Dibayangi Ancaman Gagal Bayar Utang AS, Bagaimana Pergerakan IHSG Pekan Ini?

Bursa Wall Street menutup perdagangan akhir pekan di zona merah, setelah negosiasi plafon utang AS di Washington dihentikan. Hal ini merusak optimisme bahwa kesepakatan dapat dicapai dalam beberapa hari ke depan untuk menghindari default. Bursa saham AS sebenarnya sudah menguat selama dua hari terakhir karena meningkatnya kepercayaan kesepakatan untuk menaikkan batas utang US$ 31,4 triliun dapat dicapai dalam beberapa hari mendatang. Tetapi penguatan berhenti dan berbalik arah setelah muncul laporan bahwa pembahasan tentang plafon utang tersebut terhenti. Menambah sentimen negatif, pernyataan ketua The Fed Jerome Powell yang berbicara dalam sebuah panel, mengatakan masih belum jelas apakah kenaikan suku bunga tambahan diperlukan karena bank sentral mempertimbangkan dampak kenaikan di masa lalu, sehingga membuat prospek kebijakan suku bunga The Fed tetap tidak pasti. Dow Jones ditutup turun 109,28 poin (-0,33%) menjadi 33.426,63, S&P 500 melemah 6,07 poin (-0,14%) ke level 4.191,98 dan Nasdaq berkurang 30,94 poin (-0,24%) menjadi 12.657,90. Untuk sepanjang pekan, ketiga indeks bursa saham utama AS berhasil ditutup menguat, dengan Dow Jones mengalami kenaikan +0,38%, S&P 500 menguat +1,65% dan Nasdaq melesat +3,04%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup naik 37,447 poin (+0,56%) ke level 6.700,561 pada perdagangan akhir pekan. Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 1,12 triliun di pasar regular, dan nilai tukar rupiah ditutup dikisaran level Rp. 14.936/USD di akhir pekan. Dalam sepekan, IHSG berakhir melemah tipis sebesar -0,11%, meski investor asing membukukan net buy senilai Rp. 400 miliar di pasar regular selama seminggu.

Pasar saham Indonesia terlihat cenderung bergerak volatile sepanjang pekan, karena sentimen global yang sejatinya belum membaik dan turut membebani IHSG. Faktor yang mempengaruhi penurunan pergerakan IHSG dalam seminggu terakhir adalah dinamika masalah debt ceiling di AS. Ancaman gagal bayar utang AS pada 1 Juni 2023 jika tidak terjadi kesepakatan, bisa berdampak buruk pada kondisi pasar keuangan global. Sementara dari domestik sentimen negatif terkait dengan perlambatan pertumbuhan ekspor maupun impor Indonesia, serta turunnya harga komoditas dunia akibat adanya faktor pelemahan permintaan turut mempengaruhi performa IHSG.

Secara teknikal, IHSG terlihat melakukan rebound di akhir pekan dan ditutup kembali diatas level psikologis 6.700. Apabila kenaikan berlanjut dan mampu melewati 6.735, maka IHSG berpeluang naik menuju resistance last high di 6.820 hingga garis EMA 200 hariannya di level 6.843. Namun selama belum mampu melewati 6.735, maka IHSG masih mengkonfirmasi terbentuknya pola head & shoulder pattern, sehingga secara teoritis IHSG berpeluang turun menuju target dikisaran 6.500-6.557, dengan minor target di last low 6.656. Indikator teknikal MACD yang terlihat masih bergerak turun di bawah centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih cenderung bergerak melemah dalam momentum negatif.

Untuk minggu ini pelaku pasar akan mencermati RDG Bank Indonesia pada hari kamis yang diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga tetap di level 5,75%. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di pekan ini antara lain adalah :

  • Rabu 24 Mei 2023 : Rilis data inflasi Inggris, Meeting The Fed
  • Jum’at 26 Mei 2023 : Rilis data penjualan ritel Inggris, Rilis data durable goods orders dan data inflasi produsen (PPI) AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Pergerakan IHSG pekan ini masih akan dipengaruhi sentimen ekternal utamanya dari ancaman gagal bayar utang AS. Karena jika sampai tanggal 1 Juni 2023 pemerintah dan Kongres AS tidak mencapai kesepakatan tentang anggaran AS, bisa berdampak buruk pada kondisi pasar keuangan global. Dinamika debt ceiling di AS yang mendekati batas waktu akan mempengaruhi pergerakan pasar saham global di pekan ini. Selain itu pergerakan IHSG juga akan dipengaruhi oleh harga komoditas dunia yang cenderung melemah. Turunnya harga komoditas dunia mempengaruhi performa IHSG yang selama ini diuntungkan oleh faktor windfall profit effect dari commodity boom prices.

Untuk itu tetap disarankan safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya dengan baik.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/