saham utama AS berakhir bervariasi dengan Dow Jones turun -1,11%, S&P 500 melemah -0,29%, namun Nasdaq berhasil naik +0,4%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup turun 48,175 poin (-0,71%) ke level 6.707,763 pada perdagangan akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 902 milyar di pasar regular, dan nilai tukar rupiah ditutup dikisaran level Rp. 14.750/USD di akhir pekan. Dalam sepekan, IHSG berakhir melemah sebesar -1,18%, dengan disertai net sell investor asing senilai Rp. 775 miliar di pasar regular selama seminggu.

Pasar saham Indonesia kembali melanjutkan pelemahannya di perdagangan minggu kedua bulan Mei 2023, karena sentimen negatif yang datang dari faktor eksternal yakni pertumbuhan ekonomi China terindikasi mengalami perlambatan, mempengaruhi harga komoditas dunia. Inflasi konsumen China pada April 2023 melaju paling lambat dalam lebih dari 2 tahun terakhir, sementara terjadi deflasi di tingkat pabrik menunjukkan lebih banyak stimulus mungkin diperlukan untuk mendorong pemulihan ekonomi pasca Covid. Pelemahan ekonomi China berdampak besar terhadap turunnya harga komoditas global, dimana selama ini Indonesia diuntungkan dari tingginya harga komoditas. Selain itu kekhawatiran pelaku pasar atas ancaman gagal bayar utang AS pada 1 Juni 2023 dan kecemasan atas kondisi perbankan serta ancaman resesi AS turut menjadi katalis negatif bagi IHSG.

Secara teknikal IHSG pada akhir pekan lalu ditutup di bawah support last low dikisaran 6.735, sehingga terbentuk pola lower low dan berpeluang melanjutkan pelemahannya. Penurunan IHSG di bawah level tersebut telah mengkonfirmasi terbentuknya pola head & shoulder pattern, sehingga secara teoritis IHSG berpeluang turun menuju target dikisaran 6.500-6.557, dengan minor target dikisaran 6.676. Segera kembali dan bertahan di atas 6.735, akan membatalkan terbentuknya pola head & shoulder tersebut, sehingga membuka peluang IHSG kembali rebound menuju resistance 6.820. Namun indikator teknikal MACD yang bergerak turun mengindikasikan bahwa IHSG bergerak melemah dalam momentum negatif.

Untuk minggu ini, pelaku pasar akan mengalihkan perhatian pada rilis data perdagangan dan ekspor-impor pada besok Senin yang di proyeksikan surplus neraca dagang masih bisa berlanjut. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di pekan ini antara lain adalah :

  • Selasa 16 Mei 2023 : Pertemuan Bank Sentral RBA Australia, Rilis data industri China, Rilis data tenaga kerja dan tingkat pengangguran Inggris, Rilis data penjualan ritel AS
  • Rabu 17 Mei 2023 : Rilis data GDP Jepang
  • Kamis 18 Mei 2023 : Rilis data pekerjaan Australia
  • Jum’at 19 Mei 2023 : Rilis data inflasi Jepang, Pidato Gubernur The Fed Jerome Powell, Pertemuan G7

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan ketidakpastian terkait masalah plafon utang AS yang berisiko gagal bayar (default), apabila pemerintah dan kongres AS gagal menemukan solusi sebelum 1 Juni mendatang, serta kekhawatiran krisis perbankan di AS yang kembali meningkat, masih akan mewarnai pergerakan IHSG di pekan ini. IHSG terlihat bergerak downtrend setelah breakdown dari support last low di 6.735. Apabila gagal kembali ke atas level tersebut, maka waspadai potensi penurunan lebih lanjut.

Untuk itu tetap disarankan safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya dengan baik.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/