IHSG Terjebak Dalam Fase Konsolidasi Pendek Di Rentang 7.300-7.400. Bagaimana Arah Pergerakan Selanjutnya?

Consolidate Word Combining Companies Consolidation Organization

Bursa Wall Street ditutup bervariatif pada perdagangan akhir pekan, dengan indeks Dow Jones melemah dan S&P 500 mengalami sedikit penurunan, karena saham-saham di sektor diskresi konsumen mengalami pelemahan. Sedangkan Nasdaq ditutup lebih tinggi bersamaan dengan kenaikan pada indeks semikonduktor. Keputusan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah, sambil mengisyaratkan kemungkinan penurunan tiga kali pada tahun ini, memberikan dampak positif pada pasar saham di perdagangan pekan lalu. Dow Jones ditutup turun sebanyak 305,47 poin (-0,77%) menjadi 39.475,90, S&P 500 kehilangan 7,35 poin (-0,14%) menjadi 5.234,18, sedangkan Nasdaq mengalami kenaikan sebesar 26,98 poin (+0,16%) ke level 16.428,82. Dalam sepekan ketiga indeks bursa saham utama AS berhasil menguat, dengan Dow Jones naik +1,97%, S&P 500 meningkat +2,29% dan Nasdaq melesat +2,85%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup menguat 11,798 poin (+0,16%) ke level 7.350,152 pada perdagangan akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 138 milyar di pasar regular, dan nilai tukar rupiah ditutup dikisaran level Rp. 15.811/USD pada akhir pekan. Sepanjang pekan lalu IHSG berhasil ditutup menguat sebesar +0,3%, dengan diikuti oleh net buy investor asing di pasar regular senilai Rp. 1,064 triliun selama seminggu.

Pasar saham Indonesia berhasil rebound dan mengalami peningkatan pada pekan lalu setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah di level 5,25-5,5%, namun mengisyaratkan masih berada di jalur penurunan suku bunga sebanyak tiga kali alias 75 basis poin (bps) pada tahun ini. Selain itu The Fed juga merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi AS menjadi 2,1% di tahun 2024, dari 1,4% di bulan Desember 2023. Sementara dari dalam negeri, keputusan BI yang menahan suku bunga acuan tetap di level 6% dan keputusan KPU yang telah menetapkan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka secara resmi menjadi presiden dan wakil presiden RI terpilih dalam Pemilu 2024 di respon positif oleh market karena menghilangkan ketidakpastian politik.

Secara teknikal IHSG terlihat bergerak mixed dalam rentang lebih terbatas dikisaran 7.300 hingga 7.400, di dalam uptrend channelnya. Apabila turun di bawah 7.300/7.295, maka uptrend channel indeks akan patah dan IHSG berpeluang bergerak turun menuju support dikisaran 7.238, dengan support selanjutnya di 7.099. Sebaliknya jika mampu naik dan break last high di 7.396/7.400, maka IHSG akan menuju level all time high (ATH) di 7.454. Penembusan ke atas level ATH tersebut, maka IHSG berpeluang melanjutkan uptrendnya dengan target selanjutnya menuju level 7.491 hingga 7.550. Indikator teknikal MACD cenderung bergerak mendatar dan volume transaksi yang menurun, mengindikasikan bahwa IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi jangka pendek.

Minggu ini tidak ada data ekonomi penting yang akan dirilis dari dalam negeri selain kinerja laporan keuangan emiten full year 2023 yang belum keluar. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di minggu ini antara lain adalah :

  • Senin 25 Maret 2024 : Kebijakan moneter BOJ Jepang
  • Selasa 126 Maret 2024 : Rilis data durable goods orders AS
  • Rabu 27 Maret 2024 : Rilis data persediaan minyak AS
  • Kamis 28 Maret 2024 : Rilis data GDP Inggris, Rilis data GDP dan klaim pengangguran AS
  • Jum’at 29 Maret 2024 : Rilis data inflasi PCE AS, Pidato Ketua Fed Powell

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. IHSG terlihat mulai terjebak dalam fase konsolidasi pendek di rentang 7.300 hingga 7.400. Pergerakan IHSG pekan ini akan dipengaruhi oleh rilis laporan kinerja keuangan emiten full year 2023 yang belum keluar mendekati batas waktu akhir bulan Maret, serta pergerakan nilai tukar rupiah dan harga komoditas dunia. Sementara dari luar negeri, pelaku pasar akan mencermati rilis indeks PCE AS yang merupakan pengukur inflasi yang lebih disukai oleh Fed, serta pidato ketua Fed Jerome Powell di akhir pekan.

Tetap disarankan untuk safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya dengan baik.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*