Gagal Bertahan Diatas Level 6.900, IHSG Masih Lanjut Downtrend?

Bursa Wall Street terkoreksi tipis pada perdagangan akhir pekan, setelah data pekerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve mungkin akan butuh waktu lebih lama untuk menurunkan suku bunga dibanding perkiraan sebelumnya. Data yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa perekonomian AS menghasilkan sekitar 272.000 pekerjaan pada bulan Mei, jauh lebih banyak dari perkiraan para analis yang sebesar 185.000. Sementara tingkat pengangguran naik tipis menjadi 4%. Imbal hasil Treasury AS naik segera setelah laporan tersebut, karena para pedagang memangkas taruhan pada penurunan suku bunga di bulan September. Dow Jones turun 87,18 poin (-0,22%) ke level 38,798.99, S&P 500 melemah 5,97 poin (-0,11%) ke posisi 5,346.99 dan Nasdaq berkurang 39,99 poin (-0,23%) menjadi 17,133.13. Meski melemah di akhir pekan, namun sepanjang pekan, ketiga indeks saham utama AS berhasil membukukan kenaikan dengan Dow Jones menguat +0,29%, S&P 500 meningkat +1,32%, dan Nasdaq melonjak +2,38%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG ditutup turun 76,947 poin (-1,1%) ke level 6.897,95 pada perdagangan akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 991 milyar di pasar regular dan nilai tukar rupiah ditutup dikisaran level Rp. 16.277/USD di akhir pekan. Sepanjang minggu lalu IHSG melemah sebesar -1,04%, dengan diikuti net sell investor asing di pasar regular senilai Rp. 1,705 triliun selama seminggu.

Pasar saham Indonesia melanjutkan pelemahan menjadi pekan ketiga berturut-turut, disebabkan oleh pelemahan yang terjadi pada saham-saham emiten grup Prajogo Pengestu setelah saham BREN batal bergabung ke dalam FTSE Global Equity Index karena ditempatkan pada papan pemantauan khusus dan diperdagangkan dengan mekanisme Full Call Auction (FCA). Di sisi lain, turunnya harga komoditas logam pada pekan lalu, membuat anjlok kinerja saham-saham komoditi yang turun tajam dan menjadi beban bagi IHSG. Adapun dari sisi global, sentimen tertuju pada dinamika The Fed seiring perilisan data ekonomi AS yang dapat mempengaruhi pendangan bank sentral tersebut ke depan.

Secara teknikal, sesuai analisa pekan sebelumnya, IHSG terlihat jeblok dan melanjutkan tren pelemahannya setelah membentuk lower low dan gagal kembali ke atas garis MA 200 day, serta turun di bawah 7.014 lagi. IHSG terlihat turun di bawah level psikologis 6.900, sehingga mengindikasikan berlanjutnya tren pelemahan. Selama masih di bawah garis MA 200 day di 7.086, maka IHSG berpeluang melanjutkan tren pelemahannya menuju target terdekat di 6.745, dengan target selanjutnya di 6.643 dan 6.570. Sebaliknya apabila mampu rebound dan bergerak menguat, maka IHSG berpeluang menguji resistance level 7.014,dan resistance selanjutnya di garis MA 200 day di level 7.086 hingga last high di 7.149. Indikator teknikal MACD yang bergerak turun di bawah centreline mengindikasikan IHSG sedang bergerak dalam momentum negatif.

Untuk minggu ini pelaku pasar mencermati rilis data penjualan ritel pada hari selasa, dan indeks keyakinan konsumen pada hari rabu.  Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari investor di minggu ini antara lain adalah :

  • Senin 10 Juni 2024 : Rilis data GDP Jepang
  • Selasa 11 Juni 2024 : Rilis data pekerjaan Inggris
  • Rabu 12 Juni 2024 : Rilis data inflasi China, Rilis data GDP Inggris, Rilis data inflasi AS, Kebijakan suku bunga dan koenferensi pers The Fed
  • Kamis 13 Juni 2024 : Rilis data pekerjaan Australia, Pernyataan Gubernur BOC Makclem, Rilis data indeks harga produsen dan klaim pengangguran AS
  • Jumat 14 Juni 2024 : Kebijakan suku bunga Jepang, Rilis data sentimen Konsumen AS

Sementara ini dulu yang bisa saya sampaikan dalam weekly strategic analysis pada pekan ini. Pasar saham Indonesia terlihat masih melanjutkan downtrend dan diperkirakan koreksi akan berlanjut di awal pekan ini, setelah data lapangan kerja AS bulan Mei melonjak di atas perkiraan pada akhir pekan kemaren. Kondisi ini menurunkan ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed di bulan September nanti. Rilis data inflasi AS yang akan keluar pada tengah pekan ini akan menjadi perhatian khusus dari investor, disamping pernyataan The Fed dalam konferensi pers setelah memutuskan kebijakan moneternya. Pasar memperkirakan The Fed masih akan menahan suku bunga acuan tetap tidak berubah dalam pertemuan FOMC di pekan ini.

Untuk itu tetap disarankan safe trading dan selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat. Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki fundamental bagus dan dan kinerja keuangan yang kuat, serta prospek yang cerah kedepan. Atur strategi pembelian dan money manajemennya dengan baik.

Mengenai saham-saham apa saja yang menarik untuk di tradingkan dalam jangka pendek atau saham-saham apa yang dapat diakumulasi untuk menjadi investasi jika terjadi koreksi, akan diulas secara khusus di area member premium. Diperlukan pengalaman, keahlian dan strategi khusus dalam melakukan analisa, baik teknikal maupun fundamental untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk masuk ataupun keluar dari posisi trading ataupun investasi. Bagi anda yang berminat untuk memperoleh ulasan market outlook, arahan dan ide trading/investasi, serta ingin bergabung ke dalam group kami dengan menjadi member premium dari Step-trader.com, dapat melihat info lengkapnya pada bagian MEMBER REGISTRATION diatas.

Safe Trading, Good Luck & GBU Always

Ingin bergabung menjadi member premium kami dapat melihatnya infonya disini: http://step-trader.com/member-area/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*